
Mendengar suara Alya yang berteriak, Rian pun lantas menoleh ke arah sumber suara.
Pandangannya terpaku, melihat ke arah Alya yang saat ini sedang berkacak pinggang, dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
Rian menelan salivanya, karena merasa sangat takut melihat ekspresi Alya yang seperti itu adanya.
“Alya ...,” gumam Rian, yang merasa khawatir, jika Alya sampai mengamuk di tempat seperti ini.
Rachel menyunggingkan senyumannya, karena ia merasa sudah membuat lalat terperangkap ke dalam perangkapnya. Ia sengaja tidak menutup pintu ruangannya, agar Alya bisa dengan mudah menemukan keberadaan Rian.
‘Lalat masuk ke dalam perangkap,’ batinnya, yang merasa sangat senang bisa melakukan hal itu.
Rian memandang Alya dengan pandangan yang khawatir, “Al, udah selesai tag adegan?” tanyanya, yang merasa sangat tidak enak dengan Alya.
Melihat para crew yang sedari tadi berlalu-lalang di sekitar mereka, Alya masih harus menahan dirinya, karena ia tidak ingin membuat masalah dengan artis yang julid seperti Rachel.
__ADS_1
Sudah cukup permasalahan Alya dengan lawan mainnya kala itu. Ia tidak ingin menambah masalahnya lagi dengan Rachel.
Alya menghela napasnya dengan kasar, “Udah. Lo dicariin dari tadi, kenapa malah di sini?” tanya sini Alya, Rian menyeringai tak enak di hadapannya.
Seringai Rian itu benar-benar membuat Alya merasa kesal. Dalam hatinya ia memaki Rian, saking dirinya merasa kesal pada Rian.
Matanya melotot ke arah Rian, ‘Rian, awas aja lo nanti!’ batin Alya, seakan dimengerti oleh Rian yang memandangnya.
“Alya, tadi gue cuma minta tolong Rian buat makeup-in gue. Terus gue ngajak Rian sarapan, karena kayaknya Rian belum sarapan pagi ini. Kasihan bukan, kalau Rian kerja tapi gak ada tenaganya?” Rachel berusaha mengambil alih keadaan.
‘Rachel si ular berbisa! Dia sengaja manfaatin keadaan, mentang-mentang gue lupa ngajak Rian makan! Gue juga belum makan karena Rian pergi dari rumah semalam. Gimana bisa gue ajak Rian makan?!’ batin Alya kesal dengan Rachel.
Rian melihat ada rasa benci di mata Alya, membuatnya merasa harus hati-hati.
‘Alya gak akan ngamuk, bukan?’ batin Rian, yang sangat berjaga-jaga dengan hal itu.
__ADS_1
Rachel tersenyum, sembari mengambilkan makanan yang ada di dekatnya. Ia mengulurkannya pada Alya, membuat Alya menatapnya dengan penuh kebencian.
“Ini, makanannya buat lo juga. Rian belum makan, lo juga belum makan. Kita makan bareng-bareng, ya?” ujarnya, berusaha baik di hadapan Alya.
Alya memandangnya dengan senyuman sinis, ‘Bisa aja lo nenek lampir!’ batinnya, yang malah tersinggung diberikan makanan oleh Rachel.
Namun, karena tidak mau ada keributan, Alya pun menerimanya dengan wajah yang hampir tidak bisa ia kondisikan.
“Makasih,” ujar Alya setelah menerima makanan tersebut. Alya menoleh ke arah Rian, “Ayo ke ruangan!” ajaknya sembari menarik tangan Rian.
Rachel yang melihatnya menjadi amat tidak rela. “Eh, mau ke mana?” tanyanya kaget, melihat Alya yang menarik Rian pergi dari sana.
Rian menoleh ke arah Rachel, “Maaf Rachel, gue ke ruangan Alya dulu!” teriak Rian, membuat Rachel merasa sangat kesal.
Lagi-lagi Rian pergi dari hadapannya. Sia-sia apa yang ia lakukan kali ini.
__ADS_1
“Gagal!” geramnya, yang merasa kesal dengan apa yang baru saja terjadi dengan mereka.