
Alya mendelik kaget mendengarnya, “Apa?!” pekiknya, yang tidak percaya dengan hal tersebut.
Alya tak percaya dengan hal tersebut, karena ia baru saja membeli satu dus mi instan untuk persediaannya. Baru sekitar seminggu sejak ia membelinya, makan siang pun pasti di lokasi syuting, ia tidak percaya mi instan sebanyak itu sudah habis saja.
Rian terkejut melihat ekspresi Alya, membuatnya kebingungan harus bersikap seperti apa.
“Kenapa?” tanya Rian yang agak takut bertanya seperti itu.
Alya memandangnya dengan tidak percaya, “Gue baru beli mi satu dus seminggu lalu! Makan siang aja gue gak pernah di apartemen, kenapa ini mi cepet abis, sih?” teriaknya, yang merasa aneh karena mi yang ia persiapkan untuk sebulan ke depan, ternyata sudah ludes tak tersisa.
“Ya ... mau gimana lagi? Memang gak ada!” Rian berkata seandanya, membuat Alya menghela napasnya dengan panjang.
Alya memandangnya dengan sinis, “Ya udah ya udah gimana? Gue masih laper begini!” bentaknya, membuat Rian merasa sedikit takut jadinya.
__ADS_1
“Gak usah sinis gitu sih, ‘kan tinggal beli lagi?” ujar Rian, semakin membuat Alya sinis memandangnya.
“Enak aja tinggal beli lagi! Lo gak mikirin apa, gimana nanti kalau ada wartawan yang dateng, buat nanya-nanya soal berita yang lagi viral? Gue kalau lagi laper galak, gue takut citra gue sebagai artis rusak, cuma karena gue gak bisa jaga sikap gue,” ujarnya, membuat Rian memandangnya dengan datar.
“Ya elah, jawab aja seadanya kayak yang tadi gue bilang!” ujarnya, Alya merasa tidak bisa mengatakannya.
“Tetep gue gak bisa ngomong! Gue gak mau ketemu wartawan dulu!”
Rian memandangnya dengan datar, “Ya udah, sini uangnya. Biar gue yang beli ke warung,” ucapnya, sontak membuat Alya tertawa kecil mendengarnya.
Rian kebingungan mendengar ucapan Alya, “Hah? Apa itu mini market? Apa dia kayak warung, yang jual semua makanan dan bahan pokok yang kita butuhin? Ada beras gak di sana?” tanyanya dengan sangat polos, sontak membuat Alya semakin tertawa dengan keras.
“Aduh ... ada beras, tapi ya ... gak dijual per liter kayak di warung,” jawab Alya, Rian hanya bisa ber-oh-ria.
__ADS_1
“Tapi bener ada, kan?” tanya Rian memastikan, Alya hanya mengangguk kecil mendengarnya.
Alya melangkah ke arah kamarnya, untuk mengambil uang pecahan yang akan digunakan untuk membeli mi instan di mini market. Setelah mendapatkan uang pecahan tersebut, Alya kembali ke ruangan dapur.
Setelahnya, Alya yang sudah sampai di dapur, menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada Rian.
“Nih, sisanya beli camilan apa gitu ... ciki atau biskuit,” ucap Alya, Rian menerima uang yang ia sodorkan padanya.
“Di mana mini marketnya? Gue gak tau,” tanya Rian yang memang benar belum mengetahui daerah ini.
“Mini marketnya ada di seberang gedung ini. Dia di gedung apartemen seberang,” jawab Alya, membuat Rian mengerti mendengarnya.
“Oke deh, gue ke sana dulu,” ucap Rian, yang lalu bersiap untuk pergi ke mini market yang ada di seberang gedung apartemen ini.
__ADS_1
Rian melangkah keluar dari apartemen ini, menuju ke arah lift. Untung saja ia sempat melihat Alya yang menekan tombol lift kemarin, jadi ia tidak terlalu gagap tentang cara menggunakan lift ini.