
Alya merasa tidak terima mendengar bentakannya.
“Lo gak mau gue bikin ribut di sini? Siapa suruh lo bentak-bentak suami gue?!” bentak Alya, yang sontak membuat semua orang mendelik tak percaya mendengar ucapannya itu.
Mereka memandang ke arah Alya, yang penampilannya sangat berbeda dengan yang Rian kenakan. Alya sangat terlihat hype, dengan Rian yang hanya memakai kaus yang sudah lusuh.
“Suaminya katanya.”
“Ih, gak percaya banget gue mereka suami istri.”
“Iya, yang satu dandanannya bagus, yang satu lusuh!”
Mereka membicarakan tentang penampilan keduanya, membuat Alya merasa semakin geram saja. Ia tidak ingin menjadi konsumsi publik, karena pandangan mereka yang sepertinya sinis dengannya. Alya saja sampai memakai topi dan masker, demi menghindari pandangan mereka, agar tidak mengenali sosoknya tersebut.
Alya memandang sinis ke arah pelayan itu, “Gue beli restoran ini, beserta isinya!” ujarnya, sontak membuat semua orang mendelik kaget mendengarnya.
Mereka telah salah bersikap buruk, terhadap Alya. Ia tidak sama sekali tidak ingin dilecehkan, baik fisik maupun verba. Ia juga tidak mau mendengar orang-orang menghina seseorang yang berada di dekatnya saat ini.
Sang pelayan sampai menganga kaget, mendengar Alya mengatakan hal seperti itu. Ia sampai rela membeli restoran ini, demi derajat suaminya yang sudah ia lecehkan itu.
“Lo sebenarnya siapa, sih? Sampai rela ngeluarin banyak uang, hanya demi suami lusuh begini?” tanya sang pelayan, yang masih saja menusuk di telinga Alya.
“Lo gak perlu tau siapa gue! Yang jelas, gue sanggup beli restoran ini, sekalian beli mulut sampah lo itu!” bentak Alya, membuat si pelayan merasa penasaran dengan sosok yang mengenakan masker dan topi tersebut.
__ADS_1
“Gue penasaran, siapa sih loe sebenarnya?!”
Sang pelayan langsung saja hendak menarik masker yang Alya kenakan, untuk melihat wajah di balik masker tersebut. Melihat situasi yang sudah mulai panas, Rian pun bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri di hadapan si pelayan, sehingga si pelayan tidak bisa meraih masker yang Alya kenakan.
“Jangan sentuh istri saya!” ucapnya, sontak membuat Alya dan semua orang yang ada di sana mendelik kaget mendengarnya.
Rian langsung saja beraksi. Ia sengaja tidak mengatakan apa pun untuk membela dirinya, karena ia tidak ingin menciptakan keributan. Namun, ternyata Alya bersikap lain. Ia malah membela Rian, sampai membuat keributan semacam ini.
“Udah, kita pergi dari sini aja!” ucap Rian, sembari menarik tangan Alya untuk menjauhi kerumunan.
Mereka sukses pergi dari tempat yang menyeramkan itu. Rian menarik tangan Alya untuk kembali ke dalam mobilnya, menjauhi kerumunan yang dapat membuat suasana menjadi runyam. Mereka masuk ke dalamnya, dan saling melempar pandangan satu sama lain.
Alya memandangnya sejenak, karena Rian yang berhasil menahan si pelayan, agar tidak menyentuh dirinya. Alya merasa sedikit tersanjung, tetapi pemikirannya terhadap yang Rian lakukan ini, tercampur dengan perlakuan Dion semalam, yang menghadang lelaki saiko itu untuk tidak menyentuh Alya.
Alya berpikir tentang kejadian bersama Dion semalam. Dion menghadang orang saiko tersebut, hanya karena tidak ingin ribet mengurus asuransi untuk wajah Alya. Jadi, Alya sengaja mengatakan hal itu pada Rian, agar ia tidak terlanjur berpikiran yang jauh terhadap sosok Rian padanya.
Rian memandangnya dengan dalam, “Gue ‘kan tadi udah bilang ke dia, jangan sentuh istri gue, karena gue gak pengen istri gue sembarangan disentuh orang lain.”
DEG!
Jawaban dari Rian, sontak membuat Alya mendelik dan berdebar. Ia tidak menyangka, kalau jawaban dari Rian itu ternyata sangat berbeda dengan jawaban dari Dion, yang lebih mementingkan permasalahan income. Alya merasa rasa simpatik dirinya terhadap Rian, kini bertambah hanya dengan setiap jawaban dan perlakuan yang Rian lakukan untuknya, yang sangat berbeda jauh dengan apa yang Dion lakukan untuknya.
Alya merasa sangat bingung, karena jawaban Rian tadi sudah seperti mereka adalah suami istri yang sebenarnya saja.
__ADS_1
‘Kenapa jawabannya di luar ekspetasi? Gak seperti Dion, yang lebih mementingkan income dan malas ngurusin asuransi, kalau gue kenapa-napa?’ batin Alya, yang merasa sangat bimbang saat ini.
“Lagian lo ngapain sih pake ngomong kayak gitu segala? Mau beli restoran ini, pula! Kenapa sih, lo seneng banget buat keributan sama orang lain?” tanya Rian, dengan nada yang sangat lembut.
Alya jadi semakin memikirkan tentang kedua orang ini, ‘Dion selalu negur gue di hadapan orang lain. Rian gak negur gue di hadapan mereka tadi, dan lebih milih negur gue saat kita lagi berdua begini. Kenapa mereka berbeda, ya?’ batin Alya yang merasa sangat kesal dengan pemikirannya tentang kedua orang tersebut.
Tak ada jawaban dari Alya, Rian pun memandangnya dengan pandangan yang dalam.
“Gue gak apa-apa kok direndahin. Emang gue udah biasa direndahin sama orang lain. Lo gak usah begitu lagi ya, kalau lain kali ada orang yang begitu lagi ke gue,” ucapnya yang masih menggunakan nada yang lembut.
Ucapan dan perlakuan Rian padanya semakin merasuk ke dalam benak Alya. Ia merasa ada sesuatu yang sangat jauh berbeda, yang dimiliki Rian dan sama sekali tidak dimiliki Dion.
“Gue gak suka ngeliat diri gue, atau orang yang ada di deket gue, ngerasa gak nyaman karena dilecehkan sama orang lain! Gue gak akan pernah sudi nerima semua itu, karena gue gak mau kejadian waktu dulu keulang lagi!” ucap Alya, membuat Rian terdiam sejenak mendengarnya.
Alya mencerna kembali setiap perkataannya pada Rian, yang ternyata ia sudah keceplosan berbicara tentang masa lalunya menyangkut hal ini. Ia menjadi gugup, salah tingkah di hadapan Rian yang masih memandanginya saja.
Alya membuang pandangannya dari Rian, “Gak usah dipikirin dan gak usah nanya kenapa alasannya. Intinya gue trauma, dan gak suka ngeliat orang ngelecehin orang lain, apalagi ngelecehin gue!” ucapnya dengan nada yang sangat kaku, khawatir ketahuan oleh Rian alasan dirinya yang sebenarnya.
Melihat sikap dan ekspresi Alya, Rian sudah tahu untuk tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia tidak ingin sampai mengubah mood Alya, yang semula respect padanya, menjadi benci padanya kembali.
“Oke, gak akan gue tanya,” ucap Rian, membuat Alya seketika langsung memandangnya kembali dengan tatapan yang tidak percaya.
‘Biasanya orang lain kepo banget, kenapa dia sama sekali gak kepo tentang alasannya? Dia sama sekali gak kepo apa pun tentang gue?’ batin Alya, bertanya-tanya pada hatinya sendiri.
__ADS_1