
Bahkan Rian berpikir, ‘Dandanan gue malam itu, bahkan lebih baik dibandingkan dengan makeup lunturnya yang bikin dia keliatan jelek,’ batinnya lagi.
Nenek tersenyum hangat memandang cucunya tersebut, “Ayo sini duduk!”
Alya melangkah maju, kemudian duduk di sebelah Nenek yang sedang duduk berhadapan dengan Rian. Mereka sejenak saling pandang, membuat Alya merasa aneh ketika diperhatikan seperti itu dengan Rian.
“Kenapa lo ngeliatin gue begitu?” tanya Alya masih dengan nada yang jutek, membuat Rian tersadar dengan apa yang ia lakukan itu.
Rian pun kembali pada sikapnya yang seperti biasa, yang terkesan sedikit jutek dengan Alya.
“Gue gak ngeliatin lo, kok! Kalaupun gue ngeliatin lo, itu pandangan biasa doang. Gak ada pandangan yang spesial!” bantah Rian, sontak membuat Alya semakin gengsi mendengarnya.
“Dih, lagian siapa yang minta diliatin dengan pandangan spesial?!” bantah Alya, membuat wajah Rian sedikit merona mendengarnya.
Nenek memandang mereka dengan bingung, karena sikap mereka yang lebih mirip seperti musuh dan bukan seperti sepasang suami istri.
“Kalian memang sering ribut-ribut begitu, ya?” tanya Nenek, sontak membuat Alya dan Rian mendelik karena melupakan sosok Nenek yang tidak mengetahui apa pun di antara mereka.
Mereka sejenak saling melempar pandangan kembali, karena bingung harus mengatakan apa kepada Nenek.
Alya berdeham kecil, “Enggak gini kok, Nek! Kita mah ... romantis ... banget!” ucap Alya sembari menyeringai tak enak, lalu memandang sinis ke arah Rian, “iya ‘kan, Yan?!” tanya Alya dengan tatapan yang sinis memberi kode padanya, kemudian tersenyum kembali ke arah Nenek.
__ADS_1
Rian yang menangkap signal dari Alya, segera tersenyum tak enak di hadapan Nenek, “I-iya, Nek. Kita romantis banget, kok. Bahkan kita kalau makan selalu sepiring berdua, kadang suap-suapan, kadang juga kalau minum juga disuapin, tidur pun saling peluk ....” Rian menghentikan ucapannya ketika melihat Alya yang sedang memelototinya. Ucapan Rian terdengar sangat berlebihan bagi Alya.
‘Terlalu berlebihan, tolong!’ batin Alya, sembari melemparkan pandangan sinisnya pada Rian.
Rian mengerti dengan pandangan itu, ‘Apa, sih? Kalau mau bohong, kasih alasan yang meyakinkan sekalian! Jangan setengah-setengah!’ batin Rian yang menjawab batin Alya, sontak membuat mereka mendelik kesal karena mereka yang bisa saling bersahutan melalui batin mereka.
Mereka jadi bisa bersahutan melalui batin, seperti telepati saja.
Nenek tersenyum senang mendengar ucapan Rian, karena ternyata cucunya sangat beruntung memiliki suami yang sangat menyayanginya. Tidak seperti Ibu Alya, yang memiliki suami yang sangat tidak menyayanginya.
“Baguslah kalau seperti itu! Nenek bersyukur kalau Alya dapat pasangan yang sayang sama Alya. Karena Mama Alya gak bisa dapetin itu dari suaminya,” ucap Nenek, sontak membuat situasi menjadi mellow seketika.
Alya menunduk sendu, karena ia teringat kembali dengan cerita kematian ibunya. Rian spontan memandang ke arah Alya, yang tertangkap sedang menunduk sendu setelah mendengar ucapan Nenek.
Nenek menghela napasnya untuk mempersiapkan diri bercerita, “Ibu dari Alya, menikah dengan seorang Tuan kaya dari kota. Awalnya Ibu Alya cuma gadis desa, yang kebetulan bertemu dengan Ayah Alya. Ayah Alya menyukai Ibu Alya, karena Ibu Alya saat itu adalah gadis paling cantik di desa ini,” ucap Nenek menjelaskan, Rian mengangguk kecil mendengarnya.
“Oh bisa dibilang, kembang desa lah ya?”
“Ya, seperti itu pokoknya. Penampilannya seperti Alya sekarang, dan juga wajahnya sangat mirip dengan Alya sekarang ini. Ibunya Alya seperti sudah reinkarnasi ke Alya,” ujar Nenek, sembari memandang ke arah Alya dengan senyuman yang sangat hangat.
Nenek mengusap lembut wajah Alya yang terlihat sudah sendu, dengan Alya yang tidak bisa mengangkat wajahnya karena malu.
__ADS_1
“Lalu gimana, Nek? Kenapa mereka bisa menikah? Nenek kasih izin buat Tuan kaya itu?” tanya Rian lagi.
“Ya. Setelah mereka bertemu, Tuan kaya itu langsung datang ke sini buat ngomong sama Nenek, ingin menikahi Ibu Alya. Dia kasih Nenek rumah yang ada di ujung jalan sana, sebagai mahar buat nikahin Ibu Alya,” ucap Nenek lagi menjelaskan.
Rian menoleh ke arah ujung jalan, berusaha mengingat rumah yang ada di ujung jalan sana, lalu kembali memandang ke arah Nenek.
“Rumah yang megah itu?” tanya Rian, Nenek mengangguk mendengarnya, “kenapa Nenek gak tempatin aja rumah mewah itu? Kenapa malah tempatin rumah yang udah mau rubuh begini?” tanyanya lagi.
“Banyak kenangan di rumah ini, yang gak bisa Nenek tinggalkan. Biarlah, Ibu Alya juga bilang kalau rumah itu akan jadi milik anaknya setelah anaknya lahir nanti. Jadi, rumah itu sejak dulu memang milik Alya. Baru sekarang lagi Nenek ketemu sama Alya.”
Rian mengangguk kecil, karena ternyata latar belakang keluarga Alya sudah ia ketahui sebagian. Namun, masih banyak pertanyaan yang mengganjal di hati Rian.
“Kenapa Ibu Alya gak dapat kasih sayang dari suaminya, Nek?” tanya Rian lagi, yang masih banyak sekali rasa penasaran yang tersimpan dalam benaknya.
“Ya ... karena Tuan kaya itu ternyata sudah memiliki empat istri di kota sana. Ibu Alya adalah istri kelima, dan ternyata dapat perlakuan tidak baik dari keempat istri tua yang lain. Dia sering dapat pelecehan kekerasan dari keempat istrinya itu, kalau suaminya sedang gak di rumah. Ketika suaminya kembali, dia gak percaya dengan yang diceritakan Ibu Alya padanya. Lama-lama Ibu Alya merasa kesal karena terus memendam rasa sakit hatinya. Sebab itu Ibu Alya mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri,” ujar Nenek, sontak membuat air mata Alya seketika mengalir keluar dari matanya.
Air mata berjatuhan dari pelupuk mata Alya, sontak membuat Rian merasa sangat iba melihat Alya yang sedih seperti ini di hadapannya. Tidak seperti Alya yang jutek dan keras seperti biasanya, kali ini Rian melihat sisi lemahnya dari Alya.
‘Pantesan dia gak suka ngeliat orang lain dilecehin, atau dirinya dia dilecehin. Dia mungkin trauma ngeliat masa lalu ibunya sama keempat istri bapaknya,’ batin Rian, yang sudah mulai mengerti dengan apa yang terjadi dengan mental Alya.
“Nenek juga baru tau, pas juragan kebon teh yang biasa ketemu sama si Tuan kaya itu, ngomong sama Nenek. Gak lama setelah ibunya Alya meninggal, keempat istri Tuan itu ternyata ngasih racun ke Tuan itu, jadi dia meninggal sehari setelah meniggalnya ibunya Alya,” ucap Nenek, membuat Rian semakin miris saja mendengarnya.
__ADS_1
‘Kirain cuma ada di film aja, ternyata benar ada yang seperti itu,’ batin Rian, yang merasa sangat takut mendengar cerita Nenek tentang keempat istri Ayah Alya.