Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Pedang Yang Indah


__ADS_3

Walau musim semi sedang berlangsung dan udara menjadi hangat, tetapi hal ini tak mengurangi rasa dingin dari air danau tersebut. Namun, satu hal yang membuat Wang Tian Sin sedikit panik adalah tubuhnya yang begitu berat dan sulit untuk mengapung karena beban berat yang melwkat di tubuhnya.


Dengan menggunakan segenap tenaga Wang Tian Sin muncul ke permukaan untuk mengambil napas dan kembali menenggelamkan tubuhnya.


Kali ini Wang Tian Sin memiliki rencana. Dengan cadangan udara dalam paru-parunya saat ini, Wang Tian Sin bisa bertahan hingga satu pembakaran dupa penuh di bawah air.


Seperti dugaan Wang Tian Sin, orang-orang yang tadi mendorongnya mulai khawatir ketika tak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat dari bawah air. Beberapa orang bahkan sampai melemparkan batu untuk mencoba mencari oeruntungan, berharap pemuda itu segera naik ke permukaan.


Di dalam air, Wang Tian Sin menyeringai karena orang-orang yang mengganggunya masuk dalam jebakan.


Beberapa dari orang yang sedang khawatir mulai menanggalkan pakaian dan menceburkan diri ke danau untuk menyelamatkan Wang Tian Sin. Walau Wang Tian Sin adalah anggota baru oartai oerguruan istana Pedang, tetapi dia adalah murid langsung dari Xin Dong.


Kekhawatiran akan amukan mengerikan Xin Dong membuat mereka berani melawan dinginnya air danau.


Ketika orang-orang itu mulai masuk, Wang Tian Sin dengan cepat meraih kakinya dan menyeretnya ke dasar danau. Walau selama ini Wang Tian Sin tinggal di gunung Long Hong, tetapi kemampuan renangnya salah satu yang terbaik dan dia sedang membuktikannya saat ini.


Dua orang yang ditarik oleh Wang Tian Sin berusaha memberontak dan mengerahkan tenaga mereka untuk melepaskan diri dari cengkeraman Wang Tian Sin. Namun, usaha mereka hampir sia-sia karena cengkeraman Wang Tian Sin tak melemah sedikitpun. Mereka yang mulai kehabisan napas dan tak kuat menahan dingin mulai panik. Bahkan, satu dari dua orang itu mulai menelan air danau dan tersedak.


Setelah mengalirkan tenaga dalam ke tangan, Wang Tian Sin menghempaskan tubuh dua orang itu hingga dasar danau. Dengan sigap dua orang itu menjejakan kaki ke dasar danau dan melesat naik ke permukaan.


Di sisi lain, Wang Tian Sin berenang menuju sisi lain danau untuk menghindari pengganggunya.


Di dinding dalam danau, terdapat sebuah goa yang cukup besar. Bahkan manusia dewasa bisa dengan mudah memasukinya walau dalam posisi berdiri, menandakan seberapa besarnya goa tersebut.


Terdapat beberapa ikan yang berenang mengitari Wang Tian Sin seolah-olah melarang pemuda itu memasuki goa. Namun, bukan Wang Tian Sin namanya jika tak memiliki rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


Mengabaikan peringatan dari para ikan, Wang Tian Sin dengan hati-hati memasuki goa dengan berenang. Semakin dalam ukuran goa menjadi semakin dan air mulai menyurut hingga benar-benar kering.


Wang Tian Sin merasa dirinya saat ini berada di bawah bukit tempat istana pedang berdiri. Pemuda itu tercengang ketika melihat kilauan cahaya dari ujung gua. Karena penasaran, Wang Tian Sin segera menghampirinya.


Entah Wang Tian Sin harus senang atau sedih, di hadapannya kini tertancap sebuah pedang dengan gagang berukiran naga dan sarungnya berwarna emas. Di sarung pedang tersebut, terdapat sebuah batu berwarna merah saga dan ukiran naga yang melingkarinya.


Indah. Ini adalah pedang terindah yang pernah Wang Tian Sin lihat. Tak ada yang menandingi keindahan pedang ini bahkan pedang naga bumi sekali pun.


Dengan hati-hati Wang Tian Sin melangkah mendekati pedang tersebut. Saat jarak antara dia dan oedang itu hanya tinggal beberapa langkah saja, telinga Wang Tian Sin menangkap suara hising dari sisi lain gua.


Wang Tian Sin menoleh, pupil matanya melebar dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya ketika seekor ular piton raksasa dengan panjang belasan meter menatapnya tajam. Dan dalam satu tarikan napas berikutnya, ular tersebut bergerak lincah menyerang Wang Tian Sin.


Wang Tian Sin yang sudah bersikap waspada semenjak memasuki gua tak kesulitan menghindari kejaran piton ini. Namun, ini hanya berlaku di daratan. Ketika Wang Tian Sin mulai menapaki area berair, gerakannya melambat dan mulai terkejar oleh piton itu.


"Siall!" Wang Tian Sin hanya dapat mengumpat ketika piton itu semakin dekat dengannya.


Splash!


Wang Tian Sin mencul di permukaan, tubuhnya melesat beberapa meter di atas danau tetapi jaraknya ke tepian masih terlalu jauh untuk dijangkau tanpa pijakan. Satu hal yang bisa Wang Tian Sin pikirkan saat ini adalah melakukan serangan dan membunuh ular tersebut.


Melihat orang yang mengganggunya masih di tepian danau, Wang Tian Sin berinisiatif meminta bantuan mereka.


"Berikan aku pedang!"


Orang-orang yang melihat Wang Tian Sin muncul di permukaan merasa lega, tetapi saat pemuda itu dengan wajah panik meminta pedang, tak ada yang bertanya tetapi salah satu dari mereka langsung melemparkan sebilah pedang yang telah keluar dari sarungnya.

__ADS_1


Byur!


Wang Tian Sin kembali meluncur deras ke dalam danau, segera disambut oleh piton raksasa yang segera melilitnya. Ketika ekor piton itu datang Wang Tian Sin menggunakan pedangnya untuk menebas ekor piton hingga putus. Darah segera menyeruak dari bekas ekor piton yang putus membuat air di sekitarnya menjadi merah.


Piton itu seperti tak terima ekornya ditebas begitu saja dan membuka mulutnya berniat menelan Wang Tian Sin bulat-bulat. Wang Tian Sin melakukan tebasan mendatar yang berhasil merobek mulut si piton hingga hampir putus.


Tak berhenti di sana, Wang Tian Sin memenggal kepala piton untuk mengakhiri hidupnya.


Pemuda itu teringat dengan pedang indah yang ia lihat sebelumnya dan tanpa ragu mengambil pedang tersebut. Saat Wang Tian Sin kembali, orang-orang yang sedang menunggunya di tepi danau terkejut karena pemuda itu membawa dua pedang.


"Hah ...."


Berenang di air dingin dalam waktu lama membuat wajah pemuda itu memucat karena kedinginan dan napasnya juga tak teratur. Namun, senyum penuh kepuasan terulas di bibir Wang Tian Sin ketika menatap pedang di tangannya ini.


Senyum Wang Tian Sin memudar ketika menyadari tak ada ikan yang ia dapat dan perutnya terasa semakin lapar.


Author Note:


Hallo semua. Rana Semitha kembali menyapa.


Karena nanti malam saya mudik jadi saya update lebih awal. Dan untuk besok akan Up pada malam hari jika tidak ada kendala.


Selama saya di rumah selama jaringan tidak bermasalah maka saya akan update rutin.


Terima Kasih

__ADS_1


Rana Semitha


__ADS_2