Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Melewati Tahap Satu


__ADS_3

Berhari-hari sudah Wang Tian Sin menenangkan dirinya di ruang meditasi. Ia hanya sesekali keluar ruangan untuk makan dan minum. Udara dingin di puncak gunung Long Hong mampu menenangkan hati dan pikiran Wang Tian Sin yang mulanya panas.


Di hari ke tujuh setelah Wang Tian Sin melakukan meditasi, pemuda itu telah yakin dengan dirinya jika syarat utama untuk mempelajari Kitab Naga Bumi sudah ia penuhi.


Wang Tian Sin duduk bersila di atas batu besar yang berbentuk seperti sebuah ranjang. Di beberapa sisi batu tersebut terdapat ukiran dua ekor naga yang sedang bertarung. Jika keluarga Long melihat batu tersebut, mereka akan mengenalinya sebagai batu naga.


Wang Tian Sin menggelar gulungan kitab Naga Bumi di depannya dan membaca setiap petunjuk yang tertulis. Walau kitab Naga Bumi merupakan kitab tingkat tinggi, tetapi tidak seperti kitab-kitab lainnya yang menggunakan kata-kata rumit, penjelasan dalam kitab ini begitu mudah dipahami. Hanya saja, perlu waktu lama untuk mempelajarinya.


Tahap pertama, Penempaan tulang. Wang Tian Sin menarik napas dalam-dalam dan menyimpannya, matanya terpejam, dan pemuda itu mengosongkan pikiran dari hal-hal yang tidak diperlukan.


Ketenangan mulai merambat ke dalam jiwa, Wang Tian Sin mengumpulkan tenaga dalam dan menyalurkannya ke setiap bagian tulang di tubuhnya. Keringat mulai menetes di wajah Wang Tian Sin, keningnya berkerut saat merasakan tulangnya seperti sedang dipatahkan menjadi kepingan-kepingan kecil.


Ingin rasanya Wang Tian Sin berteriak atau lari dari rasa sakit ini, tetapi semuanya tidak bisa ia lakukan. Pikirannya harus fokus dan saat penempaan tulang sudah mulai dijalankan, maka tidak ada kesempatan untuk berhenti kecuali kematian yang dia pilih.


Panas mulai Wang Tian Sin rasakan padahal salju sedang turun dan udara di ruangan itu cukup dingin. Dari sudut bibir pemuda itu mulai terlihat darah yang menetes, wajahnya juga memucat tak secerah saat pertama kali melakukan meditasi.


Saat matahari sudah tenggelam dan malam mulai larut, dari tubuh Wang Tian Sin terdengar bunyi keras seperti tulang yang dipatahkan secara serentak. Wang Tian Sin kali ini tak dapat menahan teriakannya, rasa sakit yang ia rasakan kali ini benar-benar tak dapat ia toleransi.


Pada akhirnya Wang Tian Sin roboh karena tak dapat menahan penderitaannya.


Entah berapa lama Wang Tian Sin pingsan, tetapi saat ini dia merasakan angin dingin yang menerpa wajahnya. Perlahan Wang Tian Sin membuka matanya dan mendapati jika dia sudah berpindah ruangan ke kamar tidurnya.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" Terdengar suara yang cukup familiar di telianga Wang Tian Sin, suara orang tua yang cukup ia takuti.


Wang Tian Sin menoleh dan mendapati seorang pria yang menggunakan jubah berwarna cokelat tua sedang berdiri di sampingnya dengan wajah dingin. "Tabib Yan ...."


"Anda ada di sini?" tanya Wang Tian Sin.


"Hmph ... aku sampai di sini tiga hari lalu, saat itu aku memperkirakan jika kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari. Darah di pipimu bahkan sudah mengering," jelas Tabib Yan.


Wang Tian Sin teringat kembali saat hari itu dirinya mempelajari Kitab Naga Bumi tahap satu, Wang Tian Sin menatap kepalan tangan kanannya dengan saksama, tidak ada perubahan yang ia rasakan selain cengkeramannya yang terasa lebih kokoh.


"Apa aku telah gagal?" tanya Wang Tian Sin pada dirinya sendiri.


Tabib Yan mendengus, "Tidak hanya berhasil, kau salah satu pemuda tercepat yang bisa melalui tahap satu ini."


Jika Wang Tian Sin tahu bahwa banyak orang perlu waktu berbulan-bulan untuk melampaui tahap satu kitab naga Bumi, maka Wang Tian Sin pasti akan merasa bangga saat menyadari jika dirinya berhasil lolos dalam satu hari.


Tabib Yan memberikan sebuah cawan berisi ramuan yang masih mengepul kepada Wang Tian Sin. Wang Tian Sin mengambil posisi duduk lalu menerima cawan tersebut dengan kedua tangannya. Satu tarikan napas berikutnya, secawan tonik penguat tulang sudah mengalir ke perut Wang Tian Sin.


Wang Tian SIn merasa tubuhnya lebih segar setelah meminum ramuan tersebut. Tabib Yan meraih cawan di tangan Wang Tian Sin dan meletakannya di meja kecil yang berada di samping tempat tidur Wang Tian Sin.


Biasanya Tabib Yan akan langsung pergi begitu dia sudah mengobati pasiennya, tetapi kali ini pria itu memilih duduk di samping Wang Tian Sin.

__ADS_1


Entah apa yang mnenyebabkan setiap kali Tabib Yan duduk di dekatnya dan tubuhnya ada dalam jangkauan si jari petir, Wang Tian Sin selalu reflek menutup dada kirinya karena takut Tabib tua itu kembali usil seperti beberapa waktu lalu.


"Kau takut?" tanya Tabib Yan dengan senyum mengejek. Wang Tian Sin mengangguk tipis.


Wang Tian Sin teringat jika dulunya Tabib Yan adalah tabin dalam pasukan Qi Lin, pasukan yang dipimpin oleh Ayahnya-jendral besar Wang.


"Tabib Yan, apa Anda mengenal orang tuaku?" tanya Wang Tian Sin tiba-tiba.


Tabib Yan terkejut hingga melebarkan matanya. Terjadi keheningan sesaat sebelum Tabib Yan mengangguk pelan.


Tabib Yan mengalihkan pandangannya, menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Aku mengenal Ayahmu dengan cukup baik. Sebelum Ayahmu pergi ke medan perang terakhir yang membuatnya difitnah, dia bahkan memintaku untuk membuat banyak obat luka untuk para pasukannya. Dia orang yang baik, tapi juga sangat tegas. Tak heran, saat usianya baru tiga puluh tahun, dia sudah mendapat gelar Jendral Besar."


Wang Tian Sin menatap Tabib Yan saksama, tak ada tanda-tanda kebohongan dari pria tersebut, sehingga Wang Tian Sin yakin jika Tabib Yan benar-benar mengenal ayahnya.


"Lalu ... apa Tabib Yan tahu saat ayah masih muda? Apa dia nakal sepertiku?" tanya Wang Tian Sin lagi. Setidaknya dia ingin mendengar cerita baik tentang ayahnya daripada mendengar tentang pengkhianatan yang dilakukannya.


Tabib Yan mengangguk, "Tentu saja, dia sangat nakal. Tetapi dia juga sangat pintar dalam sastra, dia merupakan ahli strategi yang jenius. Jika dia nakal saat masih muda, maka itu hanyalah sifat alami dari seorang remaja."


Dalam hatinya Wang Tian Sin bersorak bahagia, setidaknya sifat nakalnya saat ini bukan karena dia jauh dari orang tuanya atau karena kurang kasih sayang, tetapi murni karena dia masih muda dan suka berbuat seenaknya, sama seperti ayahnya dahulu.


"Kau memiliki dua orang kakak, aku pernah bertemu dengan mereka beberapa kali saat kau belum lahir. Tian Lin sangat pandai, jika dia masih hidup dia pasti akan menjadi seorang cendekiawan terkenal atau menjadi seorang guru besar. Kau tau, saat dia berusia empat tahun, dia sudah lancar membaca dan menulis, mengalahkan para pangeran di kerajaan dan membuat permaisuri begitu iri. Sedangkan kakak pertamamu, dia adalah jenius di medan perang. Walau bakat beladirinya buruk, tetapi dengan otak dan kemampuannya dalam memimpin pasti bisa menyelamatkannya dalam peperangan." Tabib Yan terdengar bersemangat saat menceritakan tentang keluarga Wang.

__ADS_1


Wang Tian Sin juga bahagia mendengarnya, tetapi tiba-tiba rasa penasaran datang dan membuat sebuah pertanyaan dalam pikirannya. "Tabib Yan, kenapa Anda tidak banyak berbicara saat kita di kota Qian?"


Tabib Yan terkekeh, "Kita tidak bisa menceritakan kebaikan keluarga Wang dengan gamblang di hadapan banyak orang. Jangan sampai musuh ayahmu tahu kalau masih ada bibit keluarga Wang yang hidup."


__ADS_2