
Rian kembali mendelik ke arah Alya, “Gue tau, gue gak bisa apa-apa, Al! Gue gak ada apa-apanya dari Morgan dan juga Dion. Tapi satu yang perlu lo inget, Al! Gue gak suka lo ngerendahin gue demi orang lain! Kalau gue rendah di mata lo, gak apa-apa. Gue gak marah dan gue iklas, tapi bukan berarti lo bisa banding-bandingin gue sama Morgan! Bagi lelaki, harga diri itu lebih penting dari segalanya!” bentak Rian, membuat Alya semakin tak kuasa saja menahan tangisnya.
Karena bentakan Rian yang terlalu kasar, Alya pun sampai menangis di hadapan Rian, membuat Rian mendelik kaget, karena bingung dengan apa yang terjadi dengan Alya.
Mereka sama-sama meluapkan emosi mereka saat ini. Alya tak sengaja membuat emosi Rian terpacu, padahal selama ini Rian sama sekali tidak pernah marah dengan hebat padanya.
Namun, hanya karena dibandingkan seperti itu, dan dikatakan tidak memiliki tata krama, Rian merasa sangat tidak terima mendengarnya. Tak disangka, luapan emosi Rian yang seperti itu, membuat hati Alya merasa sangat kaget, dan tak sadar sampai menangis karena tak pernah melihat Rian seperti itu.
Rian mendelik kaget, karena ia merasa sangat kaget dengan ekspresi Alya yang tiba-tiba saja seperti itu. Ia baru kali ini, melihat Alya menangis sesegukan seperti ini. Bahkan saat di rumah nenek saja, Alya sebisa mungkin menahan tangisannya.
Rian memandangnya dengan dalam. Tangannya ia ulurkan ke arah bahu Alya. Alya masih saja menangis, membuat Rian merasa sangat bingung melihatnya.
__ADS_1
Dengan keberanian yang besar, Rian segera memeluk Alya dengan erat. Pelukannya membuat tangisan Alya semakin kencang, karena ia merasa sangat terluka.
Entah apa yang membuat Alya merasa sangat terluka, yang jelas, Alya memang sudah sangat terluka karena bentakan Rian padanya itu.
Mereka sejenak menyatu, karena perasaan dan hati mereka yang sama-sama terluka. Alya menurunkan sedikit egonya, dengan Rian yang juga menurunkan sedikit amarahnya.
Tangisan tetap Alya tumpahkan. Perbedaannya, ia menumpahkannya di dalam pelukan Rian. Tak seperti biasanya, yang selalu ia tumpahkan di saat malam hari, sembari memeluk bantalnya.
Kenyamanan terasa, saat Alya memeluk Rian. Akan tetapi kesadarannya kembali, dan membuatnya segera melepaskan pelukan Rian darinya.
Mereka merasa sangat bingung, karena mereka yang sama-sama mengeluarkan uneg-uneg yang mereka simpan.
__ADS_1
Alya pertama kalinya melihat Rian marah, dan Rian pertama kalinya melihat Alya menangis sampai terisak seperti itu.
Mereka memang harus sama-sama mempelajari satu sama lain lebih dalam lagi, sebelum menentukan untuk melanjutkan hubungan ini atau tidak.
Karena Alya sudah merasa tenang, Rian sudah berani untuk membuka suaranya.
“Udah tenang?” tanya Rian, Alya mengangguk kecil mendengarnya. “Bisa ngobrol sebentar?” tanya Rian, lagi-lagi Alya pun mengangguk kecil mendengarnya.
Rian melangkah menuju ke arah lemari pendingin, untuk mengambil dua kaleng soda untuk menaikkan mood mereka. Sementara itu, Alya duduk pada sofa, meletakkan tas selempang besarnya, dan menunggu Rian datang ke arahnya.
Setelah Rian selesai mengambil minuman ringan peningkat mood tersebut, ia pun segera kembali ke arah Alya berada. Ia duduk di sebelah Alya, sembari menyodorkan sekaleng minuman soda ke arahnya.
__ADS_1
Alya melihat sejenak wajah yang penuh dengan amarah tadi, yang sekarang sudah kembali normal seperti semula.