Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Hasil Makeup


__ADS_3

Mata Rian mendelik, saking kagetnya melihat makeup yang sedang Alya lakukan pada wajahnya sendiri. Ia mulai menahan tawanya, karena menilai riasan Alya yang terlalu menor, mirip seperti badut yang ada di pasar malam.


Alis mata Alya menyungging, karena bingung dengan ekspresi Rian yang sepertinya sedang meledeknya.


“Lo kenapa mukanya begitu? Nahan BAB?” tukas Alya, sontak saja membuat Rian semakin tak bisa menahan tawanya di hadapan Alya.


Tangannya membekap mulutnya sendiri, walaupun ia sedang memegangi baju kotor yang baru saja ia ganti dengan baju baru pemberian Alya. Ia merasa sudah tidak kuat lagi, untuk menahan tawa di hadapan Alya.


Akhirnya, Rian pun tertawa dengan sangat puas. Ia menghabiskan perasaan lucu yang ia bayangkan, setelah melihat kondisi wajah Alya saat ini.


Lipstick merah tebal, alis yang melengkung seperti bentuk golok terbalik, bulu mata cetar membahana anti badai dan juga dasar bedak yang tebal bagai tepung, siapa orang yang tak akan tertawa melihat riasan yang Alya pakai.


Alya sangat tersinggung, melihat tawa Rian yang ia tumpahkan dengan puasnya. Brush makeup yang ia pegang saat ini, ia lemparkan ke arah Rian yang masih tertawa dengan puasnya, hingga tepat mengenai keningnya.

__ADS_1


PLTAK!


“Aduh!” Rian mengaduh, saking sakitnya keningnya terkena lemparan maut dari brush yang sedang Alya pegang.


“Jahat banget sih ....” Rian memandang Alya dengan tatapan sinis, tetapi tak bisa melakukan apa pun.


“Sukurin!” celetuk Alya, yang hatinya merasa puas melihat penderitaan Rian, yang dahinya terkena brush yang ia lemparkan.


Alya tak bisa menerima apa yang Rian katakan itu. Amarahnya semakin memuncak, saat ia mendengar selorohan Rian, yang mengatakan kebenaran tentang riasan wajah yang ia kenakan saat ini.


Tangannya mengepal, merasa kesal dan ingin mendaratkannya pada tempurung kepala Rian. Alya tidak tahan lagi, karena Rian yang sudah beberapa kali menyeletuk hal buruk, tentang hasil karya terbaiknya.


“Mau kiri atau kanan? Kiri rumah sakit, kanan kuburan?” tanya Alya, mendengar hal tersebut membuat Rian spontan gemetar.

__ADS_1


Rian menelan salivanya, “Yang bener aja, Al?” tanyanya tak percaya, dengan apa yang akan Alya lakukan padanya.


Namun, yang namanya Alya pasti akan melakukan hal yang bahkan di luar logikanya. Jika untuk mendaratkan beberapa pukulan di kepala Rian, Alya pasti tidak akan sungkan lagi untuk melakukannya.


“Lo bilang gue mirip kayak apa tadi?” tanya Alya kembali memastikan ucapan Rian, sontak membuat tubuh Rian semakin gemetar karenanya.


Rian merasa sangat bersalah, karena sudah mengatakan hal yang tidak baik di hadapan Alya, yang dapat membahayakan nyawanya sendiri.


“Maaf, Al! Gue cuma bercanda tadi!” ujar Rian, Alya tak memedulikan apa yang ia katakan.


Alya bangkit berdiri di hadapan Rian, bersiap dengan dua kepalan mautnya untuk memberi Rian pelajaran, agar tidak semena-mena dengan perkataan buruknya padanya.


“Gak ada kata maaf buat lo!” bentak Alya, yang dengan cepatnya langsung melayangkan tinjuan mautnya ke arah wajah mulus Rian.

__ADS_1


__ADS_2