Time Travel ;Jendral Xhi Wen

Time Travel ;Jendral Xhi Wen
Ulah Xing


__ADS_3

Merekapun melanjutkan perjalanan kembali. Untung saja mereka masih di dalam hutan jadi hanya binatang spirit biasa yang lari saat melihat Xing.


Melihat itu Yinfaipun bergumam.


” Xing bisakah kau berubah menjadi bentuk manusia, dengan tubuh mu yang mengerikan ini akan membuat para rakyat lari.”


“ tentu saja bisa, aku kan binatang spirit best tingkat 8.” Balasnya angkuh.


“ cihh angkuh sekali” kesal Xioubou.


Xing pun berubah menjadi seorang pria tetapi wajahnya sangat jelek.


Melihat wajah jelek dari Xing membuat Yinfai tidak tahan.


“ pufftt hahahahhaha lihatlah wajahmu Xing, menjadi manusia saja kau sangat jelek.” Ejek Yinfai yang membuat Xioubou dan yang lain ikut tertawa.


Sedangkan Xing yang mendengar ejekan Yinfai hanya memutar bola matanya malas.


Saat sudah sampai di kota seberang, mereka melihat perumahan yang seperti tidak ada penghuni, karena tidak ada satupun batang hidung manusia yang terlihat.


“ apakah kota ini sudah di bantai putri?” Tanya Tangli.


“ aku juga tidak tau, sepertinya belum karena masih ada aura manusia disini, mereka sepertinya tengah ketakutan hingga tak berani keluar dari rumahnya.” Bals Xhi wen.


Yang padahal semua rakyat ketakutan bukan karna aliansi Bulan merah. Akan tetapi karena Xing yang sudah berapa kali teriak.


Merekapun melanjutkan perjalanan hingga terlihat anak laki laki tengah memegang mainan yang terbuat dari kayu sendirian.


Sepertinya dia juga linglung karena tidak melihat siapapun di kota itu.


Rombongan Xhi wenpun menghampiri anak kecil tersebut dan bertanya.

__ADS_1


“ dik dimana orang tuamu?”


“ Jiejie siapa?” Tanyanya.


“ siapa namamu?” Bukannya menjawab Xhi wen malah bertanya balik dengan senyum manis.


Melihat kecantikan Xhi Wen membuatnya terpana, aura kecantikan Xhi Wen mana bisa di tutupi oleh sehelai kain.


“ Tan Jin.” Jawab Tan jin.


“ aku Wen Jiejie, apakah Tan jin punya orang tua?” Tanya Xhi Wen lagi.


“ aku hanya punya ibu dan lang gege di rumah, kalo ayah sudah tidak kembali dari hutan itu.” Tunjuknya di hutan tempat dimana Xing berasal.


Melihat itu Yinfai melototi Xing.


“ apa ini ulahmu Xing” tanya Yinfai bertelepati.


“ kau... kau harus bertanggung jawab nantinya.” Ucap Yinfai yang masih bertelepati . sedangkan Xing memutar matanya malas, entah kenapa dia selalu begitu mungkin karna sifatnya acuh tak acuh.


“ baiklah Tan jin beritahukan dimana rumahmu, kami akan mengantarkan mu kesana.” Ucap Xhi Wen.


Dengan semangat Tan jin berjalan menuju rumahnya diikuti oleh rombongan Xhi wen.


Dan sampailah dirumah Tan jin yang lebih tepatnya itu bukan rumah melainkan seperti gubuk dan letaknyapun paling ujung.


“ sepertinya dia dan ibunya dikucilkan.” Ucap Tangli bertelepati dengan Xioubou.


“ ya kau benar, sepertinya begitu.” Balas Xioubou.


“ buuu.... bu...” panggil Tan jin mengetuk pintu yang terbuat dari kerajinan daun sagu yang dibuat oleh gegenya.

__ADS_1


Pintu pun terbuka dan menampilkan seorang paruh baya yang sangat kurus.


“ jin'er siapa tuan tuan ini.” Tanya paruh baya kurus tersebut.


“ perkenalkan saya nek, saya Xhi Wen, yang paling kecil ini Chang An, Yinfai, Ji nan, Xioubou, Tangli, Ling ling, Li hongyi dan Xing.” Ucap Xhi Wen tersenyum tulus sambil memperkenalkan para sodaranya.


“ silahkan masuk tuan-tuan.” Ucap nenek tersebut dengan ada sedikit kebahagiaan, dia tidak pernah terfikirkan akan ada Tuan tuan yang seperti Xhi wen datang kerumahnya.


Mereka hanya duduk di kursi kayu biasa.


Nenek tersebut kembali dengan membawakan Teh yang masih hangat.


“ silahkan diminum Tuan tuan sekalian.” Ucap nenek tersebut yang memilih duduk di bawah sedangkan Tan jin berdiri.


Melihat itu Xhi Wen dan yang lain juga ikut duduk di tanah.


“ terima kasih jamuannya nek,jadi merepotkan nenek.” Balas Xhi Wen.


Melihat semua orang duduk dibawah membuat nenek berdiri, spontan semua berdiri juga.


“ ada apa nek?” Tanya Xhi Wen.


“ tuan tuan kenapa duduk dibawah duduk lah di atas. Dan saya tidak merasa terepotkan malah saya sangat senang.” Balas nenek itu sambil menyuruh mereka duduk.


“ ah nenek kami sudah terbiasa, malah lebih enak duduk di bawah jadi terasa lebih dingin dan nyaman.” Ucap Xioubou tersenyum.


“ maaf ya rumah saya memang hanya seperti ini.” Ucap nenek tersebut yang tak enak dengan mereka membuat Xioubou ditatap oleh Xhi wen.


“ ah bukan itu maksud saya nek kami memang terbiasa duduk di tanah, bukn karena rumah nenek tidak nyaman.” Ucap Xioubou memperbaiki kata-katanya.


“ hehe tidak apa-apa.” Balas nenek itu sedikit terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2