Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
SAH!


__ADS_3

“Tapi kami gak ngelakuin apa-apa, Pak! Harus berapa kali sih saya bilang, kami gak melakukan apa pun!” bentak Alya, yang sudah gemas dengan sikap dan tindakan warga kampung ini terhadap mereka.


“Sudah, jangan terlalu membantah! Kalian sudah melakukan kesalahan, dan harus diberikan efek jera! Saya sebagai pemimpin dan Lurah di kampung ini, menjatuhkan hukuman kepada kalian, agar kalian bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi!” ucap Pak Lurah, yang sudah tidak bisa disangkal lagi.


Alya benar-benar tidak terima, dengan apa yang dilakukan pemimpin kampung ini padanya.


‘Nyesel banget gue ke sini! Kalau tau bakalan begini, gak akan gue ke sini!’ batin Alya, yang merasa sangat kesal dengan keadaan yang menimpanya ini.


“Ayo, dimulai aja, Pak!” ajak Pak Lurah kepada Pak Penguhulu.


Pak Penghulu pun segera menyambar tangan Rian, untuk melakukan akad, dengan Alya yang masih tetap berada pada posisinya di hadapan Rian. Mereka sengaja tidak menyuruh Alya untuk duduk di sebelah Rian, karena mereka yakin bahwa Alya tidak akan mau melakukannya.


Rian terdiam sejenak, dan terpaksa mengatakan akad dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai. Itu semua demi rasa tanggung jawabnya, karena sudah melakukan kesalahan, karena sudah merobek baju Alya dengan tidak sengaja.


Karena tidak memiliki uang sama sekali di dompetnya, dan uang hasil kerja malam tadi sudah ia berikan pada si botak dan kawan-kawannya, ia pun tidak bisa memberikan mahar untuk Alya, sehingga ia dipinjamkan uang mahar oleh Lurah, dan ia ganti setelah ia memiliki uang nanti.


“Bagaimana saksi? Sah?”


“Sah!!”


Alya mendelik kaget mendengarnya, “Eh, dari mana kalian tau nama saya?” tanya Alya, yang masih tidak mengerti dengan mereka yang mengetahui nama darinya.


“Mohon maaf, Mbak. Tadi kami gak sengaja bongkar isi tas Mbak, untuk melihat KTP punya Mbak,” jawab Pak Lurah, membuat Alya menjadi gemas sendiri dengan mereka.


‘Kenapa pada kurang ajar bongkar isi tas orang sembarangan, sih? Duit maharnya juga cuma empat ratus ribu, dibayar ngutang pula!’ batin Alya yang merasa kesal dengan keadaan.


“Kalian sudah sah, jangan berbuat hal tidak baik lagi di tempat umum! Apalagi harus berbuat di tengah hutan, saat hujan rintik, dan di atas jam 12 malam!” ujar Pak Lurah, memperingati mereka dengan keadaan tersebut.

__ADS_1


Alya memandangnya dengan sinis, “Saya gak ngelakuin apa-apa, Bapak Lurah yang terhormat!” ujarnya sedikit membentak, membuat Pak Lurah berdeham dan menelan salivanya secara spontan.


“Sudahlah, kalian sudah sah! Kami permisi dulu!” ucap Lurah, yang lalu pergi bersama dengan mereka yang menemaninya sejak semalam.


Kini suasana terasa sangat canggung, karena di ruangan ini tinggal hanya ada Rian dan juga Alya saja. Rian memandang dengan kaku ke arah Alya, sementara itu Alya memandangnya dengan pandangan yang sangat jijik.


“Yeh ... ngapain lo liat-liat?!” pekik Alya dengan sinis, sontak membuat Rian membuang pandangannya darinya.


“Siapa yang liat-liat lo? Kebetulan aja, tuh!” bantah Rian, yang sama sekali tidak ingin mengutarakan perasaannya.


Beberapa saat mereka pun hanya diam, tanpa tahu harus berbuat apa. Mereka benar-benar hanya diam, sampai mereka merasa sangat bosan berada di ruangan ini.


KRUK!


Mereka mendelik kaget, mendengar suara perut yang terdengar sangat kelaparan. Cacing-cacing itu seakan sudah mendemo pemilik perut, agar memberikan mereka makanan.


Melihat ekspresi Alya yang malu-malu, Rian merasa sangat mengerti, kalau Alya sedang lapar saat ini.


“Lo ... laper?” tanya Rian, Alya membuang pandangannya dengan cepat, saking malunya ia di hadapan Rian.


‘Duh ... malu banget gue! Ini perut kenapa pake bunyi segala, sih?’ batin Alya, yang merasa sangat kesal dengan perutnya sendiri.


“Enggak, tuh! Siapa juga yang laper!” bantah Alya, membuat Rian menghela napasnya dengan panjang.


‘Udah kepergok laper, masih aja boong!’ batin Rian, yang merasa sedikit kesal dengan Alya yang lebih memilih untuk membohonginya.


Rian memberikan uang mahar senilai empat ratus ribu itu, kepada Alya. Hal itu membuat Alya bingung, dan memandang ke arahnya dengan sedikit sinis.

__ADS_1


“Apaan nih maksudnya?” tanya Alya sedikit sinis.


“Ini uang mahar yang tadi,” jawabnya seadanya, “mau beli sarapan apa?” tanyanya.


Alya merasa malu mendengarnya, karena baru saja beberapa saat, ia sudah lupa kalau dirinya sudah menikah dengan seorang waria, yang sama sekali tidak ia kenal.


Alya lantas tidak bisa menerimanya, “Gue gak mau nikah sama lo!” bentaknya, yang benar-benar tidak menyukai sosok Rian.


Mendengar ucapan Alya, sontak membuat Rian mendelik sinis ke arahnya.


“Lo gak mau nikah sama gue? Lagian, siapa juga yang mau nikah sama lo?!” pekik sinis Rian, yang tak kalah sinis dengan bentakan yang dilontarkan Alya padanya.


Mereka sama-sama saling meluapkan emosi mereka, karena mereka yang sebenarnya tidak ingin memiliki keterikatan hubungan seperti ini. Namun, apalah daya mereka. Mereka tidak bisa menghentikan apa yang sudah menjadi ketentuan di desa ini.


“Lah terus kenapa lo setuju nikah sama gue?!” bentak Alya lagi, membuat Rian semakin memandangnya dengan sinis.


“Siapa juga yang setuju?! Gue tuh terpaksa, tau!”


Alya merasa dirinya sangat tidak berharga di mata Rian. Ia mendengar kata terpaksa yang dilontarkan Rian, membuatnya sangat ingin memaki Rian pada keadaan ini.


“Hah? Lo kepaksa? Hello ... ada juga gue yang harus ngomong gitu! Gue kepaksa, karena dipaksa sama mereka!” bentak Alya lagi, semakin memperkeruh keadaan.


Rian menepuk keningnya, saking kesalnya ia berhadapan dengan wanita yang sangat kasar seperti Alya. Karena dirinya sering berdandan seperti wanita, maka dengan sangat terpaksa kelakuannya pun ia buat semirip mungkin dengan sosok wanita. Namun, ia sama sekali tidak menyukai sosok wanita kasar seperti Alya.


“Heh, lo tuh ya! Kenapa sih lo kasar banget ngomongnya? Gak bisa santai dikit, ya?” Rian mendelik di hadapan Alya, sontak membuat Alya semakin tertantang karena Rian yang mengatakan hal seperti itu padanya.


“Eh, lo tuh harusnya jadi lelaki jangan gemulai begini! Gimana orang mau takut sama lo? Ini malah kebalik lo yang takut sama orang!” bentak Alya, membuat hati Rian sedikit tergores mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2