Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Alasan Di Balik Rasa Trauma


__ADS_3

Itu semua karena rasa traumanya terhadap apa yang Alya hadapi tadi.


“Kenapa sih lo malah nyuruh abangnya puterin lagi bianglalanya? Kenapa lo gak ngizinin gue buat hajar mereka lagi?” tanya Alya, yang hendak meminta penjelasan dari rasa trauma yang Rian alami.


Rian menghela napasnya dengan panjang, “Kita duduk dulu,” ujarnya, membuat Alya menurut dan duduk di sebelah Rian saat ini.


Bianglala kembali berputar, dengan Alya yang sudah bersiap untuk mendengarkan ucapan Rian.


Rian memandang Alya dengan dalam, “Lo beneran mau dengar cerita gue?” tanyanya dulu, untuk memastikan Alya agar tidak berhenti bercerita di tengah ia bercerita.


Alya mengangguk mendengarnya, “Ya! Kasih tau kenapa lo bisa trauma?” tanyanya yang sudah benar-benar penasaran, karena bingung dengan sikap Rian yang sangat berbeda saat menolongnya tadi.


Rian tidak memiliki pilihan lain, selain menceritakan semuanya kepada Alya.


“Oke, gue cerita sama lo. Jadi ... malam itu ....”


Malam itu beberapa tahun yang lalu, Rian pergi ke pasar malam seperti ini dengan seorang gadis yang sedang ia dekati. Keadaan masih berjalan normal sampai ia memesan dua tiket untuk bianglala tersebut.


“Ayo naik,” ajak Rian, gadis itu pun mengikutinya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Mereka pun masuk ke dalam bianglala tersebut, dan duduk bersebelahan. Rian sudah menyiapkan sepasang cincin yang ia bawa di dalam sakunya. Walaupun hanya sepasang cincin yang murahan, tetapi ia merasa sangat senang jika bisa memakainya bersama dengan gadis yang sedang ia dekati saat ini.


Rian memandangnya dengan dalam, “Boleh nanya sesuatu, gak?” tanya Rian, gadis itu mengangguk sembari tersenyum mendengarnya.


“Perasaan kamu ke aku bagaimana, sih?” tanya Rian, gadis itu terdiam mendengar pertanyaannya.


“Aku seneng bisa deket sama kamu,” jawab si gadis, membuat Rian tersenyum mendengar jawabannya.


Saking senangnya, Rian mengambil sepasang cincin yang sudah ia siapkan sebelumnya di saku celananya. Ia memandang ke arah gadis yang ia cintai, sembari menunjukkan sepasang cincin tersebut ke hadapannya.

__ADS_1


Gadis itu tidak menyangka, bahwa Rian akan memberikannya cincin secepat ini.


Rian tersenyum di hadapannya, “Maaf masih cincin titanium murah. Nanti aku ganti, kalau kita beneran resmi menikah,” ucapnya membuat sang pujaan hati meleleh di hadapannya.


“Makasih,” ucap sang gadis, Rian pun mengangguk dan menyodorkan cincinnya kepada gadis itu.


“Tolong pakein aku cincin, habis itu aku pakein kamu cincin,” ucap Rian, si gadis mengangguk mendengarnya.


Gadis itu menerima cincin tersebut, dan memakaikannya kepada Rian. Kemudian Rian hendak memakaikan cincin itu pada jari manis gadis itu.


“Hah ... si waria jatuh cinta!” teriak seseorang yang berada satu ruangan di bawahnya.


Perhatian dan fokus Rian teralihkan ke arah sumber suara, begitu pun perhatian si gadis yang bersama dengan Rian tersebut.


“Ahah jangan mau sama Rian, Rian itu waria! Dia bukan cowok tulen!” teriak seseorang yang tak lain adalah Syara.


“Ya, kalau pagi aja namanya Rian! Kalau malem, namanya Rina!!” teriak Bram berusaha meledek Rian.


Mendengar ucapan mereka yang mencela Rian, gadis itu pun merasa sangat kaget dan tidak tahu tentang informasi tersebut. Awalnya ia sangat tidak percaya dengan yang Syara dan Bram katakan, tetapi karena teringat dengan kejanggalan selama berhubungan dengan Rian, gadis ini pun mempercayai perkataan mereka.


“Bener yang dibilang mereka, Yan?” tanyanya, Rian memandangnya dengan tatapan kebingungan.


Gadis itu bangkit dari tempat ia duduk, “Pantesan waktu itu aku lihat lipstick dan bedak di tas kamu. Ternyata beneran kamu tuh waria!” bentaknya, yang merasa tidak terima dengan keadaan Rian saat ini.


Rian memandangnya dengan bingung, “Kejadiannya gak seperti yang mereka bilang,” ujarnya berusaha menyangkal pemikiran buruk gadis ini.


“Jangan menyangkal lagi, Yan! Gak cuma lipstick sama bedak aja, aku juga ngeliat wig di tas kamu, dan juga baju perempuan yang seksi! Lengkap sama sepatu heels juga pula! Selama ini aku selalu diam, karena aku gak tau kebenarannya, tapi sekarang aku tau dan aku gak akan mau lagi sama kamu!” bentaknya dengan kasar, membuat hati Rian sakit mendengarnya.


Gadis itu memandang sinis ke arah Rian, “Kita ... putus sampai di sini! Jangan pernah muncul lagi di hadapan aku, dan jangan pernah berharap bisa kembali.”

__ADS_1


DEG!


Mendengar ucapan perpisahan itu, Rian merasa sangat sedih dengan ucapan yang gadis itu katakan. Baru saja Rian merasakan perasaan bahagia, tetapi dia sudah dibuat sedih dan hancur karena perkataan tersebut.


Rian bangkit untuk mengampiri gadis itu, “Tolong ... jangan--”


“Jangan mendekat!” pangkas gadis itu, membuat Rian menghentikan langkahnya di hadapannya. Gadis itu membuka pintu bianglala itu, dan kembali memandang ke arah Rian, “Kalau kamu mendekat, aku bakal loncat dari sini!” ancamnya, membuat Rian ketakutan mendengar ancamannya.


Rian mendelik kaget mendengarnya, dan bingung harus berbuat apa. Apalagi saat ini mereka sedang berhenti pada titik ketinggian yang paling tinggi dari bianglala ini.


“Apa gak bisa dibicarain lagi baik-baik? Aku gak mau berpisah dari kamu,” ucap Rian yang merasa sangat berat melepaskan sosok gadis yang ia cintai.


“Gak ada yang perlu dibicarain lagi, Yan! Aku udah gak mau sama kamu! Aku malu banget berhubungan sama kamu, nanti aku dikatain sama orang karena deket sama kamu yang seorang waria!” bentaknya kasar, hingga sampai menusuk ke dalam hati Rian.


Rian menggenggam erat cincin yang hendak ia sematkan pada jari manis gadis itu, karena ia tidak bisa begitu saja melepaskan gadis yang sudah ia suka sejak lama.


‘Aku gak bisa begini,’ batin Rian yang merasa tidak bisa menghentikan perasaan sayang ini terhadap gadis itu.


Bram dan Syara memandang keadaan mereka yang semakin suram, membuat mereka hanya bisa diam memperhatikan mereka. Mereka tidak bisa lagi mengatakan hal apa pun, karena mereka yang sudah tidak ingin memperkeruh keadaan.


“Udah, jangan ngomong apa-apa lagi!” ujar Bram, membuat Syara mengangguk mendengarnya.


Rian melangkah kembali mendekati gadis itu, dan gadis itu spontan melangkah mundur dari hadapan Rian.


“Jangan ke sini! Aku beneran bakalan loncat dari sini--”


“Ahh!!” teriak gadis itu, yang ternyata sudah lebih dulu tergelincir ke bawah, sampai kepalanya terbentur besi bianglala yang sangat keras.


Semua orang berteriak histeris, termasuk Syara dan juga Bram yang melihat kejadiannya dan mengetahui dengan jelas. Bahkan, Rian sampai tidak bisa berkata-kata, dan hanya mendelik diam melihat kepala gadis itu yang sudah berlumuran dengan darah, dengan Rian yang tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


__ADS_2