Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Kedatangan Keluarga Kekaisaran


__ADS_3

Tangan Wang Tian Sin bergetar, dia tidak menyangka jika kitab naga bumi yang dibicarakan merupakan gulungan kulit tua yang terlihat biasa saja. Jika dirinya tidak teliti, pasti dia tidak akan menyangkanya.


Wang Tian Sin membaca karakter yang tertulis dalam gulungan tersebut, ada beberapa langkah yang harus dilewati sebelum menguasai kitab itu sepenuhnya.


Langkah pertama adalah ilmu penempaan tulang, yang kedua adalah ilmu penempaan kulit dan yang ketiga adalah penempaan jiwa.


Ada sebuah catatan kecil, Wang Tian Sin membacanya dengan penuh tanda tanya, "Naga bijaksana mengikis dendam dan amarah. Bumi yang kuat menggunakan hati untuk bertindak."


"Apa ini berkaitan dengan guru yang memintaku mengikis dendam dan amarah agar bisa mempelajari kitab ini? Apa hati yang bersih menjadi syarat utama untuk mempelajarinya?" ucap Wang Tian Sin bingung.


Wang Tian Sin kembali membaca surat dari Tabib Yan dan menguatkan tebakannya tentang syarat mempelajari kitab naga bumi.


"Jika ini adalah syarat utamanya, maka aku tidak bisa mempelajarinya dalam waktu dekat." Wang Tian Sin sudah berusaha untuk menghilangkan kebencian serta dendam dalam hatinya, tetapi masih ada setitik kebencian yang selalu mengganggunya.


Karena tidak akan mempelajarinya dalam waktu dekat, maka Wang Tian Sin menyimpan kitab itu dalam lemari rahasia lagi dan keluar dari kamar tersebut. Diambilnya seguci arak untuk menghangatkan hari yang masih dingin.


***


Pengamanan kota Qin diperketat pasca kejadian pembunuhan gubernur Qin, apalagi hari ini keluarga kaisar akan mengunjungi kota Qin. Para prajurit berlalu lalang mengamnkan keadaan tak ingin kecerobohan sebelumnya terulang kembali.


Sebuah kuda berwarna coklat yang begitu gagah, ditunggangi oleh seorang pria berusia hampir lima puluh tahun tetapi masih sangat gagah itu menerobos tembok barat kota Qin. Dia adalah pangeran Rui yang datang bersama tujuh puluh pengawal pribadinya yang juga menunggang kuda.


Rombongan berkuda itu membelah jalanan kota Qin menuju kediaman Qin yang terletak di pusat kota. Warga-warga yang sedang beraktivitas di jalan segera menepi dan membungkuk hormat.


"Hia!" teriak Pangeran Rui saat melecut kudanya. Wajahnya begitu dingin, tak ada senyum di wajahnya yang kasar dan matanya memancarkan kepedihan mendalam.

__ADS_1


Semakin dekat dengan kediaman Qin, hati Pangeran Rui kian memanas karena mengingat kenangannya dengan Qin Huang. Seperti ada bara api yang menempel di hatinya, di waktu bersamaan angin dingin juga menyapu jiwanya, membuat pria paruh baya itu menyimpan dendam di hati.


Sebuah kediaman yang dengan plakat nama "Kediaman Qin" sudah terlihat, Pangeran Rui memelankan laju kudanya dan berhenti di depan kediaman. Pangeran Rui turun dari kudanya dan berjalan begitu saja, seorang penjaga berjalan menghampiri kuda tersebut dan membawanya ke kandang kuda.b


Ning Lei menyambut kedatangan Pangeran Rui dan segera memberi hormat, "Ning Lei memberi hormat pada Pangeran Rui."


Pangeran Rui mengenal baik pemuda di hadapannya, tersenyum tipis dan memegang kedua bahu Ning Lei, "Bangunlah. Di mana Qin Guan?"


"Tuan Muda Qin telah menunggu Anda di aula utama," jawab Ning Lei sopan.


Pangeran Rui mengangguk tipis dan berjalan menuju Aula utama kediaman Qin. Setahun yang lalu, saat dirinya memeriksa perbatasan timur dia menyempatkan diri untuk mampir ke tempat ini. Rasanya waktu itu berlalu belum begitu lama, tetapi telah merubah banyak hal.


Sebuah meja batu yang dikelilingi empat kursi batu membuat Pangeran Rui terdiam beberapa saat. Itu adalah tempat biasa dia dan Qin Huang menghabiskan waktu dengan minum arak dan mengobrol santai.


Satu jam sebelumnya, Ning Lei memberitahu Qin Guan jika Pangeran Rui sudah ada di luar gerbang kota dan akan sampai dalam waktu satu jam. Qin Guan mengganti pakainnya menjadi pakaian formal, tetapi masih kental dengan nuansa putih karena semua pakaiannya memang berwarna putih.


Qin Guan kemudian menemui Xuanyuan Wentian yang sedang membaca buku di ruang belajar Qin Guan, memintanya untuk bersiap karena Pangeran Rui datang berkunjung. Xuanyuan Wentian mengangguk, kemudian dirinya menukar pakaian dengan jubah berwarna biru muda dengan luaran berwarna putih susu, kontras dengan kulitnya yang sedikit gelap karena gemar berkelana.


Kedua pemuda itu menuju aula utama yang sudah dirapikan dan menunggu kedatangan Pangeran Rui.


"Qin Guan, apa tidak masalah jika aku ikut menyambut Pangeran Rui?" tanya Xuanyuan Wentian.


Qin Guan meliriknya, "Apa kau lupa dengan statusmu sebagai Tuan Muda Xuanyuan? Bagaimana aku bisa mengabaikanmu dan membuarkanmu mengakar di ruang belajar?"


Xuanyuan Wentian tersenyum dan mengangguk dua kali, "Oo ... jadi kalau aku bukan Tuan Muda Xuanyuan, aku akan diabaikan?"

__ADS_1


Qin Guan mendengus kesal, "Wentian, apa kau sudah mandi dengan gadis lembah bunga? Kenapa mulutmu mengesalkan seperti mereka."


Xuanyuan Wentian berdecak kesal. Lembah Bunga berisi wanita-wanita cantik yang mempelajari ilmu sesat demi kekuatan dan mempercantik diri. Tentu saja Xuanyuan Wentian tidak akan berpikir untuk bersama mereka, membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. "Qin Guan, dirimu seperti gadis yang sedang datang bulan."


Qin Guan hanya berdecak kesal dan tak membalas ucapan Xuanyuan Wentian. Beberapa hari ini emosinya memang tidak stabil seperti gadis yang beranjak dewasa. Apalagi tugas-tugas gubernur yang ia kerjakan membuatnya semakin terbebani.


Kaisar Yin belum memutuskan Gubernur Provinsi Qin yang baru sehingga beberapa tugas mendesak yang harus ditangani terpaksa diambil alih oleh Qin Guan dan beberapa pejabat. Dua orang yang kemungkinan menjabat menjadi gubernur selanjutnya adalah Qin Yang dan Qin Guan.


Sebenarnya Qin Guan merasa keberatan jika dirinya diangkat menjadi Gubernur Qin menggantikan mendiang ayahnya, tetapi menyerahkan kursi ini kepada pamannya yang berotak mesum sama seperti menghancurkan kemakmuran Qin yang dibangun oleh dua gubernur sebelumnya. Mau tidak mau Qin Guan harus berusaha agar mendapat jabatan tersebut demi rakyat dan tiga ratus ribu pasukannya.


"Qin Guan, kau melamun?" tanya Xuanyuan Wentian. Qin Guan tergagap saat mendapati wajah kawannya sudah ada di depan mukanya.


"Ah ... tidak," jawab Qin Guan singkat.


Saat Xuanyuan Wentian hendak mengeluarkan pertanyaan lagi, seorang penjaga memberitahu jika Pangeran Rui telah sampai dan akan masuk sebentar lagi.


Benar saja, beberapa saat kemudian, siluet pria berjubah coklat memasuki ruangan dan menuju Qin Guan.


Qin Guan bangkit dan menyambut Pangeran Rui, sementara Xuanyuan Wentian mengekor di belakang Qin Guan.


"Qin Guan memberi salam pada Pangeran Tua Rui," ucap Qin Guan seraya membungkuk hormat dengan dua tangan menakup di depan dada.


"Xuanyuan Wentian memberi salam pada Pangeran Tua Rui."


Pangeran Rui mengangguk dan membantu dua pemuda kembali berdiri.

__ADS_1


__ADS_2