
Setelah beberapa saat, batuk yang dialami Rian pun hilang. Dadanya berangsur pulih, dan tidak merasakan tersedak lagi.
Rian melotot dan memandang ke arah Alya, “Apa maksud lo nanya gue punya suami atau enggak?!” pekiknya kesal, membuat Alya bingung harus menjawab apa.
“Ya ‘kan lo waria, otomatis lo suka sama cowok, dong!” ujar Alya tanpa dosa, membuat Rian menjadi benar-benar kesal karenanya.
Rian memandang sinis ke arah Alya, ‘Dia beneran nganggap gue waria?’ batinnya yang merasa sangat heran dengan Alya yang benar-benar menganggapnya seperti itu.
Hilang sudah selera makan Rian, karena pertanyaan Alya yang tidak masuk akal seperti itu. Namun, ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi, karena ia merasa tidak ada yang perlu untuk dibicarakan dengan wanita ini.
Walaupun sudah hilang selera makan, Rian masih tetap memakan makanan yang ada di hadapannya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan makanan yang ada, karena belum tentu ia bisa bertemu lagi dengan makanan di hari esok, sama seperti hari ini. Rian memakannya dengan lahap, sampai tak sadar dengan cepat menghabiskan makanan yang ada di dalam piring itu.
Alya melihatnya sembari mendelik tak percaya. Rian melakukannya dengan sangat cepat, sampai tak ada lagi makanan tersisa di dalam piringnya itu.
“Buset, lo makan cepet banget! Napas apa napas!” gumam Alya, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Rian.
Rian mengambil minuman yang ada di hadapannya. Karena ia merasa kurang, ia menuangkan airnya kembali dari teko yang berada tak jauh dari hadapannya. Setelah gelas terisi penuh dengan air, Rian segera menenggaknya dengan cepat, sampai tak tersisa satu tetes pun.
Hal itu membuat Alya semakin tidak percaya dengan apa yang Rian lakukan.
“Weh, kalau makan minum tuh napas dulu! Jangan langsung bleg ... bleg ....” Alya menasihatinya dengan gayanya yang kritis.
Rian memandangnya dengan tajam, “Kalau gue makan sambil napas, yang ada keselek nanti! Udara dan makanan harus gantian masuk ke dalam kerongkongan, biar saluran pernapasan dan pencernaannya bisa gentian buka tutup gerbang!” ujarnya, membuat Alya memandangnya dengan datar.
“Emangnya sekolah ada gerbang segala!” gerutu Alya, yang sama sekali tidak dihiraukan Rian.
__ADS_1
Karena melihat nasinya yang masih utuh dan belum tersentuh, Alya pun menyodorkannya ke meja Rian, membuat Rian bingung melihatnya.
“Kenapa, nih? Lo gak doyan sama makanannya?” tanya Rian bingung.
“Bukan gitu. Gue liat lo makan lahap banget. Kalau lo kurang, makan lagi aja. Nanti gue bisa pesen pizza,” ucap Alya, yang membuat pandangan mata Rian semakin memandangnya bingung saja.
“Pesen pizza di mana? Ini tuh plosok! Lo gak akan nemuin yang jual pizza di sekitar sini!”
Alya merasa tidak percaya dengan apa yang Rian katakan, “Ah! Sepelosok apa sih, sampe resto pizza aja gak ada di sini?” tanyanya kesal dengan keadaan.
Rian memandangnya dengan pandangan yang menyeleneh, “Sepelosok apa? Bahkan signal di sini pun cuma ada di atas gunung deket tower!” ujarnya dengan tegas, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.
“Ah, yang bener aja? Masa iya sih gak ada signal sama sekali?!” bantah Alya dengan nada yang sangat tidak percaya mendengarnya.
Rian memandangnya dengan tatapan aneh, “Yang bilang gak ada sama sekali tuh siapa? Gue bilang, di sini signal cuma ada di atas gunung! Itu pun karena deket sama tower! Lo pasti greget, karena di sini internet pasti muter-muter aja, karena jarang dapet signal kalau di kaki gunung!” ucap Rian, menyanggah bantahan sinis Alya.
‘Emang bener, ya! Jiwa wanitanya udah melekat di dirinya dia! Dia gak mau kalah sama cewek, walaupun dia bukan cewek tulen!’ batin Alya, yang memandangnya dengan pandangan yang sangat julid dan tajam.
Rian merasa tersinggung dengan pandangannya itu, “Apa lo liat-liat gue kayak gitu?!” tanya sinis Rian, membuat Alya tak bisa menerimanya.
“Eh, siapa yang ngeliatin lo? Gue dari tadi biasa aja, tuh! Gak ada pandangan yang spesial ke lo!” bantah Alya, Rian hanya bisa diam sembari memandangi wajah Alya yang sudah lusuh, akibat make up yang luntur terkena air hujan semalam.
‘Dih, dia kok gak malu, ya? Kenapa make up luntur tapi dia biasa-biasa aja? Dia cewek bukan, sih?’ batin Rian, yang memandang Alya dengan tatapan yang sangat dalam.
Alya merasa sama tersinggungnya dengan Rian, dan ia sama sekali tidak mau diperhatikan seperti itu oleh Rian.
__ADS_1
“Eh, ngapain si lo ngeliatin gue begitu?!” bentak Alya, Rian hanya bisa diam mendengarnya. Alya mendelik karena ia mengetahui satu hal, “Ah, apa jangan-jangan, lo mikir yang aneh-aneh tentang gue, ya? Gue tau gue itu cantik, tapi gue gak suka dilecehin gini, ya!” bidik Alya, memfitnah Rian seenaknya saja.
Rian tak terima mendengar ucapan Alya yang seperti itu. Ia semakin memandang Alya dengan sinis, karena ia merasa tidak melakukan apa yang Alya tuduhkan padanya.
“Dih, apa sih? Siapa yang ngelecehin lo coba? Lagian kalaupun gue ngelecehin lo, itu sah sah aja sekarang! Gue ini sekarang udah jadi suami lo!”
DEG!
Mendengar ucapan Rian, sontak membuat Alya teringat kembali dengan statusnya yang baru saja menjadi istri dari Rian. Hal itu karena keterpaksaan, yang membuatnya sekarang menyandang status sebagai istri daripada seorang waria.
‘Gue istri waria?!’ batin Alya, yang tidak bisa menerima dengan hal itu.
Alya mendadak menunduk dengan suram, karena ia merasa sangat bingung harus berbuat apa. Ia tidak bisa menerima status ini. Bagi Alya, tak ada Rian sama sekali di hatinya. Walaupun ia juga tidak ingin kembali lagi dengan Dion, tetapi ia juga tidak ingin menerima Rian di hatinya. Apalagi menerima sebagai suaminya.
“Gak, gue gak mau jadi istri lo!” bentak Alya, membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.
Semua orang yang ada di sekitar mereka, lantas memandang ke arah mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Mereka sangat memperhatikan Alya dan juga Rian, karena ucapan Alya yang terlalu besar, sehingga membuat semua orang sampai menoleh ke arahnya dengan rasa penasaran.
“Kenapa, tuh?”
“Gak tau?”
Mereka bertanya-tanya, sembari memandang penasaran ke arah Alya dan juga Rian. Karena merasa tak enak dengan keadaan, Rian pun menarik tangan Alya, untuk pergi dari kerumunan tersebut.
“Ayo, ikut gue! Jangan di sini ngobrolnya!” bisik Rian, sembari menarik saja lengan Alya tanpa menunggu persetujuan darinya.
__ADS_1
Karena Alya juga merasa malu dengan mereka, Alya tidak bisa berbuat apa pun, selain mengikuti ke mana Rian membawanya.