
Seorang pria paruh baya dengan aura mengagumkan, wajah kasarnya tak mencerminkan dengan sebutan pangeran yang Xin Dong lontarkan.
Dia adalah Pangeran Tua Rui, tidak seperti Pangeran lain yang hidup dan besar di istana, Pangeran Tua Rui dibesarkan oleh medan perang dan dididik dengan pertempuran nyata. Dalam satu generasinya, hanya mendiang Wang Jiang yang bisa menandingi prestasinya.
Ketika Wang Tian Sin secara tak sengaja beradu pandang dengan Pangeran Tua Rui, dia merasakan getaran aneh dalam tatapan Pangeran Tua Rui padanya. Seperti tersirat sebuah kerinduan mendalam yang ia simpan di hatinya.
Apakah Pangeran tua Rui tahu identitasku?
Tiba-tiba Wang Tian Sin merasakan getaran aneh ketika memikirkan hal tersebut. Pangeran Tua Rui adalah pamannya, kakak dari ibunya dan teman dari ayahnya.
Saat Wang Tian Sin sekali lagi menatap wajah Pangeran Tua Rui, sebuah kerinduan mendalam kembali terlihat di mata tua pria tersebut.
"Pangeran ..."
Xin Dong melihat Pangeran Tua Rui yang menatap muridnya dengan tatapan sendu menjadi bingung. Apakah dia sudah mengetahui identitas asli Wang Tian Sin.
Pangeran Tua Rui melompat dari kudanya dan berjalan dengan perlahan mendekati Wang Tian Sin. Semua orang yang mengawalnya adalah pengikut setianya, dia tidak akan takut mereka melakukan hal ceroboh.
"Pangeran ... apa Anda tahu ...."
Pangeran Tua Rui mengangguk, air matanya lolos begitu saja.
Seorang lelaki tidak akan sembarangan mengeluarkan air mata. Hanya ada dua kemungkinan, dia sedang sakit hati atau dia terlalu bahagia untuk tertawa, sepertinya Pangeran Tua Rui termasuk yang terakhir.
"Nak, siapa namamu?" tanya Pangeran Tua Rui. Dia pernah melihat sketsa Wang Tian Sin, sekarang dia ingin memastikannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tian ... Tian Sin," jawab Wang Tian Sin tenang.
Tubuh Pangeran Tua Rui bergetar ketika dua kata yang dikeluarkan oleh pemuda itu. Tian adalah nama generasi muda keluarga Wang sementara Sin adalah satu dari tiga ponakan dari adik bungsunya.
"Nak ... inikah dirimu?" ucap Pangeran Tua Rui begita bahagia. "Ah ... tentu saja, bagaimana mungkin aku meragukannya? Matamu tajam seperti ibumu, kau pasti anak itu. Benar, kan?"
Wang Tian Sin tidak tahu harus bagaimana menjawab seluruh perkataan Pangeran Tua Rui. Namun, dengan diamnya Wang Tian Sin, Pangeran Rui telah menyimpulkan semuanya, dia berpikir jika Wang Tian Sin tetap diam demi keamanannya.
"Nak, jangan khawatir, mereka adalah bawahan ayahmu juga ketika dia masih hidup. Percayalah, tak akan ada yang berniat membahayakanmu."
"Bagaimana aku harus memanggil Anda, Pangeran?" tanya Wang Tian Sin.
Pangeran Tua Rui mengelus dagunya dan berpikir sebentar, "Panggil saja Paman Xie. Semua orang memanggilku Pangeran Tua Rui, tetapi kedua kakakmu memanggilku Paman Xie."
Wang Tian Sin cukup terkejut ketika mendengar Pangeran Tua Rui mengatakan kedua kakaknya, apa itu tandanya dia mengetahui di mana keberadaan mereka. Namun, Wang Tian Sin tak berniat menanyakannya.
Wang Tian Sin membungkuk hormat ketika mengatakannya. Pangeran Tua Rui terlihat puas dan membantu Wang Tian Sin berdiri.
"Bangunlah ...."
Pandangan Pangeran Tua Rui beralih kepada Xin Dong, "Ketua Xin, bagaimana Anda bertemu dengan anak ini?"
Xin Dong tersenyum kecut, tak menyangka jika Pangeran Tua Rui sudah mengetahui identitas Wang Tian Sin. Dia merasa sedikit menyesal karena pernah melukai pemuda tersebut.
"Ini hanya sebuah kebetulan. Dan juga ... jika saat itu tidak ada Tabib Yan, mungkin aku akan membunuhnya saat itu juga," ucap Xin Dong.
__ADS_1
Pangeran Tua Rui menggeleng pelan, dia sudah mendengar sepak terjang ponakannya di dunia persilatan melalui informasi dari Paviliun Langit. Anak ini benar-benar bebas sehingga sering melakukan hal-hal yang membahayakan nyawanya.
"Apa yang dia lakukan sehingga menyinggung tokoh tua seperti Anda, Ketua Xin?" tanya Pangeran Tua Rui penasaran.
"Sebenarnya tidak ada yang terlalu serius ketika awal pertemuan. Dia melindungi Zhen Ping saat saya akan membunuhnya. Saat itu saya tidak berpikir jauh dan meninggalkan Tian Sin di kota Xiang. Entah apa yang dia pikirkan, dia pergi ke kota Nan dan bertemu Xin Yue. Dia menyelamatkan nyawa Xin Yue tetapi saya berpikir dia yang melukainya, salah paham pun terjadi," jelas Xin Dong.
Pangeran Tua Rui kembali tertawa. Walau tidak akrab, dia sering mendengar tempramen ketua istana pedang yang meledak-ledak dan gampang marah. Ketika mendengar putranya terluka, maka sudah bisa dipastikan amarahnya meluap begitu saja.
"Anggap saja ini sebagai pelajaran untuk Xiao Sin. Sepak terjangnya yang tak dapat ditebak sering membuatku sakit kepala," ucap Pangeran Tua Rui.
Wang Tian Sin memerah pipinya karena malu. Dia tidak menyangka jika tingkah lakunya selama ini mendapat pengawasan dari beberapa orang.
"Namun, aku juga berterima kasih kepada Xiao Sin. Jika bukan karena dia, perbatasan selatan kita mungkin akan terancam." Pangeran Tua Rui menatap Wang Tian Sin dalam, Wang Tian Sin hanya mengangguk ringan sebagai balasannya.
Dia ingat beberapa waktu lalu dia mengirim peringatan pada Qin Guan untuk mengamankan Pangeran Mahkota dari Song Selatan. Mungkin Qin Guan tak bisa menanganinya dan meminta bantuan Pangeran Tua Rui.
Wang Tian Sin tidak curiga sama sekali ketika dia memikirkannya. Qin Guan dan Pangeran Tua Rui adalah rekan dalam militer, saling membantu bukanlah hal yang aneh.
"Nak ... aku mendengar kemampuanmu begitu hebat. Bagaimana jika kamu mengajari beberapa dari mereka?" Pangeran Tua Rui menunjuk beberapa orang yang mengawalnya. Beberapa dari mereka adalah pria berusia 45an tahun yang terlihat tak ramah, bahkan memandang Wang Tian Sin dengan tatapan remeh.
"Paman Xie, aku tidak berniat untuk menolak, tetapi senjata tak bermata, bagaimana jika aku tidak sengaja melukainya, bukankah itu akan merugikan Paman?"
Satu dari beberapa orang yang ditunjuk Pangeran Tua Rui mendengus tak senang.
"Pangeran, senjata tak bermata, kami tak ingin melukai pemuda ini, bagaimana pendapat Anda?"
__ADS_1
Pangeran Tua Rui tertawa, "Anak ini sudah terbiasa terluka, menambah satu luka tak masalah asal tak membuatnya cacat. Tetapi itu tergantung apakah kalian mampu atau tidak,"