Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Hasrat Untuk Memilikinya


__ADS_3

Rachel memandang ke arah Rian dengan dalam, “Rian, gue mau ke ruangan gue dulu ya. Bentar lagi gue harus tag scene,” pamitnya, Rian tersenyum mendengarnya.


“Oke, sampai jumpa,” ujar Rian seadanya.


Melihat sikap Rian yang seperti itu terhadapnya, Rachel malah semakin tertantang dan semakin penasaran dengan pribadi Rian. Ia merasa harus mendapatkannya, karena Rian adalah sosok yang berhasil membuatnya penasaran.


‘Dia udah bikin gue penasaran, gue harus bisa dapetin dia!’ batin Rachel yang benar-benar berpikir untuk mendapatkan Rian.


Rachel kembali memandang dalam ke arahnya dengan tatapan yang menggoda, “Kapan-kapan ke ruangan gue, ya. Main aja, biar kita bisa banyak ngobrol,” suruh Rachel sembari mengelus-elus dada Rian, Rian menunjukkan ibu jarinya.


“Oke, jangan lupa sediain makanan dan minuman yang banyak, ya!” ujar Rian sembari tertawa mengatakannya.


Rachel tertawa mendengarnya, “Ah, bisa aja. Tenang, kalau sama gue lo gak bakalan kelaperan dan kehausan! Gue mah beda dari Alya!” ujarnya, yang terselip nada melecehkan Alya.


Dari arah sana, Alya ternyata sudah selesai mengambil scene bersama lawan mainnya. Ia tak sengaja memandang ke arah Rian dan Rachel, yang ternyata masih bercengkerama dengan mesra di sana.

__ADS_1


Matanya semakin mendelik, karena Rachel yang dengan sengaja mengelus-elus dada Rian yang cukup bidang itu.


‘Sialan ular berbisa itu! Kenapa dia berani ngelus-ngelus dada Rian?’ batin Alya, yang tidak terima melihat Rian disentuh secara fisik seperti itu oleh Rachel.


‘Awas aja lo, Yan!’ batin Alya, yang tiba-tiba sangat kesal melihatnya, entah kenapa alasannya.


Rachel meninggalkan Rian di sana dengan senyuman yang tidak luntur, sampai ia masuk ke dalam ruangannya yang tidak terlalu jauh dari sana. Setelah Rachel pergi, Alya baru mau mendekat ke arah Rian.


Rian masih saja tersenyum memandang kepergian Rachel, membuat Alya yang sudah berada di hadapannya segera memukul dadanya dengan keras.


Rian terbatuk, karena Alya yang tiba-tiba saja memukulnya itu. Ia memandang ke arah Alya, yang saat ini memandangnya dengan sinis.


“Lo kenapa, sih?” tanya Rian sinis, membuat Alya memandangnya dengan lebih sinis lagi dari sebelumnya.


“Lo yang kenapa?! Kenapa malah senyum-senyum gak jelas, ketawa bareng sama ular berbisa gitu, sampe rela dadanya dielus-elus sama si ular itu?!” bentak Alya, yang benar-benar sudah tidak menyangka dengan apa yang Rian lakukan.

__ADS_1


Rian memandangnya dengan tatapan yang menyelidik, “Lo dari tadi perhatiin ke sini?” tanyanya, membuat Alya merasa bertambah kesal mendengarnya.


“Menurut lo?!” pekik Alya, Rian terdiam sejenak mendengarnya.


“Apa lo gak rela, kalau gue ketawa-ketawa sama Rachel?” tanya Rian, sontak membuat Alya tersadar mendengarnya.


Kali ini Rian sudah bisa membaca perubahan sikap Alya terhadapnya, membuatnya sedikit yakin kalau Alya sebenarnya menaruh rasa padanya, tetapi Alya tidak bisa mengungkapkannya langsung padanya.


Alya mendelik kesal ke arah Rian, “Heeeeh ... udah ah gak jelas lo!” bentaknya, yang langsung segera masuk ke dalam ruangannya untuk beristirahat.


Rian memandang kepergiannya dengan tatapan yang bingung, “Dia kenapa, sih? Kenapa marah-marah gak jelas begitu? Orang gue nanya doang, juga!” gumamnya, yang merasa bingung dengan apa yang Alya lakukan itu.


Karena tidak tahu apa pun yang Alya pikirkan, Rian hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan langsung menyusul Alya ke dalam ruangannya, untuk membantu semua keperluannya setelah ini.


***

__ADS_1


__ADS_2