
“Apa? Kita lagi dibicarain sama netizen?! Kita? Bukan lo doang?!” pekik Rian tak percaya, Alya merasa dengkulnya sangat lemas, hingga terduduk lemas di kursi dekat meja riasnya itu.
Tangannya meremas rambutnya, saking tremor-nya dengan dirinya yang tiba-tiba menjadi perbincangan buruk netizen.
“Gue takut, Yan ....” Nada bicara Alya perlahan turun, saking ia takut menghadapi cemoohan netizen yang sangatlah sarkas.
Rian memandangnya dengan heran, “Memangnya netizen ngomongin kita kayak gimana?” tanyanya heran, yang tak percaya dirinya bisa menjadi perbincangan hangat kalangan masyarakat.
“Ada paparazzi yang diem-diem ngambil foto kita pas di mall kemaren. Padahal gue udah berusaha buat nutup rapat-rapat wajah gue, kenapa mereka masih ngenalin gue aja, ya?” Alya merasa sangat bingung dengan keadaan.
Rian memandangnya dengan dalam, “Aura artis memang beda. Mereka bisa dengan mudahnya tau, kalau itu adalah lo,” ujarnya, sontak membuat Alya memandangnya dengan tak percaya.
“Aura artis apa? Gue masih magang, belom pantes disebut artis,” bantah Alya, membuat Rian memandangnya dengan heran.
“Lho, kenapa?”
__ADS_1
“Ya kalau gaji artis misalkan sekian, gue setengahnya dari gaji artis. Jadi gue itu cuma dianggap magang sama mereka,” jawab Alya, membuat Rian menghela napasnya dengan panjang.
“Tenang, gue akan berusaha bikin lo jadi bersinar, sama kayak artis lainnya yang udah bersinar!” ucapnya, sontak membuat semangat Alya menjadi terbakar ketika mendengarnya.
‘Dia aja bisa semangat begitu, sama gue yang ngejalanin gak bisa semangat, sih?’ batin Alya, yang merasa harus lebih bersemangat daripada Rian.
Namun, rasa tremor pada diri Alya masih sangat terasa. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan itu, karena ia takut jika nanti para wartawan datang menghampirinya untuk menanyakan sesuatu.
Alya memandang ke arah Rian dengan bingung, “Kalo wartawan semua pada ke sini, gimana? Kalau mereka tanya hubungan kita itu gimana? Gue harus jawab apa?” tanyanya panik, Rian merasa bingung ingin mengatakan apa.
“Bener juga!” gumam Alya, yang sangat menyetujui yang Rian katakan itu.
Rian menggelengkan kepalanya, “Udah, ayo makan. Gue udah siapin makanan di meja makan,” ajaknya, membuat Alya mendelik bingung.
“Lo bisa masak?” tanya Alya kaget, Rian menyeringai mendengarnya.
__ADS_1
“Kalau cuma masak mi instan sama telor ceplok, gue bisa,” jawabnya dengan seringainya, membuat Alya tertawa kecil melihatnya.
“Ya udah ayo.”
Karena sudah terlalu lapar, Alya menyetujui ajakan Rian tersebut. Mereka pun melangkah menuju ke arah dapur, dan segera menyantap makanan instan yang sudah Rian buatkan untuk Alya.
Entah karena lapar atau bagaimana, Alya hendak meminta Rian lagi, untuk memasakkan mi instan itu.
Alya memandang ke arah Rian, “Yan, mi buatan lo kok enak?” ujarnya dengan nada bertanya-tanya, membuat Rian merasa bangga mendengarnya.
“Wet ... iya dong, siapa dulu yang bikin,” ujar Rian, Alya hanya bisa terkekeh mendengarnya.
“Bikinin lagi, dong!” pinta Alya, kali ini Rian yang malah terkekeh mendengarnya.
“Minta bikinin gimana? Tadi gue ngambil mi, ternyata sisa dua. Nah ... itu yang gue bikin sisanya, dan gak ada lagi.”
__ADS_1