Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Tidak Peka


__ADS_3

Walaupun malam masih pukul 8 malam, tetapi karena termasuk di pedalaman, malam terasa sudah sangat larut. Udara dingin yang menusuk ke dalam kulit, membuat Alya selalu menggosokkan telapak tangan ke lengan tangannya. Kaus yang dipakai Alya terasa sangat tipis, sehingga membuatnya kedinginan.


‘Dingin banget malam ini,’ batin Alya, yang sedang menahan dingin udara malam hari di tengah hutan seperti ini.


Rian tak sengaja melihat ke arah Alya yang ada di sebelahnya, dan tersadar bahwa Alya yang sepertinya sedang merasa kedinginan. Ia terdiam sejenak, karena bingung dengan yang harus ia lakukan.


‘Kalau gue kasih jaket ke dia, nanti dia ngerasa gengsi dan gak mau nerima. Lagipula jaket gue udah lama gak dicuci, takutnya dia nyium bau yang aneh-aneh dari jaket ini,’ batin Rian, yang merasa sangat ragu untuk memberikan jaket yang ia kenakan pada Alya.


‘Ya udah, diem aja dah!’ batin Rian lagi, yang sudah memutuskan untuk tidak memberikan jaket itu kepada Alya.


Sementara itu, Alya benar-benar sudah tidak kuat dengan hawa dingin yang ia rasakan itu. Ia sedikit melirik ke arah Rian, yang ternyata sedang diam-diam saja dan sama sekali tidak mau memberikan jaketnya padanya. Hal itu membuat Alya merasa kesal melihatnya.


‘Kenapa dia gak ngasih jaketnya ke gue, dah? Dia beneran gak tau, apa pura-pura gak tau?’ batin Alya yang sudah terlalu sinis hanya dengan memandang ke arah Rian saja.


Mereka berjalan sampai menuju ke arah pasar malam yang sudah terlihat di arah hadapan mereka. Sepanjang melewati hutan-hutan yang ada, Alya menahan rasa dingin yang menusuk sampai ke dalam tulangnya itu, dengan Rian yang sama sekali tidak peka dengan keadaan Alya sejak tadi.


Alya memandang sinis ke arahnya, ‘Dia beneran gak mau kasih pinjem gue jaket? Beneran parah banget sih dia jadi cowok!’ batin Alya, yang merasa tak habis pikir dengan yang Rian lakukan padanya itu.


“Kita udah sampe nih ....” Nadanya menurun, karena Rian yang tak sengaja melihat ke arah Alya, yang sedang memandang sinis ke arahnya. Ia mendadak bingung melihat Alya yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan yang sinis.


“Kenapa lo ngeliatnya begitu?” tanya Rian yang tidak peka dengan apa yang Alya pikirkan padanya.


Alya semakin menajamkan matanya dengan sinis ke arah Rian, “Kamu nanyeeeaaa?!” ujarnya dengan nada yang menjengkelkan, membuat Rian merasa sedikit kesal mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


“Lah, lo kenapa ditanya malah nanya balik?” tanya Rian lagi, membuat Alya semakin memandangnya dengan pandangan yang menyeleneh.


“Kamu bertanyeaa-tanyeaaa?” tanya Alya lagi, mengikuti jargon yang sedang in di dunia hiburan.


Rian menjadi benar-benar kesal mendengarnya, karena ia merasa pertanyaannya tidak digubris oleh Alya. Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi ia menyadari bahwa ini adalah tempat umum, dan tidak seharusnya mereka bertengkar di tempat umum seperti ini, karena bisa mengundang banyak perhatian orang di sekeliling mereka.


“Terserah lo deh, Alya.” Rian berjalan lebih dulu di hadapan Alya, membuat Alya semakin kesal saja dengan yang Rian lakukan padanya.


Matanya mendelik, tak percaya dengan Rian yang meninggalkannya, “Hah? Udah gak peka, terus ninggalin gue sendiri?!” gerutu Alya, yang lalu segera menyusul Rian ke arah depan.


Seorang gadis sedang berjalan-jalan di sana bersama dengan pasangannya. Ia tak sengaja melihat ke arah hadapannya, yang tak sengaja melihat ke arah orang yang ia sangka adalah Rian. Matanya ia fokuskan ke arah Rian, lalu ia menguceknya dengan kasar, berusaha dengan cepat memastikan kebenaran orang tersebut.


“Itu Rian, bukan?” gumam gadis itu sembari menunjuk ke arah hadapannya, membuat pasangannya ikut memandang ke arah yang ia tunjuk.


“Itu! Yang deket bianglala! Dia sama siapa, ya?”


Lelaki itu kembali memandang ke arah yang gadis ini tunjuk, dan ternyata ia dapat melihat Rian yang memang sedang berjalan bersama dengan seorang gadis yang mengikutinya dari arah belakangnya.


“Oh ya! Dia sama siapa?” tanyanya, membuat si gadis mendelik kesal ke arahnya.


“Saya ‘kan udah nanya duluan tadi! Mana saya tau dia sama siapa?!” bentak sang gadis, membuat sang lelaki bingung memikirkan jawaban untuk ucapan sang gadis.


“Ikutin dia ayo!” ucap sang gadis, membuat pasangannya tak ada pilihan lain dan terpaksa mengikuti apa yang gadisnya inginkan.

__ADS_1


Sementara itu di sana, Alya masih berusaha untuk mengejar Rian yang terlalu cepat melangkah. Ia merasa kesal, karena Rian yang meninggalkannya sendirian di sana.


“Rian! Rian tunggu!” pekik Alya, Rian mendadak menghentikan langkahnya karena ia tidak bisa melakukan ini lagi dengan Alya.


“Aww!!”


Karena langkahnya yang mendadak terhenti, Alya tak sengaja menabrak Rian yang ada di hadapannya, membuat hidungnya terasa sangat sakit karena terbentur dengan tubuh Rian yang mendadak berhenti di hadapannya.


“Aduh ... sakit!!” jerit Alya dengan sedikit lirih, Rian segera membalikkan tubuhnya karena merasa terkejut dengan Alya yang ternyata terkena tubuhnya.


“Aduh ... ngapain sih pake nabrak segala?!” bentak Rian, sontak saja membuat Alya mendelik dan emosi mendengar bentakan Rian padanya.


“Lo udah tiba-tiba berhenti di depan gue, terus malah gue yang disalahin!” bentak Alya, membuat Rian tak bisa menerimanya.


“Eh ... eh ... eh ... Alya yang cantik jelita, pakai baju pita, suka bercerita yang tak sesuai realita, gue berhenti tadi itu ... karena lo yang nyuruh gue buat nungguin lo!” ujar Rian yang sedikit meledek Alya, membuat Alya merasa tersindir dengan ucapan asal Rian yang sepertinya sangat menyindirnya.


“Maksudnya tunggu itu bukan berarti lo berhenti dadakan di depan komok gue! Emangnya tahu bulat, yang digorengnya dadakan!” sanggah Alya yang tak terima dengan apa yang menjadi alasan bagi Rian, “lagian siapa yang suka cerita gak sesuai realita? Gue gak pernah begitu, tuh!” tambahnya kesal karena dituduh demikian, membuat Rian memasang tampang jutek di hadapan Alya saat ini.


“Eh ... mana gue tau kalau gue berhenti dadakan? Yang gue tau, lo tuh nabrak gue dan bikin punggung gue sakit!” bentaknya tak mau mengalah dari Alya, “gue ngomong asal aja, gak maksud bilang lo cerita yang gak sesuai realita,” ujarnya menjelaskan tentang perkataannya yang selalu saja asal di hadapan Alya.


Alya mendelik sinis, “Punggung lo sakit? Hello ... gimana sama idung gue, nih?!” bentaknya, Rian tertawa mendengarnya.


“Jangan dipegang-pegang, ah! Idung udah mini, nanti tambah mini pula dipegangin terus begitu!” ledeknya, Alya tak terima mendengar ledekan Rian yang seperti menghina fisik itu padanya.

__ADS_1


“Eh ... eh ... body shamming!!” pekik Alya, sembari mendelikkan matanya ke arah Rian.


__ADS_2