
Bagi Rian, tak masalah jika ia harus tidur di mana pun itu. Ia memang tidak memiliki tempat tinggal sebelumnya, sehingga membuatnya bisa bertahan dengan keadaannya yang seperti ini.
Rian meletakkan tas selempang milik Dion –yang memang selama ini ia pakai– di atas lantai, tempat ia hendak membaringkan tubuhnya.
Dengan beralaskan tas yang ia bawa, ia pun akhirnya tidur di atas lantai yang cukup bersih itu.
Rian memandang ke arah langit-langit ruangan, yang memang tidak banyak cahaya yang meneranginya.
Pandangannya memang ke arah atas ruangan, tetapi pikirannya tetap ke permasalahan yang terjadi dengan Alya tadi. Ia sangat tidak menyangka, ucapannya membuat Alya sampai marah, dan membuatnya sampai mengusrinya seperti ini.
Dihelanya napas dengan panjang, sembari memijat lembut keningnya yang terasa tegang. Belum lagi kedua kakinya yang terasa sangat pegal, karena berjalan sangat jauh, dari apartemen Alya sampai ke lokasi syuting.
__ADS_1
Rian sudah terbiasa dengan kehidupannya yang seperti ini. Ia sudah terbiasa tidur di lesehan mana pun, tanpa beralaskan apa pun.
Soal nyamuk, dia sudah terbiasa. Apalagi dinginnya malam, tanpa selimut yang menyelimuti tubuhnya. Itu semua sudah ia jalani selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Alya sampai marah begitu sama gue. Kenapa, ya? Kenapa harus sampai ngusir gue?” gumam Rian bertanya-tanya, karena seharusnya ucapannya tidak sampai membuat Alya mengusir dirinya seperti itu.
Kedua lengannya ia lipat, untuk menumpu tengkuk lehernya. Lagi-lagi ia menghela napasnya dengan dalam, karena ia merasa terus terpikirkan dengan masalah yang sedang terjadi pada mereka ini.
“Tabiatnya memang seperti itu, ya? Kenapa sih, harus ngusir segala? Gue gak tau harus gimana lagi sekarang,” gumam Rian, yang merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Walaupun bukan dirinya yang salah sepenuhnya dalam kasus ini, tetapi setidaknya penekanan ego bisa membuat Alya menjadi luluh dan memaafkannya.
__ADS_1
Rian kembali menghela napasnya, “Besok, gue harus minta maaf sama dia,” gumamnya, yang berusaha untuk tidak membiarkan egonya menang.
Biar bagaimanapun juga, mereka sudah saling terikat akad. Mereka tidak bisa seenaknya mengakhiri hubungan, seperti sedang pacaran.
Di malam yang dingin dan sepi, Rian pun terlelap dengan sisa lelahnya karena aktivitas hari ini. Ia jadi tidak bisa tidur pagi, karena jam dan waktu tidur Rian yang sudah berubah sekarang.
Sementara itu, Alya masih saja termenung. Di atas ranjang tidurnya, ia memeluk bantal seperti biasa, sambil menelengkup di atas ranjang. Ia memandang ke arah layar handphone-nya, yang memakai wallpaper foto dirinya dan juga Rian, yang saat itu sedang berlibur di kebun teh.
Alya tidak bisa menangis. Hanya saja ... ia merindukan sosok yang selama beberapa waktu ini menemaninya, ke mana pun ia pergi.
“Rian ... lo di mana sekarang?” gumam Alya, yang sepertinya sangat menyesali apa yang ia lakukan pada Rian.
__ADS_1
Alya sendiri tidak menyangka, kalau dirinya ternyata bisa sampai mengatakan hal yang sangat kasar itu pada Rian. Ia masih tidak bsia menahan perkataannya, karena sikapnya yang kasar, membuatnya harus menyesali semua yang ia lakukan.
Napasnya ia hela dengan berat, karena ia benar-benar sangat menyesali apa yang Rian lakukan itu.