
Mata Rian memandang nanar ke arah Alya yang masih membelakanginya, “Lo memangnya ngapain ke kamar mandi depan? Lo bukannya punya kamar mandi privat di dalem kamar, ya?! Kenapa emangnya di dalam?” tanya Rian sinis, Alya kesal mendengar nadanya yang sudah mulai meninggi itu.
“Ada, tapi airnya gak keluar! Kerannya rusak!” jawab Alya yang juga sinis menjelaskan pada Rian. “Lagian, suka-suka gue dong, kalau gue mau masuk kamar mandi mana aja?! Ini ‘kan apart gue!” bentaknya yang lebih sinis dari yang Rian lakukan padanya.
Rian tak percaya dengan apa yang Alya katakan. Ia merasa Alya sangat berkuasa, sampai-sampai bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
“Gue tau ini rumah lo, tapi lo gak seharusnya masuk ke kamar mandi tapi gak ketuk pintu, kan? Apalagi lo tinggal sama cowok, lo harusnya bisa posisiin diri lo dengan benar. Oke lah, kalau misalkan di kamar mandi pribadi lo, lo boleh bersikap gimana aja. Ini ‘kan pakai kamar mandi luar,” ujar Rian menasehati Alya, membuat Alya merasa tidak terima dikatakan seperti itu oleh Rian.
“Lo kenapa gak pakai kamar mandi dalam kamar lo, hah?” tanya sinis Alya, yang tidak dipikir lebih dulu.
Rian menghela napasnya dengan panjang, “Di kamar kedua, gak ada kamar mandi dalam!” jawabnya ketus, sontak membuat wajah Alya memerah karena malu mendengarnya.
Alya tidak berpikir demikian, sehingga keadaan ini menjadi salahnya sepenuhnya.
__ADS_1
Karena sudah merasa malu, Alya menunjuk ke arah pintu keluar ruangan apartemennya itu.
“Pergi! Keluar sekarang! Gue gak mau liat lo!” bentak Alya, yang sudah tidak bisa menerima semua kesalahannya itu.
Ingat pasal satu? Wanita tidak pernah salah. Jika wanita salah, lihat pasal satu.
Mendengar ucapan Alya yang sembrono itu, Rian memandang tengkuk leher Alya sembari mengangguk kecil.
Setidaknya Rian harus pakai baju lebih dulu, sebelum ia keluar dari apartemen Alya ini.
***
Rian keluar dari apartemen Alya, tak tahu harus melakukan apa lagi. Ia hanya memegang uang sisa mahar, yang hanya tinggal serpihan recehan saja.
__ADS_1
Langkahnya ternyata mengantarkannya ke arah lokasi syuting, yang ternyata masih ada beberapa crew di sana.
Rian memperhatikan ke arah lokasi tersebut, dengan tatapan yang nanar. Ia mencari-cari keadaan yang membuatnya tenang, karena ia tidak ingin banyak pertanyaan dari mereka, karena melihat keberadaannya di sini.
“Udah gak ada banyak orang, harusnya orang-orang gak pada sadar kalau gue ada di sini,” gumam Rian, yang merasa harus sangat berhati-hati, agar tidak membuat banyak spekulasi orang, bermunculan karena keberadaannya itu.
Kakinya terhenti, karena ia melihat beberapa crew yang melintas. Ia bersembunyi di balik penyanggah tiang yang ada. Ia membuat dirinya tidak terlihat, karena ia sangat malas meladeni ucapan mereka itu.
Setelah melihat mereka benar-benar pergi dari sana, Rian segera melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan, yang biasa Alya pakai untuk berganti pakaian dan merias wajahnya.
Rian sangat berhati-hati melangkah, karena ruangan tersebut yang sudah gelap karena tak ada penerangan.
Berbekal beberapa baju ganti, dan beberapa makeup yang biasa ia kenakan untuk menunjang penampilan, Rian pun terpaksa harus tidur di ruangan ini malam ini.
__ADS_1