Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Tutorial Makeup


__ADS_3

Mereka sudah selesai membeli semua barang-barang yang mereka perlukan. Alya sampai mendelik kaget, karena semua barang-barang yang ia beli, harganya tidak lebih dari biaya satu kali makan siangnya.


“Gila! Ini belanja segini, harganya beneran murah banget gini? Kenapa murah, ya?” tanya Alya, sembari berjalan menuju ke arah rumah Nenek, dengan membawa plastik kresek belanjaannya di kedua tangannya.


Rian menyeringai, “Emangnya lo belum pernah belanja di pasar malam?” tanya Rian, Alya menggelengkan kepalanya. “Lha, terus ... lo sebelumnya naik bianglala pasti ke pasar malam juga, dong? Memangnya lo gak beli apa ... gitu di sana?” tanya Rian lagi.


“Enggak ... waktu itu gue naik bianglala di kota. Bukan di pasar malam, tapi tempat yang isinya ada banyak wahana gitu. Selain bianglala, ada juga roller coaster. Banyak deh pokoknya,” jawab Alya, membuat Rian mengangguk-angguk paham mendengarnya.


“Waktu itu ... lo naik bianglala sama siapa? Kayaknya, lo keliatan pengen banget naek bianglala tadi.”


Mendengar pertanyaan Rian, Alya seketika menghentikan langkahnya. Rian menjadi agak bingung, karena Alya yang menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


“Kenapa berenti?” tanya Rian, Alya terdiam sejenak membeku mendengar ucapan Rian.


“Gue ke sana sama nyokap bokap. Gue jadi inget tentang mereka, setiap kali ngeliat bianglala. Gue seneng sekaligus sedih, karena emang momen terakhir sehari sebelum mereka meninggal, gue naik bianglala itu,” ujar Alya menjelaskan, membuat Rian merasa sangat sedih mendengarnya.


Rian meletakkan tangannya pada bahu Alya, “Gue turut berduka cita. Turut bersimpatik,” ucapnya yang benar-benar tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Alya.


Alya menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis, “Ya, thanks.”


Rian mendadak bingung mendengarnya, “Thanks itu ... apa?” tanyanya bingung, membuat Alya juga mendelik kebingungan mendengarnya.


“Thanks ... ya thanks! Kok nanya apa, sih?” tanya Alya balik, yang membuat Rian semakin bingung mendengarnya.


Mereka saling pandang, karena mereka sama-sama bingung mendengar ucapan satu sama lain.


“Ya apa? Thanks itu apa? Makanan? Minuman?” tanya Rian, yang benar-benar tidak tahu apa arti dari kata tersebut.

__ADS_1


Alya semakin mendelik, karena ia merasa bingung mendengarnya.


‘Ada ya, orang yang gak tau arti thanks?’ batin Alya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan.


“Ahh! Udah, ah!” bentak Alya, yang langsung meninggalkan Rian di sana.


Melihat kepergian Alya, Rian menjadi semakin bingung karena ia merasa aneh melihat ekspresi yang Alya keluarkan.


“Apaan, sih? ‘Kan cuma nanya doang? Kenapa dia marah-marah begitu?” gumam Rian bertanya-tanya dengan apa yang ia bingungkan.


Rian menggelengkan kepalanya, dan langsung menuju ke arah rumah Nenek Alya.


***


Setelah selesai membasuh tubuhnya, Alya duduk di hadapan cermin yang ada di dalam ruangan kamarnya. Pagi ini, ia sudah lebih dulu membasuh tubuhnya daripada Rian. Ia merasa harus sesegera mungkin untuk membasuh tubuhnya sebelum matahari terbit lebih tinggi, karena ia tidak ingin orang lain mengintipnya seperti sore kemarin.


Alya mulai membuka barang belanjaannya, yang baru ia beli di pasar malam tadi malam. Ia membeli make up, beberapa kaus dan celana, pakaian dalam dan juga jaket yang sama dengan yang dipakai Rian. Karena melihat jaket couple yang kelihatannya bagus, ia berinisiatif untuk membelinya, dan juga membelikannya untuk Rian.


Alya memandang jaket couple mereka yang ia bentangkan di hadapannya, “Kalau bukan karena lucu, gue juga gak akan mau beli. Rian juga butuh jaket, buat ganti-ganti jaketnya yang cuma satu. Nanti kalau udah sampai di kota, gue pasti beliin dia semua keperluan buat kerja! Gue gak mau bikin dia malu, dan bikin diri sendiri malu,” gumamnya, lalu segera meletakkan jaket tersebut di sebelahnya.


Karena sudah mandi, Alya harus merias wajahnya dengan makeup. Karena sudah terlalu sering menggunakan makeup, Alya jadi tidak enak jika wajah aslinya terlalu lama dilihat oleh orang lain. Apalagi pagi ini ia ingin sekali berjalan-jalan ke kebun teh milik ayahnya, yang ada di dekat bukit sana.


“Cepetan makeup! Keburu siang, dan gak jadi jalan-jalan ke kebun teh!” gumamnya, yang memarahi dirinya sendiri.


Alya dengan keahlian alakadarnya yang ia bisa, memulai untuk memoles beberapa sisi di wajahnya. Ia merasa bingung, karena biasanya yang memakaikan makeup dirinya adalah perias yang sudah disiapkan di lokasi syuting tempat ia bekerja. Sekarang, tidak ada perias tersebut, sehingga membuatnya merasa sangat bingung harus mengolesi makeup yang mana lebih dulu.


“Yang mana yang lebih dulu gue pake?” gumam Alya, yang memegang pelembab dan juga foundation di kedua tangannya.

__ADS_1


Alya teringat dengan handphone-nya. Ia segera mengambil handhone-nya, kemudian membuka Youtube untuk melihat tutorial makeup yang bisa menuntunnya, untuk bisa mengaplikasikan makeup ke wajahnya dengan benar.


Namun, itu semua tidak semudah dan selancar yang ia bayangkan. Alya merasa sangat kesal, karena ternyata di sini sedang tidak ada signal. Untuk mencari referensi video saja, signalnya tidak kuat dan sampai berputar-putar, saking tidak ada signal di sana.


“Ah, kenapa pake gak ada signal, sih?!” gerutu Alya, sembari menekan-nekan layar handphone secara asal, saking kesalnya ia.


“Huh! Giliran gak penting masalah SMS si Dion, ada signal. Kenapa giliran penting begini malah gak ada signal?!” Alya semakin menggerutu saja karena ia benar-benar tidak bisa mengakses internet dengan benar.


Alya menghela napasnya dengan kasar, karena bingung dengan yang mana yang harus ia lakukan lebih dulu.


“Ah, bodo amat deh! Yang penting makeup!” gumam Alya, sembari membuka semua makeup yang ingin ia coba.


Alya meneruskan untuk memoleskan makeup kepada wajahnya, dan tidak memedulikan seberapa banyak dan yang mana yang harusnya lebih dulu ia gunakan. Ia sama sekali tidak ada keterampilan untuk berhias, bahkan jika dibandingkan dengan Rian saja, masih sangat jauh berbeda hasilnya.


Sementara itu, Rian baru saja selesai membasuh tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat segar, setelah pegal-pegal karena semalaman tidur di lantai.


“Duh ... enak banget badan gue,” gumam Rian, yang merasa sangat senang bisa merasakan kesejukan ini.


Rian melangkah ke arah kamar mereka, untuk meletakkan baju kotor yang baru saja ia pakai.


Mendengar suara langkah kaki seseorang, Alya yang sedang tanggung merias wajahnya mendelik dan melihat ke arah pintu.


“Ada orang dateng!!” pekik Alya yang merasa takut dengan kedatangan seseorang.


Ketika sudah sampai di dalam kamarnya, Rian mendelik karena melihat Alya yang sedang memoles riasan pada wajahnya, dengan sangat tidak keruan.


“Alya!!” pekik Rian, yang merasa sangat terkejut melihat riasan wajah Alya.

__ADS_1


__ADS_2