
Rian menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa gak mau balik ke kota?” tanyanya bingung, padahal ia juga ingin mengadu nasib di kota sana, agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk ia jalani.
“Gue gak suka diatur dan dipaksa gitu! Dion maksa gue dan ngatur gue, bahkan ngancem gue buat balik lagi ke sana! Gue gak suka, dan gue gak mau!” jawab Alya dengan emosi yang sudah tertuang di dalamnya.
Rian sangat paham dengan apa yang Alya rasakan, karena memang terkekang itu sangat tidak enak.
“Gak usah takut, ‘kan ada gue! Gue gak akan bikin lo merasa gak nyaman nantinya. Gue bakalan terus buat lo seneng, walaupun mereka bikin lo gak enak dan tertekan. Tugas lo cuma ngejalanin apa yang sedang lo jalanin,” ucapnya memberikan pesan singkat kepada Alya, untuk berusaha semampu yang ia bisa.
Alya memandangnya dengan bingung, karena ia tidak bisa melakukan apa pun selain diam. Kenyataan tentang dirinya yang harus kembali ke kota, tidak dapat ia pungkiri. Ia harus melakukannya, suka atau tidak suka, demi pekerjaannya saat ini yang merupakan impian masa kecilnya.
__ADS_1
“Gue harus kembali ke kota, walaupun gue gak mau.” Alya memandang Rian dengan tatapan sayu.
Rian merasa ada sebuah keterpaksaan di sini. Memang benar ada sebuah keterpaksaan, tetapi di sisi lain Alya juga merasa senang jika ia bisa berakting kembali dan menjalani impiannya menjadi aktris ternama di negeri ini.
“Kalau lo kepaksa banget, sebanget-bangetnya, mending jangan dijalanin,” ucap Rian yang memberikan saran kepadanya.
Sejak pertama mereka bertemu, Rian sama sekali tidak mengetahui apa pekerjaan Alya. Ia jadi tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya dengan Alya, dan juga Dion.
Rian memandang dalam ke arah Alya, “Memangnya, lo sebenernya kerja apa, sih? Terus, kerjaan apa yang bakalan lo tawarin ke gue?” tanyanya yang mulai penasaran dengan hal ini.
__ADS_1
Alya menghelanya napasnya panjang, ‘Udah gue duga, dia gak akan tau kalau gue itu artis,’ batinnya yang merasa sangat gagal menjadi seorang artis terkenal.
Karena tidak ada jawaban dari Alya, Rian pun merasa semakin penasaran dengan jawabannya.
“Jawab, dong!” ucap Rian, membuat Alya memandang ke arahnya dengan sedikit terkejut.
“Ah ... itu ... gue ini sebenernya artis yang masih junior. Istilahnya magang, jadi gajinya gak sebesar artis yang sudah terkenal. Pekerjaan yang akan gue kasih ke lo nanti, itu sebagai manajer gue, menggantikan Dion yang sangat otoriter. Satu-satunya orang yang gak bisa gue lawan, cuma Dion. Jadi gue gak mau hidup terkekang lagi di bawah kendali dia,” ucap Alya menjelaskan, sontak membuat Rian mendelik kaget mendengar ceritanya.
“Hah? Jadi lo itu ... artis?!” pekik Rian, yang memang benar tidak mengetahui pekerjaan Alya itu.
__ADS_1