Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Latihan Keras


__ADS_3

Ning Lei meninggalkan Qin Guan di taman untuk menulis surat peringatan yang akan dikirim ke perbatasan utara Qin atau perbatasan timur kekaisaran Yin. Walau Jendral Chen sedang berada di sana, tetapi jika pihak lawan belum memulai pergerakan maka dia tidak akan bertindak.


Qin Guan kembali termenung, baru dua bulan dia menjabat sebagai gubernur Qin, tetapi dirinya mulai merasa bosan dengan posisinya ini dan merindukan medan perang yang membara. Namun, di sisi lain Qin Guan tak memiliki pilihan lain karena belum ada orang yang sesuai untuk menggantikannya.


Tiga bulan lalu, ketika dia memohon kepada kaisar untuk posisi ini, Kaisar menolak dengan alasan Qin Guan lebih penting untuk militer dan mengirim pejabat kelas dua untuk menjabat sebagai Gubernur yang baru. Namun Qin Guan memohon untuk mengangkat gubernur dengan marga Qin.


Setelah dipikir kembali, tidak ada marga Qin yang lebih tepat daripada seorang Qin Guan, maka dari itu dengan berat hati kaisar mencabut gelar jendral muda yang disandang Qin Guan dan mencabut otoritas militernya di tentara kekaisaran dan memberikan wewenang sepenuhnya terhadap Provinsi Qin.


Satu hal yang membuat Qin Guan sakit kepala adalah, pasukan Qin saat ini dikendalikan oleh kekaisaran.


Jendral Zhao dan Jendral Chen dengan tegas menyatakan jika pasukan Qin dibuat oleh leluhur keluarga Qin dan sepenuhnya ingin mengabdikan diri untuk Qin. Jika kaisar memaksa, maka banyak dari prajurit Qin yang akan melepas seragam militer mereka.


Mendapat kenyataan pahit seperti ini, kaisar hanya bisa memberikan apa yang pasukan Qin minta dan melenyapkan Qin Guan saat ada kesempatan. Benih-benih pemberontakan sepertinya mulai terendus oleh kaisar saat ini.


"Jika saat ini kaisar meningkatkan kekuatan, bukan tidak mungkin untuk merekrut seratus ribu prajurit demi menyamai jumlah pasukan Qin. Namun, apakah kekuatan mereka sepadan dengan pasukan khusus yang sudah kulatih dengan darah dan keringat?" Qin Guan bergumam dengan senyuman.


Ketika musim panas tiba, maka siang akan lebih panjang dan malam terasa singkat. Beberapa jam menikmati kesendirian di taman, Qin Guan menyaksikan semburat jingga di langit timur. Seulas senyum terpampang di bibir tipis Qin Guan.


***


Seorang pemuda berjubah hitam meringkuk di tanah karena kelelahan, tubuhnya masih terlilit rantai berat dan batu yang semakin menambah beban di tubuhnya. Napasnya terdengar memburu dengan bulir keringat yang membasahi wajah serta punggung.


Sepanjang malam Xin Dong mengawasi latihan yang sedang dijalani oleh Wang Tian Sin dari dalam pondoknya. Walau Xin Dong tak lagi menghitung tarikan napas yang diperlukan Wang Tian Sin untuk mengambil batu dari Lu Yuan, tetapi dia menggantinya dengan jam pasir.

__ADS_1


Saat tengah malam tiba, Wang Tian Sin mulai kelelahan dan berniat untuk mengambil jeda beberapa tarikan napas. Namun, baru saja dia duduk, Xin Dong dari arah belakang mengguyurkan seember air dengan wajah dingin.


"Aku tidak ingin memiliki murid malas." Xin Dong mengatakannya dengan dingin dan membuat Wang Tian Sin bergidik ngeri.


Walau selama ini Long Tian melatihnya dengan keras, dia jarang mendapat pelatihan fisik yang melampaui batasannya karena setiap Long Tian memberinya tugas maka akan diselesaikannya dengan hasil yang memuaskan.


Setelah puas menyiram murid barunya, Xin Dong berbalik sebelum memasuki pondok.


"Ayah ... apa ini tidak berlebihan." Xin Yue bertanya pada Xin Dong. Selama ini bahkan dirinya tak pernah dilatih sekeras itu oleh ayahnya.


"Berlebihan bagaimana?" Xin Dong mendengus pelan dan melanjutkan langkahnya. Ketika dia akan memasuki kamar, langkahnya terhenti. Tanpa menoleh dia berkata, "Dia pemuda yang berkemauan keras, jauh dari diriku atau ayahnya saat kami masih muda. Dalam waktu tiga bulan dia harus menguasai apa yang kamu kuasai."


Xin Yue terkejut dan hanya bisa menahan napas. Apa yang ia kuasai saat ini adalah hasil latihannya selama belasan tahun. Bagaimana ayahnya mengatakan jika Wang Tian Sin harus menguasainya dalam waktu tiga bulan? Jika bukan Ayahnya yang mengatakan pasti dia akan memilih untuk tertawa.


***


Xin Dong keluar dari pondok bersama Xin Yue yang berjalan di belakangnya dengan langkah pelan. Wajahnya masih agak pucat tapi jauh lebih baik dari hari kemarin.


Wang Tian Sin bergegas bangun dan menyapa Xin Dong. Xin Dong hanya mengangguk pelan.


"Tian Sin, mulai saat ini rantai dan batu yang memberati tubuhmu tak boleh dilepas hingga kau menguasai langkah bayangan. Kau paham?" Xin Dong mengatakannya dengan lugas, tetapi ujung bibirnya sedikit naik dan terlihat senyuman samar yang mengerikan.


"Maksud guru?" tanya Wang Tian Sin yang terkejut hingga tak memahami maksud Xin Dong.

__ADS_1


Xin Dong melotot tajam tetapi tetap menjelaskannya pada Wang Tian Sin. "Selama kau belum menguasai langkah bayangan, rantai dan batu yang menjadi pemberat tubuhmu tak boleh dilepas. Kau paham?"


Walau merasa keberatan, tetapi ini adalah perintah gurunya. Wang Tian Sin hanya bisa mengangguk pasrah. "Murid mengerti."


Xin Dong tersenyum nakal dan meninggalkan Wang Tian Sin.


Xin Dong juga mengumumkan jika tak ada yang boleh memberikan Wang Tian Sin makanan sementara seluruh keping perak yang Wang Tian Sin miliki beserta tombak dan pedang sudah disita oleh Xin Dong.


"Guru ... apa maksud semua ini?" protes Wang Tian Sin saat tombaknya diambil.


"Kau yang meminta untuk menjadi muridku tapi mempertanyakan caraku melatih. Jika tidak suka maka kau bisa memotong tangan kananmu dan pergi dari istana pedang."


Xin Dong berlalu meninggalkan Wang Tian Sin yang masih dikuasai keterkejutan. Tanpa adanya uang dan senjata, maka mendapatkan makanan adalah hal yang sulit.


Perutnya juga kosong di saat yang tidak tepat. Saat ini genderang lapar sudah terdengar dari perut Wang Tian Sin membuat pemuda itu tersenyum pahit.


Untung saja udara saat ini sedang hangat, memungkinkan bagi Wang Tian Sin untuk mencari makanan di danau.


Saat Wang Tian Sin turun gunung menuju danau yang ada di kaki gunung, beberapa anggota istana pedang yang melihat penampilannya tertawa mengejek.


"Jika aku sudah lepas, akan kupastikan kalian bersujud di kakiku untuk meminta ampun."


Setelah menghabiskan beberapa waktu berjalan, Wang Tian Sin akhirnya sampai di tepi danau. Danau itu tak terlalu besar, tetapi tampaknya cukup dalam karena airnya terlihat berwarna biru tua. Dengan hati-hati Wang Tian menapakan kakinya ke air, tetapi tiba-tiba terasa dorongan kasar dari bahunya.

__ADS_1


Wang Tian Sin tak siap, rantai yang membelenggunya juga membuat refleknya melambat, sehingga mau tidak mau dirinya harus merasakan dinginnya air danau.


__ADS_2