Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Konferensi Pers


__ADS_3

Mereka sudah sampai di lokasi syuting, yang biasa Alya datangi. Projek yang Alya jalani, kurang lebih tinggal satu bulan lagi.


Menjelang perpisahannya, Alya harus bekerja semaksimal mungkin, agar ia bisa dengan puasnya menikmati hasil yang selama ini ia inginkan.


‘Demi popularitas! Demi impian yang gue impikan selama ini!’ batin Alya, yang merasa dirinya harus bangkit dari keterpurukan ini.


Mereka masih di dalam mobil, masih bersiap untuk turun dari dalam mobil.


Melihat para wartawan yang sudah berada di luar mobil mereka, Rian pun memandang ke arah Alya, “Gimana? Ada wartawan di luar,” ujarnya, mengingatkan Alya tentang para wartawan itu.


Alya memandangnya dengan tegas, “Kita adain konfrensi pers!” ujarya dengan tegas, membuat Rian tersenyum mendengarnya.


Mereka pun bersiap untuk keluar, dengan Rian yang sudah membawa koper dan juga tas kecil miliknya. Sementara itu, Alya hanya membawa tas kecilnya saja.


Rian keluar dari mobil Alya, dan langsung menuju ke arah pintu mobil sebelah kiri. Ia membukakan pintu untuk Alya, sehingga Alya bisa keluar dari dalam mobilnya.


Para wartawan mendelik kaget, ketika melihat Alya yang baru saja datang bersama dengan seseorang yang sedang digosipkan bersama dengannya.


“Alya!” teriak salah satu dari mereka, membuat teman-temannya yang lain melihat ke arah yang ia lihat.

__ADS_1


Mereka berbondong-bondong menghampiri Alya dan Rian, untuk meminta penjelasan tentang hubungan mereka yang sedang menjadi topik perbincangan yang hangat itu.


“Alya!”


Mereka berhasil mengerubungi Alya dan Rian, dengan sikap Alya yang sepertinya sudah sangat siap tentang hal itu.


“Alya, gimana kabarnya setelah dua hari cuti?” tanya wartawan tersebut.


“Seperti yang kalian lihat, saya baik-baik saja.” Alya menjawabnya dengan tenang.


“Alya, siapa yang ada di sebelah kamu? Apa selingkuhan kamu? Lalu, bagaimana dengan Dion?” tanya wartawan yang lain.


“Lelaki yang ada di samping saya ini ... adalah manajer saya yang baru. Saya sudah memberhentikan Dion, dan posisi Dion sekarang sudah digantikan oleh lelaki bernama Rian ini,” ujar Alya, menjawab pertanyaan mereka.


“Status kerjanya saja yang diberhentikan, atau status hubungan juga?”


Pertanyaan ini yang membuat Alya diam terpaku. Ia merasa harus mengatakan kebenaran, bahwa mereka sudah tidak bersama seperti dulu lagi.


Alya menghela napasnya, dan memandang mereka dengan tegas, “Saya sudah tidak bersama Dion lagi. Kita sudah berpisah,” jawabnya, sontak membuat wartawan semakin heboh saja mendengarnya.

__ADS_1


“Bagaimana bisa, Alya?”


“Lalu, apakah Dion menerimanya?”


“Kalian masih berpeluang untuk bersama lagi, tidak?”


“Apa kalian masih berhubungan baik, satu sama lain?”


Pertanyaan mereka sudah sangat sesak untuk dijawab. Alya menunduk, karena ia sudah tidak sanggup lagi menahan semua ketegaran dalam hatinya.


Melihat Alya yang tidak menjawab, dan seperti lemas, Rian merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Alya. Dengan kesadaran diri yang tinggi, Rian segera merangkul Alya, dan menuntunnya untuk berjalan menjauhi kerumunan wartawan tersebut.


Rian menuntun Alya pergi, sementara itu para pengawal menahan para wartawan itu, agar tidak bisa menyentuh dan mendekati Alya kembali.


Mereka kini berhadapan dengan sutradara, yang sejak kemarin memintanya untuk bekerja kembali. Suasana nampak canggung, karena Alya yang belum mengenalkan Rian pada sang sutradara.


Melihat sang sutradara, Alya seketika mengubah ekspresinya menjadi sangat bersemangat.


“Halo, Pak,” sapa Alya dengan rasa bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2