Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Kenyataan Baru


__ADS_3

Setelah kepergian Di Min Jie meninggalkan gunung Long Hong, Wang Tian Sin kembali dengan langkah lunglai. Beberapa bulan ke depan, dirinya pasti akan merasa kesepian karena tinggal sendirian di tempat terpencil seperti ini. Saat baru saja meluruskan pinggangnya di atas ranjang, Wang Tian Sin teringat dengan kalimat yang tertulis di dalam surat Tabib Yan.


Ruang pribadi Long Tian merupakan tempat yang tidak boleh Wang Tian Sin masuki secara sembarangan meski gurunya telah meninggal sekalipun. Dengan ragu pemuda itu melangkah, mendekati sebuah lemari tua yang berada di pojok ruangan.


"Saat masih hidup, guru paling tidak suka jika aku masuk ke ruangan ini apalagi mendekat ke lemari. Sebenarnya apa yang guru simpan ya?" gumam Wang Tian Sin penasaran.


Gejolak penasaran yang memenuhi hati membuat Wang Tian Sin lupa dengan kemarahan gurunya saat dia masuk tanpa izin. Toh sekarang sang guru sudah mati, dia keluar masuk seenaknya juga tidak akan kena hukuman.


Setelah meyakinkan dirinya hal ini tidak membuat arwah sang guru tidak tenang, Wang Tian Sin membuka lemari tua itu dengan satu tangannya. Wang Tian Sin melihat sebuah kotak kayu di bagian bawah lemari lalu mengambilnya karena penasaran.


Berjalan menuju sudut lain dari ruangan tersebut, Wang Tian Sin duduk di meja belajar gurunya yang terlihat rapi. Dengan tangan bergetar Wang Tian Sin meletakan kotak itu perlahan, membukanya dan melihat setumpuk surat dengan bercak darah di amplopnya.


"Untuk putraku, Wang Tian Sin."


Wang Tian Sin mengambil satu amplop paling atas, melihatnya dengan saksama, mengamati setiap karakter dari tulisan di amplop tersebut. Wang Tian Sin tak dapat menahan air mata saat melihat tulisan tangan yang ia yakini milik orang tuanya. "Sepertinya ini tulisan ibu. Ah ... sepertinya ibu orang yang sangat lembut."


Karena surat tersebut ditujukan untuk dirinya, Wang Tian Sin tanpa ragu membukanya dan mulai membaca setiap karakter yang tertera. Wang Tian Sin seperti kembali ke masa lalu dan berada dalam dekapan ibunya.


Musim gugur baru saja berlalu, tetapi suasana di kekaisaran Yin begitu panas. Panji-panji pasukan Qi Lin berkibar memasuki ibukota, membawa kemenangan yang membanggakan. Kebanggaan itu tak berlangsung lama hingga sebuah kabar datang dari pembawa pesan. Jendral besar Wang Jiang membangkang dan membunuh utusan Song Agung.


Aku tidak percaya begitu saja, tetapi saat orang yang paling aku percayai bahkan diselimuti keraguan, maka kabar tersebut bisa jadi sebuah kebenaran.

__ADS_1


Bagai angin dingin dari utara, tajam dan menusuk tulang, begitulah saat ini badai yang kurasakan. Dengan beban dan kehormatannya sebagai jendral besar, dia pergi mempertanggung jawabkan kesalahannya.


Tiga jendral, tujuh letnan, ribuan pasukan. Darah-darah mereka ditumpahkan dengan alasan demi mempertahankan negara. Alasan yang tak masuk akal bukan? Ketika dia pergi dan memikul semua dosa, tak ada kepuasan sehingga keluarga ikut dikorbankan.


Dia adalah jendral, tetapi dia juga seorang kepala keluarga, dia ayah yang memiliki tiga putra. Pemberontakan baru terjadi setelah titah kaisar untuk menghabisi seluruh keluarga hingga akar.


Tujuh puluh ribu pasukan mengangkat pedang, pasukan-pasukan yang masih berada di ibukota melecut kuda mereka hingga ke perbatasan selatan, kota Wudong tepatnya untuk membantu ayahmu.


Walau tidak ada kemenangan, tetapi mereka sudah berjuang hingga titik darah penghabisan, mengorbankan semuanya demi keadilan yang tak pernah mereka lewatkan.


Wang Jiang, Ayahmu bukanlah seorang pengkhianat.


Dalam perjalanannya selama tiga tahun terakhir, Wang Tian Sin pernah membaca sebuah catatan perang mengenai seorang jendral perang yang mengalahkan tiga ratus ribu prajurit. Awalnya Wang Tian Sin tidak terlalu mempedulikan catatan tersebut, tetapi pemuda itu penasaran karena sang jendral memiliki marga yang sama dengannya yaitu marga Wang.


Serangan itu terjadi secara beruntun dari perbatasan utara, timur, dan selatan, seperti sebuah sabit yang ingin membabad habis kekaisaran Yin. Wang Jiang, seorang jendral yang baru dua tahun menjadi jendral besar, menggunakan dua ratus ribu prajurit terbaiknya untuk mematahkan serangan lawan melalui perbatasan utara.


Sabit musim dingin. Pertempuran itu dinamakan sabit musim dingin karena terjadi di musim dingin dan pola serangan melengkung seperti sebuah sabit.


"Jadi ... orang itu ayah," ucap Wang Tian Sin di sela tangisannya. Wang Tian Sin memeluk surat itu dengan erat, rasanya Wang Tian Sin bisa merasakan kepedihan yang dialami oleh ibunya saat itu.


Wang Tian Sin melihat masih banyak surat di dalam kotak itu dan ingin segera membacanya. Surat kedua bertuliskan "Pelarian dari Ibukota."

__ADS_1


Ketika Wang Tian Di dan Wang Tian Lin sudah aman, dengan bantuan beberapa kawan dari dunia persilatan membantu dalam pelarian, gunung Long Hong menjadi tempat tujuan. Darah dan air mata sebagai tinta untuk menuliskan ini semua.


Sin'er, ibu membawamu ke gunung Long Hong memiliki tujuan tersendiri. Bakat beladiri yang mengalir dalam darahmu lebih besar dari kedua kakakmu. Ketika Tian Di menguasai seni perang sedari kecil dan Tian Lin dengan seni sastranya, ibu harap saat dewasa nanti kalian bisa bersatu memulihkan keluarga Wang.


Ibu yakin ketika kalian sudah dewasa, takdir akan mempertemukan kalian. Berhati-hatilah dengan orang yang memiliki kekuasaan, mereka terlihat baik tetapi pada kenyataannya, ada kebusukan yang mereka sembunyikan.


Tombak langit akan mempertemukan kalian, tetapi pusaka tersebut bisa menjadi malapetaka saat musuh dari ayah kalian tahu.


***


"Ibu memberikan tombak langit padaku karena kedua kakakku sudah tahu bentuk dari tombak tersebut. Lain halnya jika kakak pertama atau kedua yang menyimpannya," gumam Wang Tian Sin. Dirinya berniat membuka surat ketiga, tetapi batinnya terlalu lelah u tuk menghadapi kenyataan yang akan ia ketahui.


Wang Tian Sin kembali merapikan surat-surat itu dan memasukannya ke dalam kotak. Saat hendak mengembalikannya ke lemari, tanpa sengaja tangan Wang Tian Sin menyentuh dinding lemari hingga terbuka.


Terlihat sebuah gulangan kecil yang terbuat dari kulit di dalam kotak rahasia tersebut, Wang Tian Sin penasaran dengan gulungan tersebut dan mengambilnya.


Jika dilihat dari luar, tidak ada yang istimewa dari gulungan tersebut. Namum, jika dilihat dari tempat Long Tian memyimpan gukungan tersebut, sepertinya benda ini begitu berharga hingga disimpan dalam lemari rahasia.


Gulungan tersebut sudah tua dan cukup lapuk, membuat Wang Tian Sin sangat berhati-hati ketika membukanya. Saat gulungan tersebut dibuka, mata Wang Tian Sin melebar, terkejut dengan apa yang dibacanya.


"I-ini ... kitab naga bumi?"

__ADS_1


__ADS_2