Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Refreshing


__ADS_3

Kehidupan Alya sangat berbeda dengan kehidupan Rian. Walaupun sempat tinggal di panti asuhan selama beberapa tahun, setidaknya Alya tidak pernah tidur di alam terbuka seperti itu. Ia merasa ada seseorang yang kehidupannya jauh lebih buruk dibandingkan dirinya.


‘Ternyata segini juga bagus, kenapa gue selalu ngeluh dengan apa yang udah gue miliki?’ batin Alya, memikirkan kembali dengan keadaan dirinya dibandingkan dengan keadaan yang Rian miliki.


Rian memandang Alya dengan heran, “Lo kenapa?” tanyanya. Wajahnya seketika berubah untuk meledek Alya, “Lo kasihan ‘kan sama gue? Ngaku!” selorohnya, membuat Alya memandangnya dengan sinis.


“Apa sih? Siapa juga yang kasihan sama lo. Lo mau tinggal di mana aja, gue sih bodo amat, ya!” cetus Alya, membuat Rian tertawa kecil di hadapannya.


“Jangan galak-galak kenapa, sih?” seloroh Rian lagi, Alya masih bisa menahan kesabarannya di hadapan Rian, karena hasil riasan yang Rian lakukan pada wajahnya, yang terlihat sangat bagus.


‘Sabar, Al. Dia bagus banget makeup-nya. Jangan buat dia jadi berubah pikiran,’ batin Alya, yang merasa sangat hati-hati di hadapan Rian.


“Udah ah, katanya mau main ke kebun teh?” tanya Rian, Alya teringat dengan tujuannya untuk mengunjungi kebun teh.

__ADS_1


“Oh ya! Ayo kita ke kebun teh!” ajak Alya, sembari berjalan keluar menuju ke arah pintu kamarnya.


Rian mendelik kaget, “Alya!” pekiknya, membuat langkah Alya terhenti mendengar pekikan dari Rian.


Alya membalikkan tubuhnya dan memandang datar ke arah Rian, “Ada apa lagi, sih?” tanyanya.


Rian menunjuk ke arah baju Alya, yang masih mengenakan kaos sobek milik Rian yang ia pinjam. “Lo yakin mau keluar rumah pake kaos sobek?” tanya Rian memastikan, Alya mendelik kemudian memandang ke arah tubuhnya sendiri.


Alya menepuk keningnya kencang, ‘Padahal udah mandi, kenapa lupa ganti baju? Semalem juga kenapa pake ketiduran, sih? Bikin gak sempet ganti baju aja,’ gerutunya dalam hati, yang merasa sangat aneh dengan kelakuannya itu.


Alya memandang ke arah Rian, “Ya udah, lo keluar dulu aja. Gue mau ganti baju,” suruhnya.


Rian mengangguk mendengarnya, “Ya. Nanti tolong bawain jaket ya,” pintanya membuat Alya mengangguk kecil mendengarnya.

__ADS_1


Rian pun keluar dari ruangan, membiarkan Alya untuk mengganti bajunya.


***


Setelah pamit dengan neneknya, Alya bersama dengan Rian segera menju ke arah kebun teh milik ayah Alya yang sudah lama meninggalkannya. Langkahnya kecil, karena merasa sangat lelah berjalan kaki menuju ke arah kebun tersebut.


Beberapa kali mereka beristirahat, karena kaki Alya yang lelah, tak terbiasa untuk berjalan kaki terlalu lama. Rian beberapa kali membantunya melangkah, dengan memegangi tangannya. Namun, Alya masih saja merasa kelelahan karena tujuan mereka yang cukup jauh dari rumah nenek.


“Di mana, sih? Kok gak sampe-sampe kita?” gerutu Alya, yang merasa sudah terlalu lelah berjalan menuju tempat tujuan mereka.


Rian berjalan agak ke depan untuk melepaskan pandangannya, sejauh mata memandang. Sejenak ia membeku, karena takjub melihat pemandangan yang sangat indah. Sebuah senyuman terukir indah di wajahnya, membuat dirinya merasa menjadi orang yang sangat bahagia.


“Rian!” pekik Alya, yang berjalan menghampiri Rian di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2