
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Tabib Yao berdiri dan mengajak Di Min Jie untuk berbicara di luar. Di Min Jie begitu penasaran dengan penyebab Wang Tian Sin jatuh pingsan.
"Tabib Yan, bagaimana kondisi Tuan Muda Wang?" tanya Di Min Jie.
Tabib Yan menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Perwira muda, seharusnya kondisi Tuan Muda Wang tidak seburuk ini jika dia beristirahat di rumah hingga beberapa hari ke depan. Racun yang ada dalam tubuhnya memang sudah bersih seluruhnya tetapi tubuh Tuan Muda Wang harus beristirahat."
Di Min Jie menatap takjub kepada Tabib Yan. Semenjak kedatangannya ke biro pengobatan Quanyu dia belum mengatakan apa-apa kepada para tabib dan tabib Yan mengetahui jika Wang Tian Sin sebelumnya terkena racun. Sungguh hebat pikirnya.
Tabib Yan yang merasa jika Di Min Jie menatapnya dengan pandangan lain merasa aneh, "Ada apa, perwira muda?"
Menyadari kesalahannya, Di Min Jie menggeleng pelan dan membungkuk hormat kepada Tabib Yan. "Wawasan Tabib Yan begitu luas, saya belum mengatakan apa-apa tentang Tuan Muda Wang dan Tabib Yan sudah mengetahui seluruhnya. Saya merasa sangat kagum."
Tabib Yan memegang kedua lengan Di Min Jie dan membantu perwira muda itu kembali berdiri tegap. "Hal seperti ini sebagian besar tabib dapat mendeteksinya. Jadi, jangan terlalu memuji, paham?"
Di Min Jie mengangguk paham.
Tabib Yan berjalan meninggalkan Di Min Jie untuk menyiapkan obat , tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, tabib tua itu berhenti dan membalikan badannya. "Kalian dari kota Qin?"
"Benar, Tabib Yan," jawab Di Min Jie sopan.
"Apa Tuan Muda Wang sebelumnya diurus oleh tabib Yao?" tanya Tabib Yan. Di Min Jie mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Lalu kenapa dia membiarkan pasiennya pergi sejauh ini? Tidak biasanya dia melakukan tindakan ceroboh dan membahayakan nyawa pasien." Tabib Yan berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Apa Tabib Yao baik-baik saja?"
Di Min Jie menundukan wajahnya tak berani menjawab pertanyaan Tabib Yan. Dia hanya menggeleng pelan dan terdiam.
Saat Tabib Yan ingin mendesak Di Min Jie lebih lanjut, seorang pria masuk ke biro pengobatan Quanyu dengan tergesa dan berjalan menuju Tabib Yan dan Di Min Jie.
"Nie Feng memberi hormat kepada Guru Besar Yan!" Pemuda yang menyebut dirinya sebagai Nie Feng mengatupkan kedua tangan di depan dada dan berlutut di hadapan tabib Yan.
Tabib Yan meminta Nie Feng untuk bangkit. "Ada kabar apa?"
Nie Feng memberikan sebuah gulungan kertas dengan cap biro pengobatan Quanyu cabang Qin. Sebelum membuka gulungan kertas tersebut, Tabib Yan menatap Di Min Jie sejenak, merasa hal ini berkaitan dengan Di Min Jie yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
Tabib Yan membuka gulungan kertas tersebut dan membaca tiap karakter dengan perlahan. Semakin lama Tabib Yan menatap kertas itu, semakin banyak karakter yang ia baca, semakin berkerut pula kening dari tabib tua itu. Tabib Yan roboh begitu menyelesaikan karakter terakhir dalam surat tersebut.
"Jadi ... jadi ini alasan perwira muda tidak dapat menjawab pertanyaanku?' tanya Tabib Yan. Di Min JIe mengangguk.
"Gubernur Qin, Naga Langit, kawanku ... Tabib Yao ... berapa prajurit yang gugur malam itu?" tanya Tabib Yan lagi.
Di Min Jie mengangkat kepalanya, menjawab pertanyaan Tabib Yan dengan ragu-ragu. "Sekitar dua ratus prajurit. Kejadiannya memang hanya beberapa saat, tetapi kemampuan lawan mengerikan dan para Jendral yang memiliki kemampuan tinggi belum sampai ke lokasi."
Tabib Yan mengangguk pelan. Dia mengeluarkan sebuah surat yang tersimpan di balik jubahnya dan menyerahkannya kepada Di Min Jie. "Aku mengenal Naga Langit Long Tian, aku sahabat dekat Tabib Yao, walau tidak begitu akrab dengan Gubernur Qin, tetapi aku pernah mengobatinya saat di medan perang beberapa kali. Beberapa hari lalu Tabib Yao dan Tuan Long mengirim surat kepadaku, Tabib Yao mengatakan jika Qin Guan terluka dan memerlukan bantuanku untuk memulihkan kondisi. Sementara Tuan Long mengatakan jika cucunya sedang terluka dan sementara ini menetap di kota Qin."
__ADS_1
Menghela napas perlahan, Tabib Yan kembali melanjutkan kalimmatnya, "Aku sedang berada di Weida, berusaha secepat mungkin ke kota Qin agar bisa bertemu dengan dua kawan lama, tetapi aku terlambat."
"Tabib Yan, saya tahu perpisahan memang menyakitkan. Apalagi jika tak saling mengucapkan selamat tinggal. Tetapi, baik itu Tabib Yao mau pun Tuan Long Tian sudah tenang di akhirat. Dan pemuda yang dimaksud Tuan Long sebagai Cucunya adalah Tuan Muda Wang." Di Min Jie merasa perlu membocorkan identitas lain dari Wang Tian Sin karena hubungan antara mendiang Long Tian dan Tabib Yan.
Tabib Yan melebarkan matanya, "Cucu macam apa Wang Tian Sin ini? Kenapa dia pergi sejauh ini di saat tanah kuburan kakeknya bahkan belum kering?"
"Tabib Yan, anda jangan salah paham dulu. Tuan Muda Wang sedang membawa tubuh Tuan Long menuju Gunung Long Hong. Dia ingin mewujudkan keinginan Tuan Long ketika beliau masih hidup." Di Min Jie tak bisa membiarkan Tabib Yan mengamuk kepada Wang Tian Sin sehingga terpaksa membocorkan rencana perjalanannya yang rahasia.
"Jadi tubuh Tuan Long ada di kota ini?" tanya Tabib Yan.
"Tubuh Tuan Long ada di luar Kota Qian, tetapi saya berniat membawanya masuk esok," ucap Di Min Jie.
Tabib Yan menggeleng tak setuju dengan ide Di Min Jie. "Perwira muda, apa kau hafal rute menuju gunung Long Hong?"
Di Min Jie mengangguk, "Saya pernah ke tempat itu beberapa kali walau tidak sampai puncak."
Tabib Yan tersenyum tipis, "Baguslah jika begitu. Sebaiknya Perwira muda melanjutkan perjalanan dan menunggu Tuan Muda Wang di kaki Gunung Long Hong. Untuk memulihkan kondisinya dengan cepat, aku akan membuat Tuan Muda Wang istirahat selama dua hari penuh. Setelah itu dengan kecepatan penuh Tuan Muda Wang menyusul kalian."
Di Min Jie berpikir sejenak, menimbang segala macam kemungkinan. "Usul Tabib Yan cukup bagus, tetapi bagaimana jika Tuan Muda Wang menolaknya dan memaksa untuk ikut?"
"Kau tidak percaya kepadaku? Qin Guan saja tidak dapat menolak kata-kataku, apalagi Wang Tian?" ucap Tabib Yan sombong.
__ADS_1
"Tapi tabib Yan, Tuan Muda Wang jauh lebih keras kepala dari Tuan Muda Qin." Di Min Jie sama sekali tidak ingin merepotkan Tabib Yan untuk membujuk Wang Tian Sin yang keras kepala.
"Semakin keras kepala maka semakin bagus. Aku masih penasaran apakah kemampuanku menjinakan pasien masih sebagus dulu atau sudah memudar," ucap Tabib Yan. "Perwira muda, sebaiknya kau beristirahat karena perjalanan panjang menantimu esok hari."