
Raut wajahnya pun sudah berubah menjadi lebih tenang, dan tidak kasar seperti saat ia marah sebelumnya.
Diulurkannya tangan kanannya ke arah minuman kaleng, yang sebelumnya sudah Rian buka. Ia mengambilnya dengan ragu, karena ia tidak terlalu suka meminum minuman bersoda. Ia hanya menghormati Rian saja.
GLK!
Sensasi terbakar pada tenggorokan Alya, membuatnya tersadar dengan efek kuatnya alkohol yang terkandung di dalam minuman bersoda ini. Ia lupa, padahal ia sudah mengetahui, bahwa ini adalah minuman beralkohol.
“Ahh ....”
Sudah lama sekali, ia tidak merasakan sensasi dari minuman bersoda ini. Sejak magh-nya terus kambuh, Alya jadi tidak pernah lagi untuk meminum minuman yang seperti ini.
__ADS_1
Rian memandangnya dengan dalam, sembari meletakkan kaleng minuman itu di meja yang berada di hadapannya.
“Alya ... maafin gue, ya. Gue udah buat lo nangis kayak tadi. Gue terlalu kebawa emosi, jadi bikin lo gak nyaman,” ujarnya, yang berusaha untuk bersikap dewasa di hadapan Alya.
Apalah artinya meminta maaf lebih dulu? Justru bagus, karena orang yang mau meminta maaf lebih dulu –walaupun ia tidak salah– adalah seorang yang berbesar hati menerima kesalahannya.
Alya memandang ke arah Rian dengan bingung, karena ia merasa sangat sakit mendengar Rian membentaknya seperti itu. Apalagi ... saat Rian mengatakan dengan gamblang, apa yang ia tidak kuasai.
Alya mengembuskan napasnya dengan dalam, “Gue yang harusnya minta maaf. Gue gak seharusnya bilang gitu ke lo,” ujarnya merasa tidak enak dengan Rian. “Maafin gue, ya?” tanyanya, Rian tersenyum mendengar permintaan maaf, yang baru pertama kali ia dengar dari Alya.
Mendengar ucapan Rian, membuat Alya merasa sangat nyaman seperti ini.
__ADS_1
Tidak seperti waktu irinya bersama dengan Dion, saat mereka bertengkar selalu Alya yang meminta maaf pada Dion. Dion sama sekali tidak mau mengalah, meskipun ia tahu dirinya salah karena sudah berbuat sesuatu kepada Alya.
Namun, karena Alya yang sudah terlanjur mendewakan Dion, ia sampai rela melakukan apa pun, demi pencapaiannya dalam karir, yang sudah ia dapatkan bersama dengan Dion.
Alya memandang dalam ke arah Rian, ‘Dia beda,’ batinnya, yang sudah menemukan banyak sekali perbedaan antara Rian dan juga Dion.
Alya semakin yakin, dengan perasaannya terhadap Rian, yang sepertinya sudah semakin dalam dari sebelumnya.
Ditambah lagi dengan Rian, yang sejak dari tempat latihan tadi tidak pernah melepaskan tangannya. Hal itu menurutnya sangatlah romantis, walaupun Alya harus tersiksa karena kesulitan keluar dari pintu mobil sebelah kanan.
‘Rian ... sebenernya lo itu kenapa, sih? Kenapa pas gue ngobrol sama Morgan, lo kayak gak seneng gitu? Terus juga, kenapa pas lo ngobrol sama mereka, gue juga ga seneng gitu bawaannya?’ batin Alya, yang bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Alya sama sekali belum mengetahui, perasaannya terhadap Rian seperti apa. Sementara itu Rian pun belum mengetahuinya juga. Ia hanya ingin menjaga Alya, dari lelaki lain yang hendak menyakitinya, ataupun menyentuhnya.
Rian juga memandang dalam ke arah Alya, ‘Ternyata, sifat kerasnya gak berlaku di saat-saat tertentu. Dia masih tetap seorang wanita, yang sangat lemah dan memiliki perasaan yang rapuh. Sementara gue, gue tetep seorang lelaki, yang juga memiliki emosi yang suatu saat bisa meledak,’ batin Rian, yang merasa sudah mengerti dengan sifat mereka masing-masing.