
Mereka sama-sama memandang ke arah langit-langit kamar Nenek, yang tidak memakai plafon. Ketika memandang ke arah atas, mereka langsung bisa melihat bambu-bambu yang digunakan untuk menyanggah genteng.
Rian mengalah pada Alya, dengan tidur di lantai. Tidak ada sofa di kamar mereka. Jika Rian tidur di luar kamar mereka, Nenek akan bingung ketika ia melihatnya di pagi hari.
Jadi, Rian hanya memakai alas kain yang tipis, dan juga bantal untuk menyanggah kepalanya.
Alya mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi ia seakan tidak bisa memejamkannya. Ia tidak terbiasa tidur sendirian seperti ini. Sebelumnya di apartemen, Dion selalu tidur di sebelahnya, meskipun mereka tidak melakukan apa pun. Walaupun tidak jarang Dion hendak mencium atau memeluk Alya, tetapi Alya sama sekali tidak ingin disentuh olehnya ketika ia tidur.
Sejauh yang Alya tahu, mereka tidak pernah melakukan apa pun. Entah ketika ia tertidur pulas, entah apa yang Dion lakukan padanya, itu di luar kuasa Alya.
‘Gak biasa tidur gak ditemenin. Biasanya Dion yang nemenin di sebelah, tapi sekarang ini enggak ada,’ batin Alya, yang baru kali ini tidur seorang diri seperti ini.
Setelah ibu dan ayahnya meninggal, Alya dititipkan di panti asuhan oleh keempat istri lainnya dari ayahnya. Alya masih bisa ditemani tidur oleh teman-temannya di panti. Setelah keluar dari panti asuhan tersebut, Alya selalu minta Dion untuk menemani tidurnya. Ini kali pertamanya Alya tidur seorang diri.
‘Kalau begini mana bisa tidur?’ batin Alya, yang merasa bingung dengan keadaannya.
Walaupun ia tidak bisa tidur, ia berusaha untuk memejamkan matanya agar bisa hilang kesadaran dan tidur.
Sementara itu Rian juga tidak bisa tidur. Ia bingung karena matanya yang selalu terbuka, karena tidak biasa tidur bersama dengan seseorang di sebuah ruangan, apalagi bersama seorang wanita.
‘Ya ampun kalau begini terus mah mungkin gue gak akan bisa tidur sampai besok!’ batin Rian yang tidak biasa tidur bersama dengan wanita.
‘Ngomong-ngomong Alya udah tidur belum?’ batinnya, yang lalu segera menoleh ke arah Alya yang ternyata sudah memejamkan matanya.
Rian berpikir bahwa Alya sudah lebih dulu tidur darinya. Ia merasa aneh sendiri, padahal ia sama sekali tidak melakukan apa pun bersama Alya. Rian pun kembali memandang ke arah langit-langit kamarnya.
__ADS_1
‘Dia udah tidur ternyata. Ya udah, gue juga nyoba merem aja deh,’ batinnya, yang lalu berusaha memejamkan matanya.
Karena Alya yang sudah memejamkan matanya dan sama sekali tidak bisa tertidur pulas, ia merasa sangat lelah. Ia kembali membuka matanya, karena matanya yang sudah terlalu tegang ia pejamkan.
‘Beneran gak bisa tidur, lho! Gimana, nih?’ batin Alya, yang benar-benar tidak bisa tertidur pulas.
Alya teringat dengan Rian, yang mungkin saja belum tertidur. Ia menoleh ke arah Rian, tetapi mendapati Rian yang sudah memejamkan matanya.
‘Yah ... Rian udah tidur, pengen ngobrol sebelum tidur biar cepet ngantuk,’ batin Alya yang merasa sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Mereka sama-sama tidak bisa tidur, tetapi sama-sama tidak mengetahui tentang itu.
Rian tiba-tiba saja membuka matanya dan menoleh ke arah Alya. Pandangan mereka mendadak bertemu satu sama lain, sontak membuat keduanya mendelik kaget melihatnya.
“Siapa yang ngeliat ke arah lo?” bantah Rian, yang sama sekali tidak mengakui kesalahannya. “Lo kali tuh yang dari tadi ngeliatin ke arah gue. Masa gue buka mata, udah ada lo yang ngeliatin gue!” tuduhnya balik, Alya tak terima mendengar tuduhan itu, dan merasa gengsi mengakuinya.
“Idih, amit-amit gue ngeliatin sesama cewek!” ujarnya, sontak membuat Rian semakin mendelikkan matanya.
“Eh, gini-gini gue cowok tulen, ya! Penampilan gue aja yang kayak cewek, tapi aslinya gue cowok! Nama gue tuh Rian, kalau malem aja jadi berubah nama jadi Rina!” bentak Rian, sontak membuat Alya tertawa mendengar perkataan dan penjelasan Rian padanya.
Saking lucunya mendengar perubahan nama Rian di malam hari, Alya sampai tidak bisa berhenti tertawa. Perkataan dan penjelasan Rian tentang namanya, selalu terngiang di telinga Alya. Hal itu membuat Rian merasa malas, karena Alya yang terlalu men-judge dirinya yang merupakan seorang waria.
“Bisa berenti ketawa, gak?” tanya Rian dengan nada malas, tetapi Alya masih saja tertawa mengingatnya.
Melihat Alya yang masih tertawa saja, Rian merasa sangat jengkel. Ia merasa tidak dihargai, ketika ia berbicara dan meminta Alya untuk berhenti dari tawanya yang menjengkelkan itu.
__ADS_1
“Gue cowok tulen!” ujar Rian, yang masih saja ditertawakan oleh Alya.
Karena merasa sudah kesal, Rian segera bangkit dari lantai dan langsung menumpukan tubuhnya pada kedua lengan tangannya. Posisinya kini berada di hadapan Alya, sontak membuat Alya yang tertawa seketika terhenti sembari mendelikkan matanya.
DEG!
Detak jantung Alya seakan berdegup dengan sangat kencang. Ia merasa terkejut, karena Rian yang kini berada 5 cm sangat dekat di hadapannya.
GLEK!
Tak sadar, Alya yang terkejut sampai menelan salivanya. Pandangan mereka terkunci satu sama lain, membuat Alya merasa sangat bingung harus berbuat apa saat ini.
‘OMG! Ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba di depan gue begini? Kenapa gue jadi takut begini?!’ batin Alya yang tak habis pikir harus melakukan apa setelah ini.
Rian memandangnya dengan sinis dan dalam, “Gue udah bilang, walaupun penampilan gue di malam hari jadi seperti Rina, tapi aslinya gue itu Rian dan gue cowok tulen!” ujarnya, sontak membuat Alya membeku mendengar ucapannya itu.
Kesadarannya kembali dalam beberapa detik terakhir. Ia lantas menjerit lirih, sembari mendorong dada Rian untuk menjauhinya.
“Pergi, jangan deket-deket gue!” bentak Alya sembari mendorong tubuh Rian, kemudian segera bangkit duduk di pinggir ranjangnya.
Rian memandangnya dengan bingung, karena kesadaran Rian yang beberapa detik terakhir akhirnya kembali. Ia bingung dengan apa yang ia lakukan, karena ia tidak biasa melakukan hal itu terhadap wanita mana pun. Ia jadi merasa aneh, karena sudah berhasil menghilangkan rasa takutnya, untuk melakukan hal tersebut kepada orang lain, terlebih lagi orang lain itu adalah seorang wanita.
‘Gue kenapa? Kenapa bisa dapet kekuatan begini? Sebelumnya emang gue takut sama siapa pun, tapi kenapa malah berani sama Alya yang keliatannya galak?’ batin Rian yang merasa aneh dengan perasaannya sendiri.
Mereka sama-sama memandang satu sama lain dengan tatapan yang sinis dan dengan perasaan yang bingung. Setelah beberapa saat teringat kembali dengan keadaan, mereka saling membuang pandangan mereka, dan mengelus dada mereka masing-masing karena takut dengan keadaan yang mereka hadapi ini.
__ADS_1