Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Tantangan


__ADS_3

BRUK!


Tinjuan maut tersebut sengaja Alya pelesetkan, dan mengenai tembok kayu yang ada di sebelah Rian. Mata Rian mendelik takut, lalu melirik ke arah kepalan tangan Alya yang mengenai tembok kayu tersebut. Rian kembali melirik ke arah Alya dengan pandangan yang sudah sangat takut terhadapnya.


“Ngomong apa lo tadi?” tanya Alya, Rian menelan salivanya saking takutnya ia melihat ekspresi Alya yang sangat menyeramkan baginya.


Pemegang sabuk warna biru di perguruannya, siapa yang berani melawannya?


“M-maaf, Al! Gue cuma becanda--”


BUAK!!


Lagi-lagi Alya menghajar tembok kayu tersebut, membuat Rian memejamkan kembali matanya, saking takutnya dengan dirinya.


“Becanda? Sini, gue ajarin caranya becanda!” ujar Alya, dengan aura yang sudah sangat menyeramkan di mata Rian.


Rian mendelik takut, karena ia sudah membangunkan macam yang sedang tertidur. Ia sudah pasrah saja, dan hanya bisa menutup matanya, saking takutnya dengan ucapan dan aura Alya yang sangat menyeramkan itu.

__ADS_1


Sejenak Alya memandang ke arah rauh wajah Rian. Ia merasa tidak tega melihat wajah Rian yang ketakutan karena dirinya. Alya menghela napasnya dengan kasar, lalu melepaskan kepalan tangannya dari tembok kayu yang ada di dekat Rian.


Menyadari Alya yang sudah melepaskanya, Rian pun perlahan membuka matanya, dan bisa menghela napasnya dengan lega.


“Untung gak kena,” gumam Rian yang merasa sangat kaget dengan keadaan.


Mereka sejenak saling pandang. Perasaan lucu yang sedari tadi mengoda hati Rian, kembali menggoda hati Rian. Ia ingin tertawa kembali, tetapi ia ingat dengan kejadian tadi, yang hampir membuat wajahnya memar.


‘Jangan tawa,’ batin Rian, yang berusaha untuk menahan dirinya.


Tangannya menyentuh beberapa sisi di wajahnya, membuatnya merasa semakin meyakini bahwa hasil dari riasannya sangatlah buruk.


“Ya ampun, kenapa jadi begini?” rengek Alya, yang merasa benar-benar menyadari ucapan Rian tentang hasil riasannya itu.


Rian memandangnya dengan heran, dengan dua kepribadian yang Alya miliki. Sekarang marah, setelahnya sedih. Seperti ada dua kepribadian.


“Kenapa?” tanya Rian, yang hendak memastikan keadaan Alya.

__ADS_1


“Muka gue jadi aneh ....” Alya menghela napasnya dengan panjang, sembari menundukkan pandangannya.


Rian merasa sedikit iba. Ia melangkah ke arah Alya, dan langsung mengambil tissue basah yang berada di sebelah Alya. Ia mengusap wajah Alya menggunakan tissue tersebut, sehingga membuat riasan makeup Alya terhapus.


Alya merasa risih, karena Rian yang mengusap-usap wajahnya dengan tissue itu. “Ih, loe ngapain sih?!” bentaknya.


Rian tidak memedulikan ucapan Alya, dan tetap melakukan tugasnya untuk menghapus riasan wajah Alya. Ia merasa sangat risih, karena riasannya yang tidak enak dipandang.


Rian menghentikan aktivitasnya sejenak, dan memandang Alya dengan dalam, “Diem, gue mau makeup-in lo sekarang!” ujarnya, sontak membuat Alya tertawa mendengarnya.


Melihat Alya tertawa, Rian merasa sangat aneh melihatnya. “Kenapa lo ketawa?” tanya Rian.


“Lo ... mau makeup-in gue?” tanya Alya yang tidak percaya dengan apa yang Rian akan lalukan.


Rian membalas pandangannya dengan sedikit kesal, “Lo gak tau ... diem dulu, gue cuma butuh waktu lima belas menit buat makeup-in lo,” ucapnya, membuat Alya sedikit terdiam mendengarnya.


Pandangannya masih dengan pandangan mengejek, “Coba aja kalau bisa,” tantang Alya yang langsung mengubah ekspresinya, “kalau gak bisa ... terima akibatnya!” ancamnya, membuat Rian menelan salivanya.

__ADS_1


__ADS_2