
Mereka sampai di sebuah restoran, dengan menempuh perjalanan sekitar 2 jam, dari tengah hutan tempat mereka mengambil mobil Alya. Tempat parkir di restoran ini cukup luas, sehingga mobil Alya yang sangat besar itu bisa masuk ke dalam lahan parkir yang tersedia.
Keterampilan Rian dalam mengemudikan mobil, sudah cukup membuat Alya mengacungkan dua ibu jarinya. Ia merasa kemampuan Rian lebih baik, dibandingkan dengan kemampuan menyetir Dion.
Alya menghela napasnya dengan panjang, ‘Lagi-lagi keinget tentang Dion,’ batinnya, yang secara tidak sengaja selalu membanding-bandingkan antara Dion dan juga Rian.
Rian bersiap untuk turun, tetapi ia melihat ke arah Alya yang masih terlihat diam saja, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Lho, gak turun? Katanya udah laper?” tanya Rian, Alya memandang ke arahnya dengan sedikit terkejut.
“Udah, lo masuk dulu aja. Gue nyusul nanti,” suruh Alya, membuat Rian terdiam sejenak kemudian mengangguk setuju mendengarnya.
Sebenarnya ada rasa khawatir, jika saja Alya meninggalkannya di tempat ini. Apalagi Alya menyuruhnya untuk masuk lebih dulu ke dalam restoran, sehingga Rian tidak bisa mengejar Alya, kalau saja benar Alya meninggalkan dirinya di sana.
Namun, Rian menaruh sedikit kepercayaan pada Alya. Dalam pikirannya berpikir, walaupun Alya kasar, ia pasti tidak akan jahat dengan meninggalkannya sendirian di sini.
Rian pun keluar dari mobil, dan masuk ke dalam resto tersebut. Sementara itu, Alya masih berusaha mempersiapkan dirinya, karena ia yang tiba-tiba saja teringat dengan Dion saat ini.
Alya mengambil handphone-nya, kemudian melihat beberapa pesan masuk dari Dion yang belum sempat ia baca. Ia pun membacanya, dengan sangat teliti untuk memastikan keadaan mereka saat ini.
“Lo di mana, Al?!”
“Lo beneran gak balik? Gue udah nunggu di sini 10 menit. Gue tunggu lo lagi sampai 1 jam!”
“Ya ampun, lo gak balik juga ternyata. Lo ke mana, sih?!”
__ADS_1
“Gue bareng sama Raffi, gue tunggu lo di apart!”
“Gue udah sampe di apart, ternyata lo belom sampe juga.”
“Udah jam 2 malem, gue ngantuk nungguin lo balik!”
Alya membaca pesan tersebut satu per satu. Ia merasa sangat kesal, karena ia masih mengingat kejadian pada jam 2 malam tadi.
Karena kejadian pertemuannya dengan si botak dan kawan-kawannya, ia jadi masuk ke dalam ikatan yang sangat aneh baginya. Namun, saat ini Alya sudah mencoba berdamai dengan keadaan, karena memiliki alasan tersendiri untuk tidak melepas Rian.
‘Gue gak mau jadi janda. Gue gak mau ditalak, gue gak mau ditinggalin,’ batin Alya, yang masih mengingat sisa depresi dirinya ketika ia masih kecil.
Masih banyak misteri di sini.
Alya melangkah keluar dari mobil, dan segera memasuki restoran yang cukup besar itu. Ia mencari keberadaan Rian, yang ternyata sedang menunggunya di sebuah meja bersama dengan seorang pelayan di hadapannya.
“Mau pesen, gak? Kalau gak mau pesen, jangan duduk di sini!” bentak pelayan tersebut padanya, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengar perlakuan buruk pelayan itu pada Rian.
‘Kok pelayan itu bentak-bentak Rian, sih? Rian juga aneh, kenapa dia mau aja dibentak-bentak begitu?’ batin Alya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan yang terjadi pada Rian.
Dengan sedikit khawatir, Alya pun segera menghampiri ke arah mereka, dan mencoba untuk membela Rian pada kondisi yang seperti ini lagi.
Sesampainya Alya di hadapan sang pelayan, ia menggebrak meja dengan sangat kencang, sehingga membuat semua yang ada di dekatnya terkejut mendengar gebrakan meja tersebut. Alya memandang sinis ke arah sang pelayan, yang sama sekali tidak menghormati orang yang pergi bersamanya itu.
“Apa-apaan pelayanan di resto ini? Kenapa bentak tamu begitu?” bentak Alya, yang tidak bisa melihat kejahatan terjadi di hadapan matanya.
__ADS_1
Semua orang memandang ke arah mereka, yang saat ini keadaannya sangat tegang, karena keributan tersebut. Mereka hanya bisa memandang, tanpa mau memisahkan keduanya.
Pelayan itu memandang aneh ke arah Alya, yang saat ini memakai topi dan juga masker. Pelayan itu sama sekali tidak mengenali sosok Alya, yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
“Eh, jangan ikut campur ya, Mbak! Orang ini udah dari setengah jam yang lalu duduk di sini, tapi gak mau pesan sama sekali! Orang yang datang jadi pergi lagi, karena udah kehabisan tempat!” bentak sang pelayan, sontak membuat Alya merasa sangat terbakar karena kesal.
“Lah, bukan salah dia, dong! Salah sendiri, kenapa punya resto kok kecil begini! Kapasitas kalian gak cukup untuk menampung tamu-tamu yang berdatangan!” bentak Alya balik, saking merasa tidak terima melihat Rian diperlakukan seperti itu.
Sang pelayan mendelik ke arah Alya, “Kenapa malah nyalahin resto kami? Mas ini udah duduk, dan gak pesan sama sekali! Ganggu pemandangan aja!”
Alya tidak terima mendengarnya, “Pembeli itu raja! Lo sebagai pelayan, harusnya bisa bersikap lebih baik lagi sama pembeli!” bentak Alya, pelayan itu memandangnya dengan pandangan yang sangat menyinyir.
“Hello ... pembeli yang mana dulu? Kalau gembel kayak dia mah, gak pantes dihormatin! Pesan makanan di sini aja enggak, malah merusak pemandangan aja lama-lama duduk di sini!” ujar sang pelayan, benar-benar membuat amarah Alya melonjak naik.
Memang, saat ini Rian memang memakai kaos yang sangat lusuh, dengan celana bahan yang sudah mulai pudar warnanya. Ia sama sekali tidak terlihat menarik, dan bahkan lebih cocok disebut gelandangan karena pakaiannya yang alakadarnya itu. Wajar saja jika si pelayan menghinanya sampai seperti ini.
Alya tak terima mendengarnya. Ia merasa harus menyelamatkan Rian, yang memang hanya diam jika ia di-bully oleh orang lain. Contohnya saja, ketika ia di-bully oleh si botak dan kawan-kawannya. Ia rela memberikan semua uang yang ia miliki, agar si botak dan kawan-kawan tidak mengganggu Alya lagi.
Hal itu yang sedang Alya lakukan, untuk membalas kebaikan Rian semalam. Biar bagaimanapun juga, Rian pernah menyelamatkannya, meskipun yang lebih dulu menyelamatkannya.
Alya mendelik kesal ke arah sang pelayan, “Apa hak lo ngatain orang gembel?! Jaga yah tuh mulut! Dasar sampah!” bentak Alya yang merasa sangat kesal dengan sang pelayan itu.
Sang pelayan tidak terima, saat Alya mengatakan hal buruk padanya. Ia merasa sangat kesal, sampai menggebrak meja yang ada di hadapannya.
“Heh, jangan buat onar di sini, ya!”
__ADS_1