Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Melihat Yang Tidak Boleh Dilihat


__ADS_3

Matanya membulat, karena mengetahui air yang tidak keluar dari keran tersebut.


Alya berkacak pinggang, “Lho, kenapa ini airnya gak nyala, sih? Apa belum bayar tagihan PDAM?” gumamnya bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


“Ah, enggak kok! Udah bayar tanggal 10 kemarin. Kenapa, ya? Masa sih rusak?” gumamnya lagi, yang masih saja bertanya-tanya tentang keran yang tidak menyala airnya itu.


“Gak bisa nih! Harus bilang sama developer-nya!” gerutunya, sembari melangkah ke arah handuk yang ia letakkan pada bezel tersebut.


Karena air di kamar mandi pribadinya yang tidak menyala, Alya terpaksa harus mandi di kamar mandi luar ruangan.


Rasa malas selalu menghantui, karena ia sama sekali tidak pernah mau mandi di kamar mandi luar ruangan.


“Ribet kalau mandi di kamar mandi luar! Harus pakai baju dulu, gak bisa langsung handukan terus keluar dari kamar mandi,” gerutunya, yang segera melangkah keluar dari ruangan kamarnya.


Kini, Alya telah sampai di depan pintu kamar mandi bagian depan. Alya menekan tuas pembuka pintu, sehingga pintu pun terbuka dengan lebar.

__ADS_1


Matanya mendelik, ketika ia melihat ada seseorang yang tak asing baginya, yang saat ini sedang membilas tubuhnya di bawah gemericik air dari keran shower.


Beberapa saat pandangan mata mereka saling bertemu, membuat kesunyian terasa saat mereka saling memandang satu sama lain.


Mata Alya memandang turun ke bawah, membuat Rian ikut memandang turun ke arah bawah tubuhnya, yang sama sekali tidak menempel sehelai kain pun di sana.


Mereka kembali memandang satu sama lain, membuat keduanya kaget dan berteriak dengan kencangnya.


“Ah!!” teriak mereka bersamaan, hampir seperti vocal group yang sedang bernyanyi.


Dengan segera, Alya menutup matanya karena sudah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Sementara itu, Rian dengan segera menyambar handuk kecil yang menggantung rapi pada bezel, dan segera menutupi area yang tidak seharusnya terlihat.


“KELUAR!!” pekik Rian, Alya yang masih berteriak itu, segera tersadar, dan langsung menutup pintunya dengan sangat keras.


Matanya masih tertutup kedua telapak tangannya, ia masih tidak percaya, kalau dirinya ternyata sudah melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat.

__ADS_1


Jantungnya terasa berdebar dengan sangat kencang, saking kencangnya sampai ia tidak mengerti, bagaimana cara untuk menghentikannya.


Alya sangat bodoh, tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar mandi tersebut.


Rian menyelesaikan mandinya dengan segera. Mood-nya sudah hilang, sehingga membuatnya harus cepat-cepat keluar dari kamar mandi tersebut.


Rian segera memakai kaus yang sudah kotor, sampai kausnya saja terbalik. Setelahnya, ia keluar dan berhadapan dengan Alya, yang ternyata masih saja menutupi matanya dengan kedua tangannya.


Pandangannya menajam ke arah Alya, “Alya!!” pekik Rian, membuat Alya terdiam mendengarnya. “Ngapain lo masuk segala, sih!” bentaknya, Alya merasa sangat malu.


“Apaan sih! Lo kenapa gak kunci pintunya?!” pekik Alya, yang merasa itu bukanlah kesalahannya.


“Gue memang gak pernah kunci pintu kamar mandi!” bentak balik Rian, Alya merasa kesal mendengarnya.


Mereka saling membentak, walaupun Alya sama sekali tidak memandang ke arahnya.

__ADS_1


“Ya salah lo sendiri! Kenapa gak pernah kunci pintu kamar mandi!” bentak Alya, yang sudah gemas dengan apa yang Rian lakukan.


Mereka sama-sama kesal, dengan keadaan yang sama-sama mereka tidak kuasai itu.


__ADS_2