Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Sebelum Tragedi Bianglala


__ADS_3

Rian tertawa di hadapan Alya, membuat Alya semakin kesal saja dengannya.


“Udah, katanya mau naik bianglala?” tanya Rian lagi memastikan, Alya seketika mengalihkan fokusnya ke arah bianglala yang ada di hadapannya.


“Iya, gue mau naik bianglala,” gumam Alya, sembari memandang ke arah bianglala tersebut.


Rian menghela napasnya dengan panjang, “Oke, gue beli dulu tiketnya. Kebetulan masih ada uang sisa mahar kemarin,” ucap Rian, yang lalu segera pergi meninggalkan Alya di sana.


Alya merasa bingung, karena Rian yang memang tidak memiliki penghasilan. Ia merenung, dengan keadaan Rian saat ini.


‘Rian gak punya penghasilan, tapi kok masih mau beliin sarapan pagi tadi, terus sekarang mau belin gue tiket buat naik bianglala?’ batin Alya, yang merenungkan tentang hal itu.


Sementara itu, gadis dan pasangannya yang melihat Rian tadi, berhenti jauh dari hadapan Alya. Ia merasa sangat kesal, karena ternyata yang ia lihat benar Rian dan juga seorang gadis yang sama sekali tidak ia ketahui itu.


“Ternyata bener Rian!” ujarnya, sontak membuat pasangannya mendelik kaget mendengarnya.


“Kenapa dia bisa ada di sini lagi? Bukannya dia udah lama pindah ke kampung sebelah buat jadi waria?” tanya lelaki bernama Bram itu, mendelik tak percaya melihat sosok Rian yang kembali ke kampungnya tersebut.


Gadis yang bersama Bram yang bernama Syara itu menggelengkan kepalanya, karena ia juga tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan Bram tersebut.


“Aku juga gak tau kenapa!” ujar Syara, membuat Bram menghela napasnya dengan panjang.


“Ya udah, kita pergi aja dari sini!” ajak Bram sembari menarik tangan Syara, tetapi Syara menahan tangannya saking tidak mau pergi dari sana.


“Tunggu dulu! Udah lama gak ketemu Rian, masa gak mau nge-bully dia lagi?” ujar Syara, membuat Bram menggelengkan kepalanya karena merasa tidak ingin kejadian lama terulang kembali.


“Udah, deh! Gak usah macem-macem! Kamu mau kejadian itu keulang lagi?” tanyanya, tetapi Syara sama sekali tidak menggubris ucapan Bram.

__ADS_1


“Ah, persetan dengan kejadian itu! Ayo ke sana! Kita gangguin cewek yang Rian ajak itu!” bantah Syara, yang sama sekali tidak takut dengan kejadian yang menimpa mereka waktu itu.


Dengan langkah yang jenjang, Syara dan Bram akhirnya datang ke hadapan Alya. Di sana, Syara sengaja sekali menabrak bahu Alya, sampai membuat gelang yang ada di tangannya terlepas ke bawah rerumputan.


Bisa dibayangkan betapa kerasnya Syara menabrak Alya.


Alya menahan sakitnya, karena fokusnya yang tertuju pada gelang tali emas pemberian Ibunya yang terjatuh ke atas rerumputan lapangan.


“Yah ... gelang gue!” pekik Alya, yang merasa sangat kaget melihat gelang pemberian Ibunya yang rusak karena tabrakan yang cukup keras dari gadis yang ada di hadapannya itu.


Alya segera mengambil gelang tersebut, dan memperhatikan dengan sangat teliti setiap sudut dari gelang emas berbentuk tali tersebut.


Matanya mendelik tak percaya, karena gelang satu-satunya pemberian ibunya telah rusak karena tabrakan yang cukup hebat itu.


“Gelang gue!!” pekiknya yang tak terima dengan apa yang gadis itu lakukan padanya.


Alya mendelik kesal mendengar ucapannya, ditambah lagi dengan dirinya yang sudah membuat rusak gelang yang diberikan oleh ibunya.


“Heh, lo cewek gila! Ngapain lo nabrak-nabrak gue?! Liat nih, gelang gue sampe rusak gara-gara badan bau lo yang nabrak gue!” bentak Alya dengan kasar, sontak membuat Syara mendelik tak terima mendengar ocehan Alya padanya.


“Lo tuh yang cewek gila! Ngata-ngatain gue kayak gak pernah disekolahin mulutnya!” bentak balik Syara, membuat Alya merasa sangat kesal dengan kata-katanya yang sangat tidak kreatif dengan mengikutinya.


“Gak kreatif, lo! Lagian gue gak sekolah gimana? Gue lulusan terbaik S1 jurusan seni di kampus gue! Lo tuh yang cuma cewek kampung!” bentak Alya, yang tidak ingin kalah dari omongan sampah gadis bernama Syara itu.


Bram menarik tangan Syara, “Udah, gak usah dilanjut! Ayo pergi!” bentaknya, yang tidak ingin membuat keributan dengan gadis urakan seperti Alya.


Alya mendelik kaget melihat Syara ditarik pergi oleh Bram, “Eh lo jangan kabur! Benerin dulu gelang gue! Jangan lari dari masalah lo cewek gila!” bentaknya, membuat Syara tak terima mendengarnya.

__ADS_1


“Mana gue tau? Gue cuma nyenggol lo doang! Siapa tau gelangnya emang udah sepuh, jadi kesenggol dikit langsung ancur! Gelang murahan begitu juga, ngapain pake dibenerin?!” bentak Syara, sontak membuat Alya semakin naik pitam mendengarnya.


Alya sangat tidak terima, ketika gelang satu-satunya pemberian dari ibunya dihina seperti itu. Ia berpikir, dengan secara tidak langsung gadis ini sudah menghina mendiang ibunya yang sudah tiada.


Tangannya menunjuk kasar ke arah Syara, “Lo bilang apa tadi? Gelang sepuh?! Sangkutan gelang ini pun cukup buat ngebeli mulut sampah lo yang bau busuk!” bentak Alya, yang sudah benar-benar tidak terima mendengar penghinaan tentang gelang pemberian ibunya itu.


Tak hanya Alya, Syara pun rupanya naik darah mendengar setiap perkataan Alya yang sangat kasar padanya. Ia merasa sangat kesal, lalu hendak menarik tangan Alya untuk mengajaknya bergelud.


“Sini gelud sama gue!” ujar Syara kasar, membuat Alya merasa tertantang mendengar perkataan Syara yang seperti itu.


“Hayo! Emang lo pikir gue takut, hah? Gini-gini gue pegang sabuk karate warna hijau di perguruan gue yang dulu!” ujar Alya yang sedikit menyombongkan diri atas kemampuan beladirinya itu.


Mereka saling tarik dan sikut, membuat Alya dan Syara sama-sama terkena pukulan dan tendangan mereka. Walaupun Bram sudah memisahkan mereka, tetapi mereka tetap pada posisinya untuk saling menghajar satu sama lain.


“Jangan berantem!!” teriak Bram, tak dihiraukan oleh Alya dan juga Syara.


“Sini lo!” bentak Alya, sembari melayangkan tonjokan mautnya pada wajah Syara.


Mereka malah semakin panas saja, walaupun Bram sudah berada di tengah-tengah mereka untuk menengahi mereka. Mereka ternyata masih bisa saling memukul, lewat celah kecil yang Bram tidak sadari.


Karena Alya yang sudah sangat emosi, satu pukulannya ternyata sukses mengenai pipi kiri Syara, membuat Syara merasa sangat kesakitan ketika menerima pukulan tersebut. Ia langsung oleng, dan hampir jatuh ke atas rerumputan. Beruntung Bram menahan tubuhnya, sehingga Syara tidak sampai jatuh ke atas tanah yang sedikit berlumpur itu.


“Aww muka gue! Muka gue sakit!!” teriak Syara, membuat Bram memandangnya dengan sinis.


“Udah gue bilang, jangan dilanjutin lagi!” bentak Bram memarahi Syara, tetapi Syara masih saja berfokus pada rasa sakitnya di pipinya.


Alya masih belum puas untuk menghajar Syara, ia hendak menendang ke arah Syara, untuk membalas rasa sakit hatinya tentang gelang itu.

__ADS_1


“Alya!”


__ADS_2