Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Senpai


__ADS_3

Mereka sudah sampai di tempat tujuan, setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit.


Alya menunjukkan arah parkir, sementara itu Rian segera mengikuti apa yang Alya perintahkan.


Berbekal pengalaman Rian menjadi seorang kernet truk di desanya, ia jadi bisa mengemudikan mobil milik Alya.


Sebelum menjadi seorang Rina, Rian memang pernah beberapa kali mencoba pekerjaan, untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun, entah mengapa pekerjaan itu semuanya tak bertahan lama, sehingga membuat Rian harus memutar otaknya, agar bisa menghasilkan uang untuk makan sehari-hari.


Rian bersyukur, karena ia pernah memiliki pengalaman menjadi kernet. Ilmu yang ia pelajari dari sopir yang mengemudikan truk tersebut, langsung ia serap dan ia pelajari dengan benar.


BRUK!


Alya menutup pintu mobilnya lumayan kencang, kemudian memandang ke arah Rian yang baru saja datang menghampirinya.


Mereka melangkah bersama, menuju ke arah lobi di ruko mewah yang sedang mereka kunjungi itu.

__ADS_1


Pandangannya ia edarkan, saking tidak pernahnya ia melihat dan masuk ke dalam bangunan semewah ini. Kehidupan Rian memang sungguh kelabu, sehingga sebuah ruko saja tidak pernah ia lihat.


Karena terlalu fokus dengan pandangannya, Rian tak menyadari ada undakan naik ke atas, untuk bisa masuk ke pelataran ruko mewah tersebut. Alya melihat langkah Rian yang asal, membuatnya segera menghentikan langkahnya dan membuat Rian juga menghentikan langkahnya.


“Stop!” ujar Alya dengan tegas dan jelas, membuat Rian segera mengalihkan pandangan dan fokusnya ke arah Alya.


Kesadaran Rian pun kembali, ketika sempat delay beberapa saat. Ia memandang bingung ke arah Alya, yang saat ini sedang memandang tajam ke arahnya.


“Awas, kaki lo!” ujar Alya memperingati Rian, sontak membuat Rian menunduk melihat ke arah kakinya.


Ternyata, Rian baru menyadari ada beberapa undakan naik, yang tidak terlihat olehnya. Jika ia melangkah satu langkah lagi, mungkin ia tidak akan bisa menahan rasa malunya di hadapan Alya, dan juga di hadapan orang lain yang melihatnya.


Saking malunya, Alya langsung saja melangkah masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapannya, membuat Rian bingung dengan sikap abstrak makhluk yang satu itu.


“Dia kenapa, sih? Aneh banget?” gumam Rian, yang memang benar-benar polos tentang hal-hal seperti ini.

__ADS_1


Rian melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


Setelah mereka masuk ke dalam ruangan, di sana ternyata masih belum banyak orang yang latihan seperti biasa. Namun, di sana sudah ada seniornya, yang sedang melakukan pemanasan sebelum melakukan kegiatannya.


Alya tersenyum senang, “Senpai!” pekik Alya dari arah sana, membuat seniornya menoleh ke arah Alya.


Alya berlarian ke arahnya dengan perasaan yang senang, karena sudah lama tidak bertemu dengannya. Namun, berbeda dengan Alya, seseorang yang dipanggil ‘Senpai’ itu, tidak begitu senang melihat kedatangan Alya.


Pasalnya, Alya datang bersama dengan seorang lelaki asing, yang sama sekali belum pernah ia lihat dan tidak ia kenal.


Alya sampai di hadapannya dengan riang, “Senpai! Udah lama kita gak ketemu!” ujarnya, membuat Senpai mengalihkan pandangannya ke arah Alya.


Senpai tersenyum, “Hai, Al! Iya ya, udah lama gak ketemu!” ujarnya, yang sangat senang mendengar Alya mengatakan hal seperti itu.


Walaupun mereka sangat senang bertemu satu sama lain, tetapi Rian sama sekali tidak senang melihat mereka yang sangat akrab seperti itu.

__ADS_1


Pandangan Rian dan Senpai bertemu, menimbulkan aura mencekam yang sangat dalam.


‘Siapa dia?’ batin mereka, sama-sama bertanya-tanya setelah melihat satu sama lain.


__ADS_2