Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Kenangan


__ADS_3

Wang Tian Sin berkuda meninggalkan kota Lusai dengan kecepatan penuh. Kudanya yang gagah membelah jalanan bagai petir membelah awan. Dalam waktu dua hari, dia sudah dapat memastikan akan bertemu dengan rombongan Di Min Jie di kawasan gunung Long Hong.


Prediksi Wang Tian Sin tepat, karena di hari kedua pada saat matahari sudah di atas kepala dia melihat rombongan Di Min Jie bergerak dari selatan sementara dirinya memotong dari arah timur.


Di Min Jie yang melihat Wang Tian Sin sudah berada di depannya hanya menggeleng pasrah. Sepertinya jalur yang diambil oleh Wang Tian Sin bukan jalur yang bisa dirinya lewati.


Di Min Jie melambatkan laju kudanya saat sudah dekat dengan Wang Tian Sin. "Tuan Muda,"


Wang Tian Sin tersenyum dan mengangguk, pemuda itu mengalihkan pandangan ke peti mati gurunya yang terlihat baik-baik saja. "Terima kasih, Perwira Di. Sepertinya Anda melakukan tugas dengan baik. Aku sudah menepati ucapanku dan mengirim surat kepada kakakku."


"Terima kasih, Tuan Muda," ucap Di Min Jie dengan menakupkan kedua tangannya. Wang Tian Sin mengangguk pelan.


Wang Tian Sin mengedarkan pandangannya, melihat padang rumput di hadapannya. Jauh di depan sana, sebuah gunung yang puncaknya tertutup salju mulai terlihat dan Wang Tian Sin tersenyum tipis saat menatap puncak gunung tersebut. "Guru, kita akan segera sampai,"


Di Min Jie menatap Wang Tian Sin lekat, sepertinya pemuda di hadapannya itu sudah berhasil memenangkan pertempuran batin dalam dirinya. "Tuan Muda, sepertinya Anda sudah berlapang dada,"


Wang Tian Sin tertawa kecil dan mengangguk. Kesedihan memang masih ada, tetapi Wang Tian Sin juga sadar jika tak ada gunanya terus menampakan kesedihan dan kemuraman, dalam pikirannya, jika dia melakukan hal itu maka akan memperlihatkan sisi lemahnya.


"Hari sudah semakin siang. Nanti malam kita akan sampai di kaki gunung, setelah istirahat semalaman, kita akan naik besok pagi dan sampai di puncak pada sore hari, " jelas Wang Tian Sin.


Di Min Jie mengangguk paham dan memberi kode agar melanjutkan perjalanan kepada para prajuritnya. Sepenjang perjalanan, Wang Tian Sin hanya mengamati pemandangan yang sangat dirindukan. Tiga tahun yang lalu dia meninggalkan tempat ink untuk berkelana dalam waktu yang lama. Pada saat itu, Wang Tian Sin berjanji kepada Long Tian di tahun ketiga dia akan pulang dengan selamat. Tetapi, jika kejadian beberapa minggu lalu gurunya tidak datang untuk menolong, sudah pasti janji itu tidak dapat ia tepati.


Wang Tian Sin mengingat kenangan-kenanagan saat dia di sekitar tempat ini bersama Xiao Lang dan gurunya. Teringat Xiao Lang, Wang Tian Sin kembali berpikir bagaimana nasib pemuda yang tumbuh besar bersamanya itu. Apakah dia selamat? Atau dia sedang terluka di suatu tempat. Kabar kematian Long Tian dan Qin Huang seharusnya sudah menyebar ke seluruh kekaisaran Yin dan juga dunia persilatan karena keduanya bukan orang biasa. Tetapi, sampai detik ini Wang Tian Sin belum mendapat kabar tentang Xiao Lang.

__ADS_1


Di Min Jie mengamati perubahan ekspresi di wajah Wang Tian Sin. Dari tersenyum, sedih, kecewa, hingga raut yang tak bisa ia gambarkan, sama seperti wajah Qin Guan ketika di medan perang. Terlihat berpikir sangat keras dan alam pikirannya tak dapat ia tembus.


"Tuan Muda, apa ada sesuatu yang mengganjal?" tanya Di Min Jie.


Wang Tian Sin menggeleng, "Aku hanya berpikir tentang Lang Gege. Sampai detik ini dia belum memberikan kabar, aku sangat khawatir."


"Tuan Xiao Lang yang pergi bersama Tuan Muda Qin?" tanya Di Min Jie memastikan. Wang Tian Sin mengangguk.


"Jika dilihat dari ilmu meringankan tubuhnya yang sangat mengesankan, seharusnya dia baik-baik saja, Tuan Muda. Anda tidak perlu cemas." Wang Tian Sin paham jika Di Min Jie hendak menghiburnya, tapi itu sama sekali tidak menghilangkan kekhawatirannya bahkan setitik pun.


"Aku tahu dia baik-baik saja, walau aku tidak yakin. Seharusnya dia segera pulang setelah mendapat kabar kematian guru," berhenti sejenak, Wang Tian Sin menarik napas pelan dan mengembuskannya, "Mungkin dia ingin pergi dan merasakan kebebasan. Seumur hidup dia sudah melayani guru, sudah sepantasnya dia merasakan kebebasan saat guru telah tiada,"


"Tuan Muda jangan terlalu cemas. Saya yakin, sebelum masa berkabung Anda selesai, Tuan Xiao pasti pulang," ucap Di Min Jie penuh keyakinan.


***


Penduduk kota Qin mulai melakukan aktivitas seperti biasa walaupun tempat-tempat yang mengundang keramaian seperti rumah hiburan masih tutup. Umbul-umbul kematian masih terpasang, sepertinya dalam beberapa hari para warga akan melepas perkabungan dan akan benar-benar hidup seperti biasanya.


Dua ekor kuda berwarna cokelat yang terlihat gagah memasuki kota Qin dari gerbang utama. Kedua kuda itu dipacu dengan cepat menuju kediaman utama Qin untuk menemui Qin Guan. Mereka adalah Xuanyuan Wentian dan Xuanyuan Qixuan.


Saat mereka sampai di kediaman Qin, mereka tidak langsung menemui Qin Guan melainkan menunggunya di griya luar karena Qin Guan sedang rapat dengan Jendral Zhao.


"Apa pertemuan Saudara Qin sudah berlangsung lama?" tanya Xuanyuan Wentian pada seorang penjaga.

__ADS_1


Penjaga tersebut membungkuk kemudian menjawab pertanyaan Xuanyuan Wentian, "Tuan Muda Qin sudah melakukan rapat dari pagi hari. Sepertinya sebentar lagi akan selesai,"


Xuanyuan Wentian mengangguk paham, kembali duduk dan mengibaskan kipasnya dengan elegan. Xuanyuan Qixuan tahu jika kakaknya sedang merasa gelisah, berusaha menenangkan. "Kakak, Guan Gege orang yang kuat, tidak akan terjadi hal buruk kepadanya,"


"Adik, mungkin kamu belum paham, tetapi di dunia ini ada orang jahat yang disebabkan oleh sakit hati yang mendalam," ucap Xuanyuan Wentian menatap Xuanyuan Qixuan.


"Da ge ... maksudnya adalah orang baik yang tersakiti bisa menjadi jahat?" tanya Xuanyuan Qixuan polos. "Apa Da Ge menganggap Guan Gege akan seperti itu?"


Xuanyuan Wentian tidak menjawab, pemuda itu hanya mengembuskan napas dan meneguk arak dari cangkirnya. Xuanyuan Qixuan biasanya akan merajuk saat Xuanyuan Wentian mengabaikannya, tetapi kali ini dia sedang meresapi kalimat-kalimat yang baru saja dilontarkan kakaknya dan mencari solusi terbaik.


Saat Xuanyuan bersaudara sedang dilahap keheningan, seorang penjaga menghampiri mereka berdua dan mengatakan jika Qin Guan sudah selesai rapat dan ingin bertemu di halaman belakang.


Setelah menyampaikan hal tersebut, penjaga tersebut mengantar kaka beradik itu ke halaman belakang sesuai perintah dari Qin Guan.


Seorang pemuda berjubah putih duduk termenung menatap awan, menikmati harinya yang suram dan kesepian. Saat mendengar langkah kaki beberapa orang, pemuda itu menoleh dan mengulas senyum tipis di bibirnya. Qin Guan bangkit dan berjalan mendekati tamu-tamunya.


"Wentian, lama tidak berjumpa," sapa Qin Guan pada Xuanyuan Wentian. Pandangannya teralih pada gadis manis yang menggunakan jubah sutra berwarna ungus sedang tersenyum manis kepadanya. Di dalam senyumnya itu, Qin Guan dapat melihat kekhawatiran yang besar untuk dirinya. "Xuanxuan, bagaimana kabarmu?"


Senyum tipis yang terukir dibibir Xuanyuan Qixuan lenyap, digantikan ekspresi cemberut yang menggemaskan. "Aku jauh-jauh dari gunung Hui ke tempat ini, Guan Gege tidak langsung memelukku?"


Author Note


Sepertinya bakal telat up. Maaf ya,

__ADS_1


__ADS_2