
TES!
Air mata Rian tak sadar telah menetes seketika, saking tidak bisanya ia menahan perasaan sedih yang menggebu di hatinya. Ia sudah tidak bisa menahan perasaannya, walau di hadapan Alya sekalipun. Walaupun sedikit malu, Rian masih bisa bersikap tegar dengan menghapus air matanya yang hendak menyusul keluar dari pelupuk mata.
Rian sudah tidak sanggup melanjutkan cerita yang membuatnya trauma, sampai saat ini. Sementara itu Alya hanya bisa memandangnya dengan pandangan yang sangat bingung. Ia tidak bisa berbuat apa pun, bahkan untuk menghibur Rian pun ia tidak tahu harus bagaimana.
“Lo ... gak apa-apa, Yan?” tanya Alya, yang benar-benar tidak tahu harus berkata apa pada Rian, yang masih berusaha untuk menahan tangisannya itu.
Rian menghela napasnya dengan panjang, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh kembali, “Sekarang udah gak apa-apa,” jawabnya dengan singkat.
Alya mengangguk kecil, sembari berusaha tersenyum di hadapan Rian. “Kalau lo gak mau lanjutin ceritanya, gak apa-apa. Jangan dipaksa,” ucap Alya, Rian menghela napasnya kembali karena ia merasa sedikit sanggup melanjutkannya.
“Bisa, masih bisa.”
Alya menggelengkan kepalanya, “Jangan dipaksa.”
“Ya, gak apa-apa. Gue masih bisa cerita. Ada lagi yang mau lo tanya tentang hal ini?”
Alya memandangnya dengan ragu. Ia tak sengaja melihat ke arah jari manis Rian, yang ternyata masih memakai cincin yang ia maksudkan itu pada ceritanya. Pada lehernya pun terdapat kalung dengan liontin sebuah cincin yang sama, dengan ukuran yang lebih kecil dari yang Rian kenakan. Hal itu membuat Alya yakin, kalau itu adalah cincin couple Rian dan juga gadis yang sudah tiada itu.
“Gue mau nanya,” ucap Alya ragu, Rian memandangnya dengan tatapan yang sangat serius.
“Nanya aja.”
“Lo ... sampai kapan mau pakai cincin itu di jari manis lo, dan di leher lo?” tanya Alya.
Rian terdiam sejenak mendengarnya, karena ia merasa bingung harus menjawab apa. Beberapa detik Rian membeku, akhirnya ia menghela napasnya kembali lalu melepaskan cincin tersebut dari jemari dan juga dari kalung yang menempel di lehernya. Tindakan Rian itu sontak membuat Alya mendelik kaget, karena ternyata Rian yang dengan cepat membuka cincin tersebut.
__ADS_1
Sejenak Rian memandang ke arah cincin yang ia pegang, menghela napasnya kembali, lalu segera membuangnya ke bawah bianglala tersebut. Alya mendelik, tak menyangka dengan apa yang Rian lakukan itu.
“Yan ... lo kenapa? Kenapa cincinnya dibuang?” tanya Alya bingung, Rian memandang ke arah Alya dengan dalam.
“Gue udah gak butuh cincin itu lagi, Al. Untuk apa lagi mengingat orang yang sudah gak ada, dan menyimpan barang-barang peninggalannya? Sekarang ‘kan ... udah ada lo,” jawab Rian menjelaskan, membuat Alya sedikit tersinggung mendengar ucapannya.
Pasalnya Alya juga masih mengingat orang tuanya, dengan menyimpan gelang pemberian ibunya. Namun, Alya tak bisa menyalahkan Rian karena setiap pemikiran orang yang berbeda-beda. Alya juga salah fokus dengan perkataan dan ucapan Rian yang terakhir.
‘Apa maksudnya dengan ucapannya yang terakhir? Sekarang udah ada gue?’ batin Alya, sembari memandangnya dengan tatapan bingung.
“Itu adalah salah satu alasan gue, buat gak mau melepaskan orang yang udah terlanjur ada di dalam hidup gue. Gue gak mau melepaskan untuk kedua kalinya,” ujar Rian, membuat Alya memandangnya dengan sangat terkejut.
Sejenak Alya menundukkan pandangannya, saking malunya ia mendengar ucapan Rian yang seperti seakan-akan Rian harus menjaga dirinya agar tidak sama seperti gadis sebelumnya. Namun, di sisi lain juga Alya merasa kalau Rian hanya terpaksa, dan tidak memiliki pilihan lain.
Mumpung ada kesempatan.
Alya memandang lagi ke arah Rian, “Itu salah satu alasannya, berarti ada alasan lain? Apa alasan lainnya?” tanyanya, Rian tersenyum tipis mendengarnya.
Udara malam ini semakin terasa sangat menusuk. Alya semakin merasakan dingin, apalagi baju kaus yang ia pinjam dari Rian, yang telah sobek akibat Rian menariknya terlalu kencang saat hampir jatuh dari bianglala tadi.
Alya mengusap lengan tangannya, saking dinginnya. Rian yang melihatnya saat ini, menjadi sangat peka dan memakaikan jaket yang ia kenakan pada Alya.
Alya terkejut, lalu menoleh ke arah Rian.
“Maaf kalau misalkan mencium bau yang gak enak. Tadi gue mau kasih ke lo, takut lo gak nyaman sama bau jaket gue,” ucap Rian merendah di hadapan Alya, membuat Alya paham dengan alasan Rian yang tidak meminjamkan jaketnya padanya.
Alya menunduk malu, karena ternyata ia sudah salah sangka pada Rian.
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak, karena bingung harus mengatakan apa lagi. Sudah tidak ada lagi yang bisa mereka katakan.
Masih banyak pertanyaan mengganjal di hati Rian. Ia masih penasaran dengan beberapa pertanyaan, mengenai latar belakang Alya.
Rian memandang dalam ke arah Alya, “Sekarang boleh gantian nanya?” tanya Rian, Alya mengangguk kecil mendengarnya.
“Tanya aja.”
Rian memandang Alya dengan ragu, “Alasan lo gak mau jadi janda, kenapa? ‘Kan bisa aja kita bercerai saat ini juga,” tanyanya, Alya terdiam sejenak karena bingung harus menjawab seperti apa.
Pertanyaan Rian sangat membuat Alya kebingungan, dan entah harus menjawab apa.
“Gue gak tau harus jawab apa. Gue gak suka aja sama predikat janda. Sebelum nyokap gue gantung diri, dia ngeliat surat cerai yang udah disiapin keempat istri bokap yang lainnya. Dia frustrasi dan akhirnya menandatangani surat perceraian itu, dan langsung gantung diri setelahnya. Jadi, nyokap gue meninggal udah dalam status janda. So, gue gak mau jadi janda dengan alasan selain kematian,” ujar Alya, membuat Rian merasa sangat kasihan padanya.
Rian jadi paham alasan Alya tidak jadi meminta talak padanya. Namun, percuma saja jika ia tidak menalak Alya, ia juga tidak bisa melakukan hal yang pasangan suami istri lainnya lakukan.
Bianglala ini pun berhenti berputar, dan menurunkan pengunjung satu per satu dari ruangan yang ada. Alya dan Rian menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan turun dari tempat mereka.
“Sebentar lagi kita turun, mau ke mana lagi?” tanya Rian.
“Anterin gue beli baju dan yang lainnya,” jawab Alya yang lalu segera berubah ekspresi menjadi malu dan menundukkan pandangannya, “gue juga ... mau sekalian beliin jaket buat lo,” ujarnya dengan agak malu dan ragu, membuat Rian merasa terkejut mendengarnya.
“Beliin jaket buat gue? Beneran bau, ya?” tanya Rian yang merasa sangat tidak percaya diri.
Alya menggelengkan kepalanya, “Gak, bukan itu maksud gue!” bantah Alya, yang merasa sangat tidak enak hati dengan Rian.
Rian tersenyum mendengarnya, “Ya udah, ayo beli!” ajaknya yang sangat cepat berganti ekspresi menjadi senang di hadapan Alya.
__ADS_1
Alya hanya bisa memandangnya bingung, dan mengangguk mendengarnya.
***