
Alya membawa tas dan koper kecil yang sudah ia siapkan, ke arah ruangan utama apartemennya.
Diletakkan koper dan tas tersebut di atas sofa. Alya duduk di sebelahnya, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.
Tak terlihat sosok Rian di mana pun ia memandang. Rasa heran muncul, kemudian berpikir kalau Rian mungkin masih ada di dalam kamarnya.
Alya menunggu dengan sabar, sampai akhirnya ia melihat Rian yang sudah keluar dari kamarnya.
Sosok lelaki bertubuh sedang, dengan wajah yang putih bersih lengkap dengan polesan makeup, semakin menambah aura ketampanannya. Ia datang dengan membawa sebuah tas kecil, yang ia selempangkan pada bahunya.
Matanya berubah menjadi biru, seperti sedang memakai softlense. Aksesoris yang Alya berikan pun tak lupa ia pakai, semakin menambah kesan bak idol Korea jika diperhatikan. OOTD-nya pun tak kalah bagus. Pakaian branded milik Dion yang Alya suruh Rian kenakan, ternyata sangat cocok padanya.
Mungkin efek wajahnya yang cerah dan bersih, segala jenis pakaian yang ia pakai menjadi sangat cocok.
Rambutnya ditata semaksimal mungkin, bahkan lebih bagus daripada yang salon lakukan padanya.
__ADS_1
Alya tak bisa berkedip memandang ke arah Rian, yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.
‘Ini Rian?’ batin Alya, yang pandangannya terkesima melihat Rian yang penampilannya seperti ini di hadapannya.
Kesan mahal dari tampilan Rian semakin terasa, seperti sudah biasa menggunakan barang-barang mewah seperti ini. Padahal, waktu Rian menggunakan kaus lusuh seadanya, dan juga potongan rambut yang tidak bagus, Alya sama sekali tidak melihat aura seperti ini padanya.
Alya sudah benar-benar tersihir, oleh make over yang Ria lakukan itu pada dirinya.
Melihat Alya yang hanya diam saja di hadapannya, Rian merasa sangat malu. Ia jadi merasa tidak percaya diri, karena pandangan Alya yang terus menajam ke arahnya.
“Kenapa? Gak cocok ya dandan begini? Apa ... berlebihan?” tanya Rian, kesadaran Alya kembali ketika pertanyaan ini ditanyakan olehnya.
Alya membuang pandangannya, untuk menutupi perasaannya yang sedang berbunga-bunga.
“Bagus!” ujar Alya dengan tegas, tanpa memandang ke arah Rian.
__ADS_1
Melihat ekspresi Alya yang seperti itu, Rian hanya bisa tersenyum manis melihatnya.
“Mau berangkat kapan?” tanya Rian, mata Alya sampai membulat mendengarnya, karena ia melupakan tentang hal itu.
Alya menoleh dan memandang tegas ke arah Rian, “Sekarang!” jawabnya, yang lalu segera bangkit dan membawa barang-barang bawaannya.
Alya melangkah menuju ke arah pintu apartemennya, dengan semua barang yang ia bawa. Melihatnya kesulitan untuk membawa barang-barang itu, Rian pun mempercepat langkahnya untuk menyusul ke arahnya.
Rian merasa kasihan, dan tidak ingin membiarkan Alya membawa barang-barangnya sendiri.
Setelah berhasil menyusul langkah Alya, Rian bergegas mengambil barang-barang yang Alya bawa, dan segera membawanya. Ia meninggalkan Alya di sana, membuat Alya memandang ke arah Rian melangkah, dengan tatapan yang bingung.
‘Dia mau bantuin gue, tanpa gue pinta? Tanpa banyak basa-basi? Tanpa cari perhatian?’ batin Alya, yang merasa Rian sangatlah berbeda dengan dengan Dion.
Ya, beda orang, pastinya berbeda kepribadian. Alya hanya salah bertemu orang pertama saja. Seharusnya, ia bertemu Rian lebih dulu, agar dia tidak merasakan hal-hal yang merugikannya seperti itu.
__ADS_1
Namun, Tuhan sudah mengatur semua itu, agar Alya bisa membandingkan antara keduanya. Jika Alya bertemu dengan Rian lebih dulu, mungkin Alya tidak akan pernah memiliki perbandingan dalam hidupnya.
***