
Alya berpikir sejenak, kemudian memandang ke arah Rian. “Kalau begini terus, lo harus dikasih pendidikan mental!” ujarnya, sontak membuat Rian bingung mendengarnya.
“Hah? Maksudnya apa?”
Pandangannya menajam ke arah Rian, “Gue mau lo pergi bareng sama gue, ke club gue untuk latihan bela diri!” ujarnya, sontak membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.
“Apa?! Gue gak bisa!”
“Justru belajar, biar bisa!” bentak Alya, memaksa Rian untuk melakukannya.
“Gak bisa gue ... Al!” ujar Rian yang benar-benar menekankan ketidakinginannya melakukannya.
Mata Alya mendelik sinis mendengarnya, “Pokoknya harus ikut, titik!” ujarnya, yang tak bisa membuat Rian berkutik lagi.
DRING!
Handphone Alya berdering di waktu yang tepat. Ia segera mengambil handphone-nya yang berada di atas meja, kemudian melihat ke arah layarnya.
__ADS_1
Matanya mendelik, karena ia melihat pada layar tersebut tertera tulisan ‘sutradara.’
Alya segera menerima panggilan tersebut, “Halo, Pak!” sapa Alya dengan sangat segan.
“Halo, Alya. Langsung saja ya, saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi,” ucapnya membuat suasana menjadi sangat tegang, “apa kamu bisa datang hari ini ke lokasi syuting?” tanyanya.
Mendengar pertanyaannya itu, Alya merasa agak bingung menjawabnya. Masalahnya, kantung matanya masih terlihat hitam, dan ia masih belum cukup istirahat hari ini.
“Emm ... gimana ya? Saya bisa aja sih datang ke sana, tapi ... mungkin besok,” ucapnya.
“Baik. Terima kasih, Pak!”
Sambungan telepon terputus, membuat Alya merasa bingung jadinya.
“Aduh ... untung aja bisa besok. Gue harus perawatan dulu, biar kantung mata gue ini gak terlalu item!” ujar Alya, membuat Rian kebingungan mendengarnya.
“Ada apa?” tanyanya.
__ADS_1
Alya melupakan sosok Rian, “Oh ya, besok kita ke lokasi syuting. Soalnya film gak akan bisa dimulai kalau tanpa gue,” ucapnya, membuat Rian paham mendengarnya.
“Oh ... gitu. Jadi, gue harus ngapain?” tanyanya, yang tidak tahu apa pekerjaan dan job desk yang akan ia lakukan setelahnya.
“Lo cukup temenin gue di lokasi syuting. Nanti gue kasih handphone buat lo, biar lo ngatur jadwal untuk gue syuting!” jawab Alya menjelaskan, Rian merasa terbebani mendengarnya.
‘Handphone? Gue aja gak bisa baca tulis,’ batin Rian, yang merasa sangat beban mendengarnya.
Alya melangkah menuju ke arah yang tidak Dion ketahui. Beberapa waktu berlalu, ia kembali dengan membawakan kompres air dingin, yang akan ia kompreskan pada luka memar Rian.
Tanpa banyak bicara, Alya melakukannya dengan segera, tetapi masih dengan kelembutan. Ia mengompres luka memar yang ada pada tangan dan kaki Rian, sehingga membuat Rian menjadi salah tingkah karenanya.
‘Kenapa dia tiba-tiba baik, tiba-tiba jahat? Aneh banget ya dia ... tapi itu yang bikin dia keliatan beda sama yang lain,’ batin Rian, tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Alya.
Karena merasa diperhatikan, Alya pun mendonggak ke atas. Pandangannya bertemu satu titik dengan Rian. Mereka sejenak saling pandang, tanpa ada yang berkedip sedikit pun.
Alya juga memandang heran ke arah Rian, ‘Di saat dia terluka, dia masih bisa mikir gue marah apa enggak kalau dia kelamaan di luar. Kenapa dia sebegitunya, gak mikirin diri sendiri, malah mikirin orang lain?’ batin Alya yang merasa sangat aneh dengan Rian.
__ADS_1