
Alya merasa sangat sendu, ketika Nenek bergumam seperti itu. Ia merasa sangat sendu, karena Nenek yang sangat kehilangan anak perempuannya itu, dengan cara yang sangat tragis.
Alya mengusap bahu Nenek, berusaha untuk menyalurkan energi positif untuknya, “Nek, jangan dipikirin lagi, ya! Sekarang Mama udah baik-baik aja di sana. Dia udah gak akan ngerasain penderitaan apa pun lagi,” ucap Alya, berusaha untuk membuat neneknya menerima keadaan.
Nenek mengangguk mendengarnya, “Iya, dia pasti sudah bahagia di tempatnya sekarang.”
Alya mengangguk sembari tersenyum, ketika mendengar ucapan Nenek yang seperti itu. Alya merasa, bahwa Nenek sudah bisa lebih menerima keadaan yang menimpa ibunya semasa hidupnya.
Ya, sudah 20 tahun berlalu. Waktu bisa saja mengikis kesedihan, tetapi tidak bisa benar-benar menghapusnya.
Ketika sedang memandang ke arah Alya, Nenek tak sengaja melihat ke arah seorang lelaki yang berdiri di belakang Alya. Ia menyipitkan kembali matanya, berusaha untuk melihat dengan jelas sosok lelaki yang ada di hadapannya itu.
“Kamu ... siapa?” tanya Nenek, Alya sampai terlupa dengan sosok Rian yang sejak tadi berada di belakangnya itu.
Rian tersenyum, tak bisa mengatakan apa pun soal siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Alya. Hal itu hanya Alya yang bisa mengatakannya pada Nenek.
Menyadari akan hal itu, Alya pun tersenyum di hadapan Nenek, untuk mengalihkan perhatian Nenek dari Rian.
“Ini Rian, Nek. Rian ini ....” Alya melemparkan pandangannya ke arah Rian, kemudian memandang Nenek kembali, “suami Alya,” sambungnya, sontak membuat Nenek terkejut mendengarnya.
“Apa? Kamu sudah menikah?! Kenapa gak kasih tau Nenek?” tanya Nenek yang sangat terkejut mendengarnya, Alya merasa sangat bingung harus menjawab apa tentang hubungan mereka itu.
“Gimana ... kalau kita masuk dulu, Nek? Nanti Alya ceritain tentang ini,” ucapnya, membuat Nenek sampai terlupa menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Oh, maaf Nenek lupa gak nyuruh kalian masuk. Ayo kita masuk dulu.”
Alya dan Rian sama-sama melontarkan senyumannya ke arah Nenek, kemudian mereka melangkah masuk ke dalam rumah Nenek yang hampir bobrok itu.
__ADS_1
Nenek menyediakan minuman untuk mereka, sementara itu mereka duduk pada kursi kayu yang ada di ruangan makan rumah Nenek. Tak hanya penampilan rumah Nenek saja yang sudah tua, tetapi barang-barang yang ada di dalam rumahnya pun mayoritas menggunakan barang-barang yang sudah tua dan sudah lama sekali tidak terlihat pada peradaban orang milenial di zaman ini.
Alya tersenyum di hadapan Nenek yang baru saja duduk di hadapannya, “Makasih Nek, udah repot-repot bikinin minuman untuk Alya dan Rian,” ujarnya, Nenek tersenyum mendengarnya.
“Gak repot, cucu Nenek ke sini aja udah bikin Nenek seneng,” ucap Nenek, yang sama sekali tidak merasa terbebani oleh kedatangan Alya dan juga Rian.
Rian pun tersenyum, “Saya minum ya, Nek,” ujarnya meminta izin lebih dulu kepada Nenek.
“Silakan,” ucap Nenek dengan sangat sopan di hadapan Rian.
Mereka sejenak menikmati minuman yang disiapkan Nenek untuk mereka. Rian sangat senang, karena ia yang baru pertama kali disambut baik oleh orang lain.
Nenek memandang tajam ke arah Rian, seperti orang yang mengenali sosok Rian. Namun, karena ia yang sudah sepuh, ia lupa pernah bertemu di mana dengan Rian.
“Nenek kayaknya pernah ngeliat kamu, deh! Di mana, ya?” gumam Nenek, sembari terus menyipitkan matanya untuk memperhatikan wajah Rian dengan baik.
“Emm ... Nenek pernah ngeliat saya? Di mana, Nek?” tanya Rian, Nenek masih saja menyipitkan pandangannya ke arah Rian.
“Entahlah ... Nenek sendiri juga gak yakin. Apa hanya mirip, ya? Kamu ngingetin Nenek sama waria yang ada di kampung sebelah,” ujarnya, membuat Rian benar-benar sangat kaku dan khawatir.
Alya pun merasa sangat tegang, ketika Nenek mengatakan hal demikian di hadapan Rian. Ia khawatir, kalau Nenek benar-benar mengingat tentang sosok Rian yang sebenarnya memang benar adalah seorang waria di kampung sebelah.
“Ah, mungkin hanya mirip, Nek!” sanggah Rian, yang benar-benar tidak ingin membuat Alya malu dengan hal itu.
“Bisa jadi,” gumam Nenek yang nampaknya sudah menyerah dengan menerka-nerkanya itu.
Alya tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menikmati teh manis hangat yang dibuat Nenek, dan tidak menambahkan perkataan apa pun yang bisa mengubah keadaan.
__ADS_1
“Oh ya, gimana kerjaan kamu? Lancar?” tanya Nenek, Alya menjadi senang karena ada topic pembicaraan yang lain yang bisa mereka bahas saat ini.
“Lagi cuti, Nek. Mungkin ... beberapa hari ke depan baru Alya masuk kerja lagi,” jawab Alya, membuat Nenek mengangguk-anggukkan kecil kepalanya.
Berbicara tentang pekerjaan, Rian sama sekali tidak mengetahui pekerjaan Alya. Ia jadi terus bertanya-tanya, apalagi mengingat saat Alya meminta dirinya untuk menjadi manajernya. Rian sama sekali tidak berpikir panjang, karena ia sudah tergiur soal gaji yang bisa ia pakai untuk membeli makannya.
‘Nanti gue harus nanya pekerjaan apa yang sebenarnya dia jalani,’ batin Rian, yang benar-benar ingin mengetahui pekerjaan yang Alya jalani.
Setelah beberapa jam Alya melepaskan kerinduannya dengan neneknya, Alya merasa hari sudah semakin sore. Ia harus segera mandi, karena ia sangat sadar kalau kamar mandi di rumah ini, terletak pada bagian luar rumah Nenek. Ia sangat takut, kalau ia mandi di jam malam, karena pencahayaannya yang minim.
“Neh, Alya mau mandi. Kamar mandinya masih di luar?” tanya Alya.
“Ya, kamu lekas mandi. Jangan sampai kemalaman,” ujar Nenek, membuat Alya mengangguk mendengarnya.
“Kalau gitu Alya mandi dulu ya, Nek!” pamit Alya, yang mendapat anggukkan dari Nenek.
Suasana menjadi sangat rancu di sana. Rian benar-benar sangat bingung, harus berbicara apa dengan Nenek yang berada di hadapannya itu.
“Tolong jagain Alya, ya!” ujar Nenek, sontak membuat Rian kaget mendengarnya.
“Ah? Gimana, Nek?” tanya Rian yang meminta Nenek untuk mengulangi perkataannya itu.
Pandangan Nenek menajam ke arahnya, “Tolong jaga Alya. Alya udah gak punya orang tua. Dia juga hidup di panti asuhan selama ini. Kamu ‘kan ... suaminya, jangan pernah sakitin Alya, ya,” ucap Nenek yang meminta tolong kepada Rian.
Rian tersenyum mendengarnya, karena ternyata Alya adalah orang yang kekurangan kasih sayang dari keluarganya. Terutama dari sosok Ayah dan Ibu.
‘Pantesan dia kasar sama siapa aja. Dia kurang kasih sayang orang tuanya dari kecil. Dengar cerita dari Nenek, kasihan juga dia. Pasti dia tertekan banget,’ batin Rian, yang merasa sangat simpatik pada Alya.
__ADS_1
“Ahh!!”