Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Medan Perang


__ADS_3

Mata Jendral Huaihuang terbuka lebar ketika sebuah benda yang memiliki dua roda dengan satu pelontar yang bisa menampung manusia dewasa mulai maju di bagian depan barisan.


"Pelontar batu!" teriak Jendral Huaihuang dari tempatnya duduk.


Semua prajurit bersiaga, prajurit yang berjaga di bagian bawah tembok segera menjaga jarak dan menyiapkan perisai.


"Tiga ratus kaki!" teriak prajurit pengawas.


Para pemanah bersembunyi di tembok kota, mencari posisi untuk membidik.


Perlahan tapi pasti, prajurit yang diketahui berasal dari Song Utara mulai merayap mendekati tembok kota Ming. Kini dapat terlihat dengan jelas jika jumlah mereka mendekati seratus ribu, membuat Jendral Huaihuang terpaksa menggertakan giginya karena menahan marah.


Jendral Huaihuang bangkit dari tempat duduknya sebelum menyalurkan tenaga dalam pada setiap kata yang dikeluarkannya.


"Walau tembok ini hancur berkeping-keping, jangan biarkan satu pun musuh masuk ke negeri kita yang agung!"


Kobaran semangat prajurit Ji Feng yang sempat padam kini mulai membara.


Dengan ribuan nyawa penduduk yang ada di balik tembok kota ini, mereka, para prajurit Ji Feng bertekad untuk mendonasikan nyawa demi Yin yang agung.


"Menang!"


"Menang!"


Teriakan demi teriakan mulai menggelora di sepanjang tembok kota Ming. Jendral Huaihuang menggenggam erat tombak besinya yang memiliki rumbaian berwarna merah sebagai hiasan. Warna putih mengkilap di ujung tombak berbanding terbalik dengan darah lawan yang akan dia tumpahkan.


Prajurit pengawas kembali berteriak memberi peringatan para temannya.


"Seratus Kaki!"


Liu Qing mengangkat tangannya seraya berseru lantang.


"Tembakkan panah!"

__ADS_1


Anak panah yang sudah dipasang di busur hingga melengkungkan besi tersebut, melesat dengan kecepatan yang tak dapat diikuti dengan gerakan.


Panah-panah yang begitu banyak seolah-oleh rintikan air dalam gerimis sedang turun membasahi bumi. Suara siulan angin yang diikuti jeritan kematian terdengar memilukan, tetapi bagai soneta bagi para prajurit Ji Feng.


Namun, jerit kematian itu hanya terdengar sesaat, hanya sekitar dua puluh tarikan napas saja. Yang terjadi selanjutnya adalah, suara dentang dari besi yang saling beradu diikuti panah-panah yang jatuh ke tanah, kehilangan kekuatan membunuhnya.


Perisai dan pedang mulai muncul untuk menghalau panah yang tajam itu menembus tubuh mereka.


Liu Qing yang melihat panah tak lagi efektif meminta para pemanah untuk berhenti.


Pasukan berkuda dari Song Utara berhenti dan membelah jalur, membaginya menjadi dua pasukan. Satu pasukan bergerak ke sayap kanan pertahanan pasukan Ji Feng sementara yang lainnya bergerak ke sayap kiri.


Pasukan pemanah yang tadi sudah bersiap di balik prajurit bersiap di belakang kavaleri langsung mengambil bagiannya. Anak panah langsung mereka pasang, busur mereka tarik hingga melengkung lalu anak panah mulai dilesatkan.


Liu Qing melihat hal itu segera meminta pasukan perisai maju.


"Perisai!"


Pasukan perisai yang ada di atas tembok kota segera membagi menjadi tiga baris. Baris pertama melindungi bagian depan, baris kedua di arah samping kepala sementara baris ketiga mengambil alih perlindungan kepala. Saat perisai dari tiga barisan tersebut dirapatkan, terlihat pertahanan kokoh yang tak dapat ditembus oleh hujan anak panah.


Sedikit demi sedikit prajurit Song Utara mulai mendesak tembok barat kota Ming. Tangga bambu mulai tersender di tembok kota Ming, lalu satu persatu prajurit Ming mulai menaiki tangga tersebut dengan tatapan beringas dan gerakan yang ganas. Jika dilihat dari jarak dekat, mata prajurit Song utara memerah memancarkan semangat yang menggelora.


"Gunakan batu!" teriak Liu Qing.


Batu yang sudah disiapkan sejak awal mulai digunakan, prajurit Ji Feng yang di bibir tembok melakukan tugasnya dengan oenuh semangat, melemparkan batu yang berukuran sebesar kepala manusia dan mengincar titik rawan lawan yaitu kepala.


Tak ingin batu yang berharga itu menjadi sia-sia, mereka hanya melemparkan batu tepat si atas tangga di mana ada kerumunan manusia di bawahnya. Walau prajurit Ji Feng melemparnya dengan tutup mata, tak perlu diragukan lagi jika baru tersebut akan mengenai lawan.


Namun, selain menggunakan mata dan pikirannya untuk mengincar lawan, prajurit Ji Feng juga menggunakan segenap tenaga mereka saat mereka menjatuhkan batu-batu tersebut. Jadi, yang terjadi selanjutnya adalah pemandangan yang mengocok perut bagi siapa saja yang melihatnya. Kepala yang hancur dengan darah yang menggenang serta bercak putih yang berasal dari otak manusia yang ikut hancur, barpadu menjadi satu.


Beberapa prajurit Song Utara yang ada di bawah, mulai histeris saat wajahnya terkena cipratan darah kawannya yang disusul dengan tubuh tanpa kepala utuh.


Walau begitu, kepanikan itu hanyalah sesaat. Beberapa kalimat yang dikeluarkan oleh komandan mereka nyatanya mampu membuat nyali mereka kembali kokoh.

__ADS_1


Seberapa banyak pun batu yang menewaskan prajurit Song Utara, tetap saja akan ada beberapa prajurit yang naik menggantikan kawannya.


Seberapa cepat pun prajurit Ji Feng melempar batu, tetap saja akan ada prajurit Song Utara yang naik dan kini pencapaian mereka lebih tinggi, yaitu menyentuk bibir tembok kota Ming.


Bilah dingin dari tombak panjang yang dipegang oleh ratusan prajurit Ji Feng sudah bersiaga semenjak awal pertempuran dimulai. Genggaman itu semakin erat dan erat ketika tangga mulai menyender di tembok dan prajurit lawan mulai naik. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya bilah-bilah dingin yang haus akan darah mulai mendapatkan keinginannya.


Dengan ganas ujung tombak prajurit Ji Feng menembus tenggorokan lawan ketika mereka menyentuh bibir tembok. Dengan senyum iblis di wajah mereka, prajurit Ji Feng seolah lupa jika yang mereka tusuk adalah tenggorokan manusia, bukan karung pasir belaka. Namun, ini adalah medan perang. Cara apaoun dilakukan demi biaa bertahan hidup dan meraih kemenanga. Jika mereka tak menusuk untuk saat ini, maka mereka akan menusuk kita dalan beberapa saat lagi.


Tak ada jeritan yang keluar dari mulut prajurit itu, hanya mata yang melotot dan tangan mengacung, menunjuk pencabut nyawanya dengan tatapan penuh pertanyaan.


Aku belum siap kenapa kau menyerang?


Mungkin itu yang mereka pikirkan.


Namun, hanya orang-orang bodoh yang berpikir demikian. Dalam medan perang tak ada kata siap atau tidak siap, yang ada hanyalah hidup atau mati.


Di saat beberapa prajurit sibuk menghunus tombok menembus tenggorokan lawan, beberapa lainnya mulai sibuk menjatuhkan kendi-kendi minyak di barisan yang paling padat karenantak ingin menyiakan setetes pun minyak tersebut.


Di menara tertinggi, Jendral Huaihuang yang memiliki kemampuan memanah luar biasa mengenggam busur merah tuanya, busur yang sudah menemani dalam ratusan pintu kematian.


Di tangan kanannya, terdapat dua anak panah yang di ujungnya terdapat gumpalan kain kasar dengan minyak yang melumurinya. Ketika dua panah tersebut dipasang dan busur mulai dilengkungkan, seorang prajurit dengan sigao menyalakan dua ujung panah itu hingga api kecil menari-nari.


Jendral Huaihuang melesatkan dua panah tersebut ke dua arah yang berbeda, mengincar kumpulan prajurit yang sudah tersiram minyak. Maka, sesaat setelah panah melesat, kobaran api mulai membumbung di antara prajurit Song Utara.


Api dengan cepat menyebar karena prajurit tersebut berlari ke sana kemari bagai anak ayam mencari induknya.


Sebagian prajurit yang belum terbakar mulai panik dan menjauh, tak ingin menjadi daging bakar seperti sebagian kawannya. Namun, Jendral Huaihuang tak membiarkan hal itu terjadi. Dengan anak panah api di busurnya, Jendral Huaihuang membidik beberapa titik yang sudah terkena minyak sehingga menyebabkan kobaran api dengan cepat meluas.


Ketika prajurit utama Song Utara ditarik mundur, dentuman yang diikuti dengan getaran hebat mulai dirasakan oleh prajurit di atas tembok.


Liu Qing melebarkan mata ketika melihat sayap kanan mereka mulai dihujani dengan batu berukuran sebesar anak sapi hingga menewaskan beberapa prajurit Ji Feng dan membuat retakan besar di tembok kota.


"Lindungi sayap kanan!"

__ADS_1


Author Note:


Hallo ... Maaf karena hari kemarin saya tidak up. Tidak ada alasan yang biaa dicantumkan karena saya ketiduran. Nyatanya irama jangkrik di malam hari bisa membuat saya seperti di nina bobokan.


__ADS_2