
Setelah dua hari berkuda meninggalkan Provinsi Qin, Pangeran Tua Rui dan Qin Guan sampai di kota Tianyang, salah satu kota besar yang ada di Provinsi Ning. Di kota ini juga terdapat markas militer yang ada dalam kekuasaan Qin Guan sebagai jendral muda.
Kedatangan Jendral Muda yang mereka hormati tentu saja membuat para pasukan merasa anrusias, terutama pemimpin mereka, Xiao Ping Gan. Pria paruh baya yang memiliki tubuh hampir dua meter itu menyambut Qin Guan dan Pangeran Tua Rui dengan senyum lebar.
"Pangeran Tua Rui, Jendral muda Qin, Xiao Ping Gan memberi hormat!" ucapnya setengah berlutut.
Qin Guan dan Pangeran Tua Rui kompak meminta Xiao Ping Gan untuk kembali berdiri.
"Kami sudah menyiapkan jamuan dan pertunjukan militer, mohon Pangeran Tua Rui dan Jendral Muda bersedia melihatnya," ucap Xiao Ping Gan lagi.
Qin Guan tersenyum tipis tetapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya Pangeran Tua Rui yang menanggapi ucapan Xiao Ping Gan dengan kata-kata. "Jendral Xiao, melakukan perjalanan panjang di musim dingin begitu melelahkan, apalagi besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan, mungkin kali ini kami mengecewakan para pasukan yang sudah bersiap,"
Mendengar jawaban Pangeran Tua Rui membuat senyum di bibir Xiao Ping Gan memudar, tetapi tidak ada raut kecewa hanya ada rasa bersalah.
"Hamba mengerti. Mohon maafkan hamba yang kurang pengertian ini," ucap Xiao Ping Gan yang terlihat menyesal.
Pangeran Tua Rui mengangguk dan tersenyum tipis. Qin Guan juga tersenyum melihat betapa Pangeran Tua Rui dekat dengan para pasukannya. Jika dia tidak ingin melihat pertunjukan itu, dia bisa mengatakan tidak tanpa memberi penjelasan apa pun, tetapi Pangeran Tua Rui malah memilih membuang waktu agar tak menyakiti hati para prajuritnya.
Xiao Ping Gan berdiri di depan Pangeran Tua Rui dan mempersilakannya ke tempat istirahat yang sudah mereka persiapkan. "Silakan, Pangeran, Jendral muda, kami sudah mempersiapkan tempat istirahat."
Pangeran Tua Rui mengangguk tipis dan berjalan terlebih dahulu, disusul Qin Guan dan Xiao Ping Gan.
Ada aturan tak tertulis yang menyatakan, orang posisi tertinggi yang berhak berjalan paling depan, sehingga Pangeran Tua Rui berjalan lebih dulu.
Qin Guan memang bergelar Jendral Muda, tetapi gelar jendral tersebut diberikan langsung oleh kaisar yang membuat gelarnya istimewa. Kedudukan serta pengaruhnya di militer kekaisaran Yin hanya di bawah Pangeran Tua Rui dan Jendral Besar Qi Meng, serta setara dengan Jendral Huai Huang yang memimpin perbatasan.
__ADS_1
Xiao Ping Gan walau dia memegang gelar jendral, tetapi dia hanya diberikan kekuasaan di Provinsi Ning, memaksanya tunduk pada Qin Guan yang jauh lebih muda darinya.
Namun, prestasi-prestasi Qin Guan bukan omong kosong belaka, walau Xiao Ping Gan terkesan dipaksa menunduk pada Qin Gan, tetapi dalam lubuk hati terdalam pria tersebut, dia juga menaruh hormat pada Qin Guan.
Berjalan menuju sebuah ruangan yang telah Xiao Ping Gan siapkan, Qin Guan memperhatikan kamp tersebut, seperti biasa, kamp prajurit dipenuhi tempat dan alat-alat untuk para prajurit berlatih. Mulai dari sasaran tembak, boneka kayu, hingga tiang-tiang untuk melatih kekuatan tangan pun ada.
Qin Guan tersenyum tipis dan mengingat masa kecilnya yang dihabiskan di tempat latihan seperti ini, bersama dengan beberapa kawan yang kini menjadi bawahannya. Masa-masa itu memang sudah lama berlalu, tetapi dalam ingatan Qin Guan, kenangan itu masih terukir jelas dan tak akan bisa ia lupakan.
Pangeran Tua Rui menoleh dan melihat tatapan kosong Qin Guan, karena penasaran , Pangeran Tua Rui menghentikan langkahnya, "Qin Guan?"
Qin Guan yang larut dalam kenangannya tersentak saat mendengar panggilan Pangeran Tua Rui yang begitu mendadak, "Iya, Pangeran?"
"Kau mengingat masa lalu?" tanya Pangeran Tua Rui.
Pangeran Tua Rui duduk di kursi utama, lalu Qin Guan mengambil tempat di samping kanannya sementara Xiao Ping Gan di samping kirinya. Beberapa orang kepercayaan Pangeran Tua Rui juga ikut duduk bersama beberapa petinggi militer kota Tianyang.
Tidak ada masalah penting yang mereka bahas, di akhir jamuan Pangeran Tua Rui hanya berpesan untuk menambah kekuatan dan giat berlatih, sementara Xiao Ping Gan hanya bisa mengatakan iya.
Qin Guan masuk ke sebuah kamar yangbtelah dipersiapkan untuk dirinya, kamar kecil dengan meja kecil di samping tempat tidurnya. Sangat sederhana, jauh berbeda dengan kamar di kediamannya. Ini adalah kamp militer, di mana orang-orang hidup dalam dunia yang keras dan menjalaninya dengan keras. Hari-hari dihabiskan dengan berlatih dan bertugas, membuat para prajurit tak memikirkan kemewahan.
Qin Guan melepas baju pelindungnya, kemudian merebahkan tubuhnya yang sudah kelelahan. Berkuda dalam waktu lama dan tidur di alam terbuka memang sering Qin Guan lakukan apalagi saat menjalankan misi, tetapi kali ini berbeda karena Qin Guan baru saja sehat.
Saat Qin Guan hendak memejamkan matanya, terdengar langkah kaki mendekat membuat Qin Guan kembali menajamkan pendengarannya. Tak lama setelah itu, pintu ruangannya diketuk terdengar suara yang tak asing di telinga Qin Guan. "Qin Guan."
Qin Guan segera membuka pintu dan mempersilakan Pangeran Tua Rui masuk. "Paman, silakan."
__ADS_1
Pangeran Tua Rui mengangguk dan masuk.
Mereka berdua kini duduk berhadapan di tempat tidur Qin Guan. Qin Guan merasa penasaran karena Pangeran Tua Rui malah menemuinya di kamar, sepertinya ada hal yang mendesak hingga memaksa pria tersebut menemuinya seperti ini.
Pangeran Tua Rui yang tahu jika Qin Guan sedang dilanda rasa penasaran, tak banyak basa-basi dan langsung membahas inti permasalahan.
"Aku mendapat kabar jika Pangeran Yun akan tiba esok malam. Kita akan menunggunya dan melakukan perjalanan menuju Weida bersama-sama," ucap Pangeran Tua Rui.
Qin Guan mengangguk setuju, "Aku mengikuti rencana paman."
"Itu saja yang ingin aku sampaikan, istirahatlah." Selepas mengucapkan kalimat tersebut, Pangeran Tua Rui kembali mengenakan mantel bulunya dan keluar dari kamar Qin Guan.
Qin Guan memberi hormat hingga Pangeran Tua Rui tak terlihat lagi.
Bruk!
Qin Guan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan segera larut dalam mimpinya.
***
Salju di gunung Long Hong belum mencair, justru terlihat semakin tebal. Seorang pemuda yang menggunakan jubah putih dan mantel bulu berwarnaabu-abu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan menuju puncak gunung Long Hong.
Wajah pemuda itu merah, setiap kali dia mengembuskan napas, terlihat asap putih yang keluar karena udara sekitarnya yang benar-benar dingin. Langkahnya tergesa-gesa serta wajahnya menunjukan kecemasan. Saat sampai di puncak gunung Long Hong, pemuda itu bergegas menuju salah satu rumah yang pintunya terbuka.
"Tuan muda Wang, aku pulang!"
__ADS_1