
“Kalau tadi gue gak masuk ke ruangan kamar mandi depan, gue gak akan pernah lihat apa yang seharusnya gak gue lihat. Gue juga gak akan pernah ngusir Rian,” gumam Alya, yang merasa sangat menyesali perbuatannya itu.
Sampai saat ini, Alya masih teringat dengan hal yang tidak boleh ia lihat itu. Tubuhnya masih merinding, dengan saliva yang terus-menerus tertelan dengan tak sengaja, saking keringnya tenggorokannya itu.
Wajahnya seketika memerah, dengan napas yang tercekat. Ia merasa sangat aneh, karena ia tidak bisa menghilangkan pikirannya dari hal yang ia lihat tersebut.
Alya menenggelamkan wajahnya pada bantal yang ia peluk, “Aduh ... kenapa malah kebayang terus-terusan, sih? Kenapa ini kepala gak bisa dikondisikan, sih? Apa gak bisa ya hilang dari pikiran gue? Bisa gak sih? Apa perlu cuci otak dulu, biar bisa hilang semua?” gumamnya yang suaranya sampai tidak terdengar, karena wajahnya yang terbenam pada bantal yang ia peluk.
Alya menyingkirkan bantalnya dari wajahnya, merasa napasnya sangat sesak karena hal tersebut.
“Gak bisa gini terus! Gue harus ngelupain hal itu! Jangan sampe gue kepikiran sama itu lagi!” teriak Alya, yang merasa sangat sulit untuk melupakan hal tersebut.
Merasa kesal dengan pemikirannya itu, Alya pun segera tertidur, agar bisa sejenak melupakan apa yang ia lihat itu.
__ADS_1
***
Pagi harinya, Alya bangun dengan keadaan yang sangat lesu. Ternyata ia tidak bisa tidur, karena ia terlalu memikirkan kejadian semalam. Ia tidak bisa menghilangkan pemikiran kotor itu, sehingga membuatnya tidak bisa memejamkan matanya dengan benar.
Matanya sudah menjadi seperti panda, berkat pemikirannya semalaman suntuk. Itu memang sudah menjadi hal yang wajar bagi Alya, jika ia tidak bisa tidur dengan benar.
Alya merasa tidak percaya diri, karena kantung matanya yang kembali menghitam.
“Haaaaaa!! Kenapa jadi hitam lagi kantung mata gue? Gak bisa langsung hilang, pasti! Gimana gue mau akting kalau begini caranya?” teriak Alya, sembari memandang ke arah wajahnya, dari cermin yang berada di hadapannya.
Tangannya meremas rambutnya, saking tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Alya melangkahkan kakinya, dan duduk di pinggir ranjang tidurnya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan sosok Rian, yang waktu itu pernah menyulap –dengan makeup– kantung matanya, menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Alya menghela napasnya dengan dalam, “Sekarang Rian udah gak ada di sini. Gimana caranya bisa ngilangin mata panda ini sekarang?” gumamnya, yang merasa harus secepatnya menghilangkan hitam pada kantung matanya itu.
Tangannya mengepal erat, “Kalau gue kasih dia handphone kemarin, mungkin kejadiannya gak akan begini. Gue pasti bisa lacak lokasi dia, dan langsung jemput dia ke lokasi!” gumamnya, yang masih saja menyalahkan dirinya sendiri.
Namun, Alya kembali terdiam. Ia merasa sangat bodoh, karena ia baru sadar kalau Rian tidak bisa membaca, sehingga menyulitkan ia untuk menggunakan handphone.
“Ah, bener juga! Rian ‘kan ... gak bisa baca! Gimana dia mau pakai handphone, kalau gak bisa baca?!” ujarnya kesal mengetahui tentang kenyataan itu.
Alya merasa kesal sendiri, sampai mengacak-acak rambutnya dengan tangannya.
Karena sudah terlambat ke lokasi syuting, Alya segera bangkit untuk menuju ke arah kamar mandi depan. Ia harus membilas tubuhnya, paling tidak membuat dirinya terlihat lebih segar dari biasanya.
***
__ADS_1