Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Rencana Pembunuhan


__ADS_3

Wang Tian Sin mengangguk setuju dengan pernyataan Tabib Yan. Bagaimana pun, benar tidaknya pengkhianatan yang dilakukan Wang Jiang belum dapat dipastikan. Dua jendral besar lain yang mengetahui tentang kejadian ini juga tak selamat, sehingga tidak ada sumber yang benar-benar bisa dipercaya.


Melihat Wang Tian Sin melamun, Tabib Yan mengeluarkan sebuah giok berwarna kuning yang berbentuk seperti jangkrik. Tabib Yan mengulurkan tangannya dan menyerahkan giok tersebut pada Wang Tian Sin, tetapi pemuda itu tak langsung menerimanya.


"Benda apa ini, Tabib Yan?" tanya Wang Tian Sin penasaran.


Tabib Yan menarik tangan kanan Wang Tian Sin, meletakan giok itu di telapak tangan pemuda tersebut dan menghela napas pelan. "Ini barang peninggalan ibundamu. Tian Di dan Tian Lin juga memegangnya. Suatu saat, jika kau menemukan seseorang yang memegang benda seperti ini, kemungkinan besar dia adalah saudaramu."


Wang Tian Sin menatap giok itu saksama sebelum mengepalkan tangannya, menggenggam giok tersebut erat-erat. Tabib Yan menggenggam Tangan Wang Tian Sin dan tersenyum lembut padanya, hal yang sangat jarang Tabib Yan lakukan.


"Kau anak yang baik, nasib buruk di masa lalu tidak akan menyertaimu di masa depan," ucap Tabib Yan. Wang Tian Sin tersenyum haru karena perlakuan Tabib Yan. Di balik sifat dinginnya selama ini, ternyata dia adalah sosok yang hangat. Angin dingin yang berembus masuk sepertinya tak mengganggu dua orang yang sedang hangat hatinya.


"Setelah masa berkabung selesai, ke mana kau akan pergi?" tanya Tabib Yan penasaran.


"Rencananya aku ingin pergi ke gunung Hui karena pertemuan dunia persilatan, tapi sepertinya aku harus membatalkannya," ucap Wang Tian Sin.


Tabib Yan mengerutkan kening, tak paham dengan maksud Wang Tian Sin. "Kenapa batal? Bukankah itu akan menambah wawasanmu tentang dunia persilatan?"


Wang Tian Sin menganggu sekali, menghirup napas dalam kemudian berkata, "Memang benar, hanya saja aku ingin menyelesaikan kitab Naga Bumi sebelum pergi meninggalkan tempat ini."


"Kau sudah menguasai tahap satu, untuk tahap dua dan tiga kau tidak bisa mempelajarinya, tetapi menerimanya," ucap Tabib Yan.

__ADS_1


Wang Tian Sin menatap Tabib Yan penasaran, "Menerimanya? Maksud Tabib Yan?"


"Kitab Naga Bumi adalah kitab tingkat tinggi tetapi ajarannya begitu mudah. Kau tahu mengapa?" Mendengar pertanyaan Tabib Yan, Wang Tian Sin menggelengkan kepalanya. "Ajaran yang mudah, tetapi butuh perjuangan untuk menguasainya. Tidak semua orang dapat menguasainya, karena penempaan otot dan kulit hanya bisa dilakukan dengan pertempuran asli dan melukai dirimu, saat itulah tenaga dalammu akan berubah menjadi perisai yang menyebabkan kulitmu sekeras sisik naga. Dan ... masalah tahap tiga lambat laun kau akan memahaminya."


"Kalau begitu, maka rencana yang sudah aku susun sebelumnya tidak perlu dirubah. Aku akan pergi ke gunung Hui dan melihat situasi dunia persilatan, setelah itu aku akan mengungkap kenapa Pangeran Tua Yin Long ingin membunuhku," ucap Wang Tian Sin.


"Pangeran Tua Yin Long ingin membunuhmu? Bagaimana bisa?" tanya Tabib Yan seperti tidak percaya.


"Satu bulan lalu organisasi tangan setan mengejarku hingga ke desa Jiang. Mereka berhasil meracuniku, untung saja guru datang tepat waktu dan mengalahkan mereka. Sebelum hal itu terjadi aku mendengar percakapan antara Pangeran Tuan Long dan bangsawan dari Song Selatan. Song selatan berniat melakukan kudeta dan membunuh putra mahkota mereka saat ini, tetapi hal itu akan mereka lakukan di Kekaisaran Yin dan menjadikan kita kambing hitam," Nada bicara Wang Tian Sin berubah dingin saat mengatakannya karena teringat janjinya kepada Long Tian jika dirinya akan mengatakan semuanya saat di gunung Long Hong. Mengambil jeda sejenak, Wang Tian Sin kembali melanjutkan kalimatnya. "Sepertinya mereka tidak ingin rahasia ini bocor."


"Gawat!" ucap Tabib Yan panik.


"Pangeran Yun (Putra Mahkota Song Selatan) sedang dalam perjalanan menuju Weida (Ibukota kekaisaran Yin) mungkin mereka akan tiba dalam waktu satu minggu," ucap Tabib Yan panik.


"Satu minggu? Jika kita mengirim surat kepada Guan Gege dan memintanya meneruskan ke Ibukota pasti belum terlambat. Aku akan melakukannya." Wang Tian Sin menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan menapakan kaki di lantai yang dingin. Tabib Yan mencengkeram tangan Wang Tian Sin dan menggeleng pelan.


"Tidak sesederhana itu. Kita tidak memiliki bukti nyata, jika Pangeran Tua Long tidak bertindak, maka seseorang akan dihukum berat karena memfitnah anggota kerajaan," jelas Tabib Yan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Wang Tian Sin sudah kehabisan akal dan tak bisa memikirkan hal lain.


Terdengar helaan napas panjang dari mulut Tabib Yan, tak lama berselang pria tua itu seperti mendapat sebuah jawaban. "Pangeran tua Rui sedang berada di Qin, kita bisa memintanya untuk kembali ke ibukota dan melihat situasi. Jika diperlukan, kita bisa meminta Pangeran Tua Rui untuk mengamankan rute Pangeran Yun menuju ibukota."

__ADS_1


Wang Tian Sin mengangguk setuju dan mengambil sebuah kuas, tinta dan kertas kecil yang cukup panjang, kemudian menuliskan beberapa karakter sebelum meniup kertas tersebut agar tinta yang menempel cepat kering.


Setelah menggulung kertas tersebut dan memasukannya ke dalam pipa kecil, Wang Tian Sin menuju kanda elang di belakang rumah dan mengeluarkan seekor elang putih. Pipa kecil yang berisi surat kemudian dililitkan ke kaki elang tersebut, "Temui Qin Guan di Qinzhou."


Seperti mengerti dengan ucapan Wang Tian Sin, elang putih itu mengepakkan sayap dan terbang memutari tubuh Wang Tian Sin sebelum melesat ke arah tenggara. Jika Qin Guan memiliki banyak merpati post yang digunakan sebagai pengantar surat, maka Wang Tian Sin memiliki dua elang putih yang bisa di andalkan bahkan keluar dari kekaisaran Yin.


Tabib Yan terpana saat melihat seekor elang begitu patuh dan pintar.


"Tabib Yan?" ucap Wang Tian Sin saat melihat Tabib Yan terpana di belakangnya.


"Ah ... iya?" jawab Tabib Yan tergagap.


"Di luar cukup dingin. Bagaimana jika kita minum arak? Ada arak bagus peninggalan guru, sepertinya guru tidak keberatan jika aku mengajak Anda minum," ucap Wang Tian Sin sopan.


"Aku tidak terlalu suka minum arak," tukas Tabib Yan.


Wang Tian Sin merengek dan merangkul tubuh Tabib Yan. Bujukan-bujukan manis mulai ia keluarkan untuk mengajak Tabib Yan minum. "Ayolah, Tabib Yan, suasana dingin seperti ini sangat cocok untuk minum arak. Jika Anda tidak mau minum satu guci tidak masalah, satu mangkuk juga cukup asal Anda mau menemaniku minum."


"Baik. Tapi jika aku lepas kendali jangan salahkan aku kalau jari petir mendarat di titik akupunturmu. Mengerti?"


"Sebelum itu terjadi, aku akan kabur terlebih dahulu."

__ADS_1


__ADS_2