
Sepanjang hari ini, Alya hanya bisa bersikap kasar kepada Rian. Padahal, Rian tidak mengetahui apa kesalahannya. Ia merasa sudah menjalankan pekerjaannya dengan benar, tetapi Alya masih saja marah-marah, dengan kasar mengatakan apa yang ia ucapkan pada Rian.
Alya melangkah masuk ke dalam mobil, karena ini adalah waktunya mereka kembali ke rumah.
Saat ini, sudah pukul 2 malam. Mereka sengaja membereskan scene, yang harusnya diambil besok. Mereka ingin menghabiskan scene milik Alya, karena besok sudah full scene milik Rachel dan temannya yang lain.
Alya sudah tidak memiliki tenaga lagi, karena tenaganya dipaksa untuk melakukan kegiatan full pada hari ini.
Mereka mengatakan, kalau ini semua adalah kesalahan Alya, karena sudah membuat pekerjaan mereka terlantar selama dua hari. Mereka jadi kerja ekstra, untuk mengganti dua hari cuti Alya kemarin.
Di atas kursi mobilnya, Alya hanya bisa duduk sambil menyandarkan kepalanya pada kursi mobilnya. Ia terkulai lemas, saking tidak memiliki tenaga lagi untuk melakukan apa pun.
‘Udah lemes begini, sekarang juga udah jam 2 pagi,’ batin Alya, yang merasa sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi.
__ADS_1
Niat hati ingin mengajak Rian ke tempat latihan beladirinya, ternyata ia tidak memiliki kesempatan pulang dengan cepat.
‘Besok aja ngajak Rian ke club,’ batin Alya, yang sudah memikirkan harus melakukan ini, agar Rian tidak mudah ditindas oleh orang lain, terutama Dion.
Mendadak Alya merasa kesal, karena ia tiba-tiba saja teringat dengan sosok Dion, yang sudah membuat Rian sampai seperti ini.
Matanya mendelik tajam karena kesal, ‘Awas aja lo Dion, kalau Rian udah bisa nguasain ilmu beladiri, gue pasti akan buat perhitungan sama lo,’ batin Alya, yang sudah memikirkan tujuannya itu.
Melihat Rian masuk ke dalam mobilnya, Alya langsung berpura-pura memejamkan matanya, seolah-olah ia sedang tidur. Ia tidak bisa marah-marah lagi pada Rian, walaupun ia sangat ingin memarahi Rian sepanjang hari.
Jika Alya membuka matanya, ia pasti akan merasa sangat kesal lagi dengan Rian.
Rian masuk ke dalam mobil Alya, menutup kembali pintu mobil dan segera memakai sabuk pengamannya. Ia memandang ke arah Alya, yang ia lihat ternyata sudah tidur di kursi sebelahnya.
__ADS_1
Melihat Alya yang sedang tidur, Rian hanya bisa melontarkan senyum ke arahnya.
“Lo udah berjuang hari ini. Semangat! Lo pasti bisa jadi bintang yang bersinar, suatu hari nanti!” gumam Rian, sontak membuat Alya yang masih berpura-pura tidur, terkejut mendengarnya.
Ucapan Rian itu membuatnya sangat terharu, karena Alya mendengar ada nada ketulusan yang terselip di dalamnya. Tak seperti ucapan Dion, yang selalu menuntun dan terus menuntut, supaya Alya menjadi artis yang bersinar.
‘Rian sama Dion beneran beda. Gue baru sadar ucapan Dion yang bodoh, ketika gue ketemu Rian. Mereka beneran bertolak belakang, jadi ... gue bisa tau perbandingan di antara mereka,’ batin Alya, yang merasa sangat aneh dengan perasaannya sendiri pada Rian.
Alya merasa bahwa Rian lebih baik dari Dion, sampai-sampai ia berpikir kalau dirinya memang memendam perasaan suka dengan Rian.
‘Jangan ngaco!’ batinnya membantah pikirannya sendiri.
***
__ADS_1