
Kesadarannya kembali, tetapi Rian masih saja memandang ke arah Alya dengan tatapan lembut seperti itu.
Matanya sinis memandang ke arah Rian, ‘Kenapa sih, dia masih aja ngeliatin Alya? Memangnya, apa hubungan mereka? Apa mereka sudah melangkah jauh?’ batin Rachel kesal dengan Rian.
Pikirannya berusaha untuk menemukan topik pembicaraan, yang membuat Rian bisa melepaskan pandangannya dari Alya.
“Eh, udah sarapan belum?” tanya Rachel, tiba-tiba untuk mengalihkan pandangan Rian dari Alya.
Siasat Rachel berhasil, karena Rian yang saat ini memperhatikan ke arahnya.
“Ah, belum sih ... nanti gue sarapan bareng sama Alya aja, deh,” ujar Rian, lagi-lagi membuat Rachel merasa kesal mendengarnya.
‘Alya lagi aja,’ batin Rachel, yang malah menjadi kesal sendiri mendengarnya.
“Kenapa gak makan bareng sama gue aja? Gue juga punya makanan di ruangan! Banyak banget, gak ada yang makan,” tawar Rachel setengah memaksa, membuat Rian tersenyum tipis mendengarnya.
“Buat yang lain aja, Chel. Gue nanti mau makan bubur aja sama Alya,” tolak Rian, yang merasa tidak membutuhkan makanan dari Rachel.
__ADS_1
“O-okey ....”
Mereka terdiam, dengan Rian yang kembali memandang ke arah Alya. Tatapannya semakin dalam, membuat Rachel merasa bertambah kesal karenanya.
‘Gak bisa! Kenapa gue dicuekin begini? Gue harus bikin siasat untuk bikin mereka pecah!’ batin Rachel, yang segera menjalankan rencananya.
“Emm ... Yan,” panggil Rachel, Rian menoleh ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Rian.
“Gue butuh bantuan. Bisa gak, lo bantu gue?” tanya Rachel, membuat Rian memandangnya dengan tatapan bingung.
“Emm ... gue lihat Alya semakin cantik aja, ya? Lo makeup-in dia, ya? Gue juga mau dong, di-makeup kayak Alya!” ujarnya menjelaskan, Rian tersenyum mendengarnya.
“Nanti gue makeup, ya! Tunggu Alya selesai akting dulu,” ujar Rian, yang berusaha untuk menolak permintaan Rachel.
Rachel memandangnya dengan tatapan nanar, “Emm ... kenapa gak sekarang aja? Kalau nunggu Alya selesai, nanti waktu lo kesita buat dia. Nanti ... gak bisa makeup gue deh! Sekarang ‘kan, Alya lagi sibuk, jadi lo bisa sedikit bantu gue,” ujarnya, membuat Rian terdiam sejenak mendengarnya.
__ADS_1
Rian sudah bisa menduga, kalau Rachel berusaha untuk mendekatinya. Namun, orang rendahan seperti Rian, tidak mungkin menolak permintaan artis besar seperti Rachel.
‘Gak mungkin ditolak kalau begini,’ batin Rian, yang sangat sulit untuk menolaknya.
Rian memandangnya dengan senyuman. Ia memikirkan cara untuk menolak permintaan Rachel, tetapi ia sama sekali tidak bisa menemukannya. Dari perkataannya saja, Rachel terdengar seperti memaksa.
“Ya sudah, sebentar aja, ya! Gue takut, kalau Alya udah selesai, gue gak ada di sini!” ujar Rian, berusaha untuk memperingati Rachel dengan jadwalnya.
Rachel tersenyum sangat bergembira, “Yap! Gak apa-apa! Yang penting, gue mau di-makeup sama lo!” ujarnya, yang menyanggupi semua yang Rian katakan.
Rian mengangguk kecil, “Ya udah, ayo!” ujarnya, yang langsung melangkah menuju ke arah ruangan Rachel.
Melihat Rian yang sudah berjalan di hadapannya, Rachel merasa sangat senang, karena ia bisa memiliki waktu berduaan dengan Rian di ruangannya.
‘Paling enggak, gue bisa bikin Alya salah paham, dengan keadaan yang gak seharusnya dia ngerti!’ batin Rachel, sembari menyunggingkan senyumannya.
Karena sudah merasa puas dengan apa yang ia inginkan, Rachel pun segera melangkah ke arah ruangannya, menyusul langkah Rian yang jenjang itu.
__ADS_1
***