
Xiao Lang sibuk memunguti ranting pohon yang berserakan. Sesekali dia menoleh ke arah Qin Guan dan tersenyum tipis saat melihat rekan perjalanannya sedang menggali salju sebagai tempat membuat api unggun. Ia kembali mengingat kejadian saat mereka meninggalkan kediaman Qin Guan pagi tadi.
Saat itu, Xiao Lang terus memanggil Qin Guan dengan sebutan Tuan Muda. Qin Guan yang merasa risih memarahi Xiao Lang dan memintanya berhenti memanggil Tuan Muda.
Xiao Lang yang bingung harus memanggil apa langsung menanyakan hal itu kepada Qin Guan. Qin Guan yang merasa jika usianya lebih tua beberapa tahun dari Xiao Lang meminta Xiao Lang memanggilnya kakak, sementara Qin Guan tetap memanggil Xiao Lang dengan nama aslinya.
Bukan maksud apa, tetapi untuk memudahkan Qin Guan. Xiao Lang dan Xiao Tian, dua nama itu akan mudah diingat oleh Qin Guan. Maka, sejak saat itu Xiao Lang memanggil Qin Guan dengan sebutan kakak.
Saat Xiao Lang sedang terlarut dalam ingatan, tiba-tiba ia harus ditarik pada kenyataan ketika mendengar teriakan Qin Guan yang begitu keras. Xiao Lang mengalihkan pandangan dan mendapati Qin Guan mengerang sembari memegang tangan kirinya.
Kekhawatiran langsung memenuhi hati Xiao Lang, takut terjadi apa-apa dengan Qin Guan. Dengan cepat Xiao Lang berlari ke arah Qin Guan dan memeriksa kondisinya.
Terlihat titik merah di jari tengah Qin Guan. Tak hanya itu, telapak dan punggung tangan Qin Guan juga mulai berubah keunguan. "Gege ... apa yang terjadi?"
Qin Guan menunjuk lubang yang ia gali tanpa mengatakan apa-apa. Xiao Lang memeriksa tempat itu dan menemukan sebuah kelabang berwarna biru muda tergeletak di sana. "Sepertinya kau telah tergigit kelabang es, Guan Gege. Kita harus segera turun."
"Benarkah?" tanya Qin Guan tak percaya.
Xiao Lang mengangguk dan menarik tangan Qin Guan, mencoba membawanya pergi. Qin Guan mengibaskan tangannya membuat pegangan Xiao Lang terlepas.
"Apa yang Gege tunggu? Mati?" Xiao Lang menatap tajam Qin Guan.
"Kita harus menangkap kelabang itu untuk Xiao Tian." ucap Qin Guan.
__ADS_1
Xiao Lang menggeleng dan kembali menarik tangan Qin Guan. "Kita harus pulang sekarang. Waktu kita tidak banyak."
Qin Guan kembali menepis tangan Xiao Lang, tetapi kali ini dengan mata melotot dan napas yang menderu. "Kenapa kau ini? Kita jauh-jauh datang kemari dan kau ingin pulang dengan tangan kosong?? Xiao Tian sedang menunggu kita!"
"Gege ... kita harus segera pulang. Tuan Long dan tabib Yao berpesan kita harus segera pulang jika salah satu dari kita tergigit kelabang es. Kita tak perlu menangkapnya, sekarang hanya turuti perkataan mereka saja." Xiao Lang menjelaskan dengan pelan pada Qin Guan.
"Aku tidak percaya!" bantah Qin Guan.
"Gege, cukup! Kau boleh meremehkanku tapi tidak dengan Tuan Long! Kau bisa bertanya apa alasannya saat tiba di rumah, yang terpenting saat ini adalah kita PULANG!" Xiao Lang terlihat serius dengan ucapannya. Dia menarik tangan Qin Guan yang tak terluka dan menariknya menuju jalan untuk turun gunung.
Jika mereka berdua memilih tebing kematian sebagai tempat untuk naik, maka mereka turun lewat jalan biasa walau memakan banyak waktu.
Qin Guan masih terlihat kesal dan menggerutu sepanjang kaki melangkah. "Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan, tetapi aku harap ada penjelasan yang memuaskan dibalik ini semua."
"Xiao Lang, apa kelabang es mematikan?" tanya Qin Guan lemah.
Xiao Lang menoleh dan melihat Qin Guan. pemuda itu mengangguk pelan dan kembali meneruskan perjalanan. Xiao Lang tidak ingin Qin Guan tahu jika dirinya sedang dilanda badai kecemasan sehinhha tak berani menatapnya lama-lama. "Aku tidak mau tahu. Apa pun yang terjadi, Guan Gege harus sampai ke rumah, apu pun yang terjadi."
Qin Guan mengngguk perlahan. Jalan yang gelap membuat mereka begitu kesulitan. Sesekali Xiao Lang menoleh ke belakang memastikan jika Qin Guan masih bertahan.
Entah apa yang ada dalam pikiran Xiao Lang sehingga membuatnya tidak fokus. Saat jalanan semakin curam, Xiao Lang terpeleset dan jatuh ke dalam jurang.
"XIAO LANG!!!" teriak Qin Guan panik karena Xiao LAng terus tergulung dan jatuh ke dasar jurang. Qin Guan hendak menyusuri jurang untuk mencari Xiao Lang, tetapi ia segera mengurungkan niatnyakarena menimbang beberapa hal.
__ADS_1
Dirinya sedang dalam kondisi terluka, tidak mungkin bisa selamat jika memaksakan diri. Qin Guan juga ingat jika Xiao Lang berpesan padanya agar bisa sampai ke rumah apa pun yang terjadi.
"Itu adalah pesan terakhirnya, aku harus menjalankannya."
Qin Guan memantabkan hati untuk pulang ke rumah dan meninggalkan Xiao Lang sendirian. Jika Xiao Lang selamat, Qin Guan yakin pemuda itu akan pulang ke tempat Long Tian. Namun, jika hal itu tidak terjadi, dia hanya bisa berdoa agar di kehidupan selanjutnya ia diberi kesempatan untuk menebus kesalahan.
Maka, dengan langkah pasti, Qin Guan menuruni bukit tanpa batas dengan perasaan tak karuan. Baru saja ia memiliki teman yang begitu akrab hingga memanggilnya kakak, tetapi dalam hitungan jam Dewa membalik keadaan.
Tanpa Qin Guan sadari, dia hampir sampai di kaki gunung. Matahari juga mulai menampakkan dirinya membuat Qin Guan lega sekaligus panik.
Lega karena dia tidak perlu kesulitan berjalan dalam kegelapan lagi, dan panik karena menyadari jika tangan kirinya berwarna biru keunguan dan kaku.
Qin Guan mempercepat langkahnya menuju kota terdekat untuk membeli kuda.
Kota Shui adalah kota terdekat dari gunung Tanpa Batas. Perjalanan dari Kota Shui menuju kota Qin makan waktu sekitar dua hari berkuda.
Setelah membeli kuda terbaik di kota itu, Qin Guan juga menyempatkan untuk membeli makanan sebagai bekal. Tangannya sudah tak sesakit saat pertama tergigit kelabang, tapi tanpa Qin guan sadari, racun itu sudah merambat hingga dadanya ikut membiru. Waktu Qin Guan bisa bertahan hidup jika tidak segera diobati hanya tujuh hari dari pertama gigitan. Itu artinya Qin Guan hanya memiliki waktu enam hari lagi.
Sepertinya langit sangat senang melihat Qin Guan menderita. Di tengah perjalanan, pria itu harus menghadapi badai salju ekstrim yang membuat kudanya tidak mau jalan. Qin Guan terpaksa berteduh sembari memakan perbekalannya.
Badai itu berlangsung beberapa jam sebelum mereda. Setelah badai reda, Qin Guan kembali melanjutkakn perjalanan.
Kali ini perjalanan berjalan lancar hingga pemuda itu sampai di dekat gerbang kota Qin. Namun, Qin Guan merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit. Seluruh tubuhnya merasakan rasa dingin yang menusuk. Tak lama kemudian, Qin Guan jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak typo di bab ini. Saya Flu dan mata saya agak panas jika menatap hp lama-lama. Jika menemukan typo, jangan ragu memberi tanda di paragrafnya. Ketika kondisi membaik akan saya perbaiki. Terima kasih