
" halo gadis kecil ada yang bisa nenek bantu?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Xhi Wen tengah memandangi satu batu giok yang indah.
" halo nenek, batu giok ini berapa harganya ? " tanya nya sopan sambil tersenyum hangat.
" wah pilihan anda sangat bagus gadis kecil, batu giok itu adalah batu peninggalan sejarah desa ini, tetapi tidak ada yang meliriknya karna batu giok itu telah usang, harga dari batu giok itu hanya 2 koin perak putri." ucapnya.
note
koin terdiri dari:
perunggu, perak, emas,diamod
kalo di uangkan di jaman modern
perunggu : puluhan
perak : ratusan
emas : jutaan
Berlian : milliaran
'usang? ada apa dengan mata orang orang ini, aku melihatnya begitu berkilau bahkan dari awal masuk pasar giok inilah yang paling berkilau yang membuatku langsung di tarik kesini.' batinnya
Xhi Wen langsung memberi kan 1 koin emas kepada wanita paruh baya itu.
__ADS_1
" gadis kecil ini terlalu banyak, nenek tidak ada kembaliannya " ucapnya terus terang.
" jujur saja selama 2 pekan ini jarang sekali ada pembeli bahkan selama 2 hari nenek belum makan bersama cucu nenek. Oleh karena itu nenek tidak memiliki uang untuk mengembalikan uangnya" lanjutnya lagi.
" ambil saja kembalinya nek, saya juga punya sesuatu untuk nenek." jawabnya dengan senyuman hangat.
iapun memasuki kantong di hanfunya sebagai media dia mengambil sesuatu di ruang dimensinya.
" ini saya punya 1 diamond untuk nenek dan 1 diamond untuk cucu nenek.", ucapnya.
" tidak nona saya tidak bermaksud untuk di khasiani nona saya hanya mencurahkan isi hati saya " ucap nenek itu sambil menangis, nenek itu kini memanggil Xhi Wen dengan sopan karena menurutnya Xhi Wen anak bangsawan yang kebetulan sedang lewat, atau murid klan ternama, sehingga dia perlu hati hati dalam mengucap.
" tak apa nenek ambillah saya tulus memberi." ucapnya lembut.
" terima kasih nona muda terima kasih " ucapnya berlinang air mata.
saat Xhi Wen dan dua pemuda tampan itu sudah tidak lagi nampak.
nenek itu pun tersenyum
" Dewi kematian selanjutnya sangat lah dermawan, giok itu yang bahkan juga memilihnya." ucap nenek itu.
" betapa dermawan nya ia sangat lah tidak pelit dan tak buta harta ,dia juga bahkan memberi Tampa pamrih seharusnya aku tidak mengujinya" lanjutnya lagi.
"Xioubou, Ji Nan aku lapar ayo kita cari makanan" rengeknya kepada Xioubou dan Ji Nan.
__ADS_1
" baiklah putri ayo kita cari tempat makan" ucap Ji Nan.
tak jauh dari jalan yang mereka tempuh ada satu kedai yang bisa dilihat hanya orang kaya yang bisa memasukinya.
"aku ingin makan Disana "
mendengar perkataan Xhi Wen mereka hanya meng-iyakan dan berjalan menuju kedai tersebut.
mereka pun masuk dan di tawarkan ruangan pribadi serta makanan yang paling enak dan mahal.
' makanannya sederhana tapi harganya mahal apa apaan mereka aku bahkan bisa memasak yang lebih enak dari pada ini.' batinnya setelah mencoba menu yang di ucapkan pelayan itu makanan yang Ter enak dan Ter mahal , malah baginya ini makanan kampungan.
sedangkan Ji Nan dan Xioubou melahap nya hingga habis.
" hei kalian bisa pelan pelan saja makanya?" ucap Xhi Wen melihat dua pemuda tampan itu yang sedikit clemotan karena makanannya.
mereka berdua tidak menjawab karena keasikan makan hingga lupa bahwa di depan mereka adalah junjungan nya.
Xhi Wen pun hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah mereka.
Xhi Wen mengambil sapu tangan di ruang dimensi dan mengelap sudut bibir mereka berdua.
" makanlah yang pelan, jangan sampai tersedak" ucapnya lembut.
membuat jantung Ji Nan dan Xioubou memerah menahan malu.
__ADS_1
Mereka jadi seperti anak kecil yang di jaga oleh seorang ibu yang umur tubuhnya hanya berusia 10 tahun.