Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Pedang Pembelah Gunung


__ADS_3

Wang Tian Sin tak pernah mengira jika Xiao Lang masih memiliki sejumlah luka dalam saat pulang. Tatapan tajam serta penjelasan singkat yang diberikan oleh Tabib Yan memperjelas semuanya. Tabib Yan memberikan beberapa tusukan jarum lagi dan membuat Xiao Lang tertidur.


Tabib Yan membuat tonik penyembuh dan memberikannya pada Xiao Lang ketika pemuda itu masih tertidur. Rona pucat wajah Xiao Lang menghilang saat pipi Xiao Lang mulai memerah.


Saat Tabib Yan memberikan tonik pada Xiao Lang, Wang Tian Sin pergi mengambil jubah dan pedang yang ia tinggalkan di kolam es.


Wang Tian Sin memandang sarung pedang miliknya yang berwarna hitam dan dihiasi beberapa batu mulia. Selama ini pedang tersebut ia tinggal di rumah karena lebih senang menggunakan tombak sebagai senjata utama.


Berjalan menuju halaman belakang rumah yang cukup luas dan lapang, tempat biasanya ia berlatih ilmu pedang, Wang Tian Sin melemparkan jubahnya yang basah, kemudian menarik pedang dan melemparkan sarungnya entah ke mana.


Mengalirkan tenaga dalam ke pedang, Wang Tian Sin mulai bergerak lincah menebas dan menusuk udara kosong, memainkan sebuah jurus yang bernama pedang pembelah gunung.


Berlatih pedang mampu menenangkan pikiran dan jiwa yang sedang terguncang, dan Wang Tian Sin saat ini sedang membuktikannya. Setiap tebasan yang dilakukan Wang Tian Sin bertenaga dan mematikan, hawa pedang yang melesat dari tebasan pedangnya juga tak jarang menebas dahan dan ranting pohon, menyebabkan suara gemerisik yang menarik perhatian Tabib Yan.


Tabib Yan menunggu dari jarak aman agar tak terkena serangan nyasar hawa pedang Wang Tian Sin. Pria tua itu hanya bisa berdecak kagum dengan kemampuan bermain pedang Wang Tian Sin.


Wang Tian Sin merasa dirinya sedang diperhatikan, mulai melakukan gerakan-gerakan akhir dari langkah pedang pembelah gunung. Saat itu Wang Tian Sin mengalirkan hampir semua tenaga dalam ke pedangnya dan menebas batu berukuran gajah dewasa yang sudah retak akibat latihannya beberapa waktu lalu.


Boom!


Batu yang sudah retak kini terbelah menjadi dua, Wang Tian Sin yang kelelahan jatuh berlutut, napasnya tersengal serta tangan kanannya gemetaran.


"Jika belum mampu kenapa dipaksakan?" tanya Tabib Yan yang kini mendekati Wang Tian Sin.


Wang Tian Sin menoleh ke arah Tabib Yan, lalu kembali menundukan kepala tanpa mengatakan apa-apa. Tabib Yan berlutut di hadapan Wang Tian Sin, menepuk pundak pemuda itu pelan, "Aku tidak bermaksud menyalhakanmu,"

__ADS_1


"Aku tidak apa, Tabib Yan. Ini memang salahku," ucap Wang Tian Sin.


"Yah ... kalian anak muda memang suka usil, aku hanya panik. Xiao Lang baik-baik saja, dia kelelahan ditambah tulang-tulangnya yang patah baru menyatu, jadi dengan air di kolam es yang begitu dingin memang membuatnya kesakitan." Tabib Yan berusaha menghibur Wang Tian Sin yang masih merasa bersalah.


Beberapa kali mencoba, Tabib Yan berhasil membuat hati Wang Tian Sin lebih baik. Mereka berdua duduk dan minum teh panas sembari menunggu Xiao Lang sadar.


"Tabib Yan ... apa anda juga nakal saat masih muda?" tanya Wang Tian Sin penasaran sambil sesekali menyesap teh panas dalam cangkir.


Tabib Yan mengangguk, "Sampai tua aku masih nakal, jika tidak, kenapa aku sampai menciptakan jari petir?"


Wang Tian Sin mengangguk setuju, menurutnya tabib yang paling tidak ramah kepada pasiennya adalah Tabib Yan, tabib yang paling galak juga Tabib Yan. Saat orang lain berusaha membujuknya saat memberi pengobatan, Tabib Yan malah memaksanya dan mengancam menggunakan jari petir, tentu itu satu bentuk kenakalannya.


"Tapi ...." ucap Tabib Yan yang membuat Wang Tian Sin penasaran.


"Tapi apa, Tabib Yan?" tanya Wang Tian Sin penasaran.


Tawa Wang Tian Sin meledak, tak berniat mengejek Tabib Yan tetapi dia membayangkan kejadian itu. Walau tak pernah tahu bagaimana sifat orang tuanya secara langsung, tetapi rata-rata orang yang hidup dan besar di lingkungan militer akan bersikap tegas. "Lalu apa yang ayah lakukan?"


"Dia tak pernah tahu aku yang melakukannya," jawab Tabib Yan.


Wang Tian Sin tak dapat menahan tawanya dan terus tertawa hingga Xiao Lang keluar dari kamarnya dengan wajah lelah.


"Lang gege ... kenapa bangun?" tanya Wang Tian Sin.


Xiao Lang bergabung bersama Tabib Yan dan Wang Tian Sin, pemuda itu duduk di samping tungku penghangat. "Bagaimana aku bisa tidur? Suaramu seperti ada di samping telingaku."

__ADS_1


Wang Tian Sin menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak enak hati karena telah mengganggu tidur Xiao Lang.


Xiao Lang mengambil cangkir kosong dan menuang teh panas ke dalamnya. Tabib Yan yang sejak tadi diam mulai bersuara, "Apa sudah lebih baik?"


"Sangat baik, Tabib Yan. Terima kasih," jawab Xiao Lang sopan.


"Lang gege ... kenapa kau tidak bilang sedang terluka?" tanya Wang Tian Sin.


Xiao Lang menghela napas panjang sebelum berkata, "Apa Guan gege tidak mengatakan jika aku jatuh dari tebing tanpa batas?"


"Dia mengatakannya," jawab Wang Tian Sin cepat.


"Menurutmu orang yang jatuh dari tempat setinggi itu akan baik-baik saja?"


Wang Tian Sin menggeleng sebelum memberikan jawaban yang membuat Xiao Lang kesal bukan main. "Pasti mati."


Mendengar Xiao Lang jatuh dari tebing tanpa batas membuat Tabib Yan mengerutkan kening hampir tak percaya. Dia mengira itu semua hanya rumor belaka dan mengabaikannya. "Apa benar-benar dari puncak?"


Xiao Lang mengangguk mantap. "Jika tidak mengandalkan keberuntungan pasti sudah mati."


"Ceritakan," ucap Tabib Yan tertarik.


"Saat itu aku dan Guan gege sedang turun gunung, aku tergelincir dan jatuh, untung saja bisa menarik pedang dan menggunakannya agar tak langsung jatuh ke bawah. Beberapa kali berhasil menancapkan pedang ke tebing, saat ketinggian sekitar tiga puluh meter pedang terlepas dan hanya bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh. Hasilnya tidak buruk, setidaknya dewa masih memberikan kesempatan untuk hidup."


Orang yang dibesarkan Long Tian pasti bukan orang biasa, itulah yang ada dalam pikiran Tabib Yan. Pendekar tingkat tinggi pun akan sulit bertahan jika terjatuh dari tempat setinggi itu. Wang Tian Sin yang melihat Tabib Yan beberapa kali mengangguk, menjawab rasa penasaran pria tua itu. "Guru mengajarkan langkah raja naga ke Lang gege, ilmu meringankan tubuh yang dikuasai keluarga Long, diyakini salah satu yang terbaik di dunia. Dia sudah menguasai seluruhnya sedangkan aku baru tiga dari lima bagian."

__ADS_1


"Pantas saja. Kau beruntung bisa menguasai langkah raja naga sampai tuntas. Sebaiknya kau ajarkan semua bagian pada Tian Sin agar dia bisa kabur saat situasi mendesak," ucap Tabib Yan melirik Wang Tian Sin sekilas.


Wang Tian Sin hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang.


__ADS_2