
Rian berusaha memberanikan diri untuk memandang ke arah Alya, “Lo belum tidur?” tanyanya, Alya menoleh dan memandang ke arah Rian.
“Belum,” jawab Alya. “Lo juga jangan-jangan belum tidur?”
Rian mengangguk kecil mendengarnya, “Ya, gue gak bisa tidur,” jawabnya, membuat Alya kebingungan mendengarnya.
“Kenapa gak bisa tidur?” tanya Alya lagi.
“Simpel, biasa hidup sendiri ... tidur sekamar dengan orang lain jadi terasa aneh. Terlebih lagi orang lain itu seorang cewek. Istri sendiri pula ....” Rian mulai membiasakan nada bicaranya di hadapan Alya, agar tercipta suasana yang tidak terkesan kaku.
Alya menghela napasnya dengan panjang, “Istri bohongan, karena terpaksa aja,” ucapnya meluruskan, membuat Rian tersadar dengan status mereka saat ini.
Rian menundukkan kepalanya, “Bener apa yang lo bilang, istri bohongan dan karena terpaksa,” gumamnya, membuat Alya memandang ke arahnya dengan dalam.
Sejenak mereka saling terdiam satu sama lain, kemudian saling memandang setelah beberapa detik.
“Mau ngobrol di luar?” tawar mereka secara serentak, membuat mata mereka mendelik mendengar ucapan mereka yang sangat kompak tanpa direncanakan.
“Boleh,” jawab mereka bersamaan lagi, yang lagi-lagi membuat mereka mendelikkan mata mereka.
Alya membuang pandangannya darinya, ‘Kenapa malah jadi canggung gini, sih?’ batinnya yang merasa bingung dengan keadaan.
“Di sini lagi ada pasar malam, lho!” ucap Rian, membuat Alya memandang ke arahnya dengan senang.
“Ada pasar malam? Gue mau ke sana! Anterin gue ke sana!” ujar Alya, yang merasa sangat senang ketika mendengar pasar malam.
“Memangnya mau ngapain di sana?” tanya Rian, memastikan lebih dulu dengan tujuan Alya.
Alya memandang ke arahnya dengan senyuman, “Mau naik bianglala,” jawabnya, Rian membeku mendengar Alya mengatakan hal seperti itu.
__ADS_1
Ada banyak sekali masa lalu Rian, di bianglala. Ketika mendengar kata bianglala, ia tiba-tiba saja teringat dengan sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya.
Melihat Rian yang terdiam, Alya merasa sangat bingung dengan yang ia lakukan.
“Yan? Kenapa diem?” tanya Alya, membuat Rian tersadar dari lamunannya.
Rian menggelengkan kepalanya, “Gak apa-apa!” jawabnya, “bianglala? Ayo kita ke sana sekarang!” ajaknya, sembari menarik tangan Alya.
Alya kembali menahan tangan Rian, “Eh tunggu!” ucapnya membuat Rian menghentikan langkahnya dan memandang ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Rian.
“Masa sih gue ke pasar malam pake baju kayak gini?” Alya merasa ragu dengan memakai baju mendiang ibunya itu.
Rian menjadi kebingungan, mendengar ucapan Alya yang seperti itu. “Gimana, dong? Masa lo mau pakai baju kaus gue yang kemaren gue kasih ke lo?” tanyanya, Alya merasa tidak mempermasalahkan hal itu, dibandingkan kalau ia harus memakai pakaian yang terlihat sangat kolot ini.
“Gak apa-apa! Gue males pake pakean yang kayak gini!”
“Celananya gimana?” tanya Rian.
“Gue ada celana pendek. Pakai celana pendek aja, nanti di pasar malam sekalian beli pakaian untuk seminggu ke depan,” jawab Alya, membuat Rian mengangguk mendengarnya.
“Ya udah, ganti baju dulu deh!” suruh Rian, sembari tak sengaja memandangi tubuh Alya yang terlihat aduhai bak gitar Spanyol.
“Temenin,” ucap Alya dengan nada yang manja, membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.
Jantungnya terus terpacu, saking kagetnya mendengar Alya yang mengatakan hal demikian padanya. Ia tak sengaja menelan salivanya, yang terdengar dengan jelas karena tak ada suara selain suara salivanya yang tertelan.
Alya tersenyum menggoda, dan berjalan di hadapan Rian dengan tangan yang merambah dari bahu ke dada Rian.
__ADS_1
“Temenin, ya!” bisiknya dengan jahil, membuat Rian menjerit kencang saking kagetnya dengan apa yang Alya lakukan itu.
“Ah!!” jerit Rian, membuat Alya ikut menjerit karena terkejut mendengar jeritan Rian.
Alya memandangnya sinis kemudian memukul bahu Rian, “Kenapa sih lo teriak-teriak gitu?! Disuruh keluar malah diem ngelamun! Gue ‘kan ... mau ganti baju!!” bentak Alya, membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.
Rian mengusap wajahnya dengan kasar, karena ia sangat sadar bahwa apa yang Alya katakan tadi hanyalah sebuah halusinasinya yang ambigu. Alya tidak mengatakan hal yang membuatnya tergoda, tetapi justru malah memintanya untuk keluar dari ruangan kamar ini, karena dirinya yang hendak mengganti bajunya.
Karena merasa sudah malu dengan keadaan, Rian pun keluar dari ruangan kamar mereka untuk meninggalkan Alya di sana. Alya memandangnya dengan bingung, karena ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Rian tadi.
“Dia kenapa, sih? Aneh banget! Disuruh keluar malah bengong!” gerutu Alya, yang tidak habis pikir dengan sikap Rian yang sudah mulai ambigu.
Karena tidak ingin membuang-buang waktu karena memikirkan hal yang tidak penting, Alya segera mengganti bajunya agar bisa cepat menuju pasar malam yang sangat ia ingin datangi.
Setelah menunggu beberapa saat, Alya pun keluar dari ruangan kamarnya dan berdiri di hadapan Rian yang sudah menunggunya di luar kamarnya. Ia mengenakan jaket lusuh miliknya, yang hanya ia miliki satu-satunya itu. Ia bahkan tidak pernah mencucinya, saking tidak ada jaket pengganti yang bisa ia pakai ketika jaket yang ini kotor.
“Jaketnya udah lama banget gak dicuci,” gumam Rian, sembari mencium lengan tangannya khawatir tercium bau yang tidak sedap dari jaket yang masih ia kenakan.
Terlihat Alya yang baru saja keluar dari kamarnya, dengan memakai kaus miliknya yang ukurannya lebih besar daripada tubuh Alya. Hal itu membuat dada Alya terlihat sangat terlihat, karena ukuran bajunya yang longgar tidak sengaja membentuk dada Alya.
Rian agak menunduk, ketika memandang ke arah bawah, “Udah?” tanyanya, Alya merasa tersinggung melihat Rian yang tidak melihat ke arahnya.
Alisnya terangkat sebelah, “Kenapa lo gak ngeliat ke muka gue? Ngomong kok kayak gue ada di bawah?” tanya Alya sinis, membuat Rian gugup mendengarnya.
Masalahnya, Rian tidak bisa memandang ke arah hal yang menonjol seperti itu. Saat ada permasalahan dengan si botak malam tadi pun, Rian tidak berani memandang ke arah dada Alya, yang bajunya sudah tersobek karena tak sengaja.
“Gak apa-apa,” bantah Rian, yang tidak ingin Alya mengetahui apa pun tentang apa yang ia pikirkan. ”Katanya mau ke pasar malam? Ayo keburu larut,” ajak Rian, yang mengalihkan topic pembicaraan mereka, tanpa melihat ke arah Alya sekalipun.
Rian berjalan meninggalkan Alya lebih dulu, membuat Alya memandangnya dengan tatapan yang sangat heran.
__ADS_1
“Dia kenapa, sih?” gumam Alya, yang merasa aneh berhadapan dengan Rian saat ini.
Karena takut malam yang terlalu larut, Alya segera mengikuti Rian dari arah belakangnya dan segera pergi berjalan bersamanya.