Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Rapuh


__ADS_3

Angin berembus membawa duka


Lilin menyala memperjelas luka


Ketika kegelapan menggurita


Api dendam kian membara


Dua jalan meredam lara


Melepas dengan iklas


Mengupas hingga tuntas


Manusia bijak melihat batas


Hanya sang arogan merasa was-was


Udara dingin kota Qin membekukan setiap jiwa-jiwa setia yang dilanda duka, menembus hangat kasih sayang dan kemurnian akal. Satu kata yang ada dalam benak setiap insan adalah, Dendam.


Qin Guan merengkuh tubuh ayahnya, menggendongnya dan membawanya dengan tandu bersama Wang Tian Sin. Air mata telah mengering, membuka sebuah luka lama yang sudah ia lupakan, tak lagi ia rasakan dan kesembuhan adalah hal yang ia dambakan.


Dua puluh lima tahun lalu, usianya memang baru menginjak tujuh tahun, tetapi ia ingat betul rasa yang sama persis dengan yang ia rasakan hari ini. Ketika dirinya harus kehilangan orang yang terkasih dan ayah terhebat yang ia miliki. Peperangam dua puluh lima tahun lalu benar-benar menghancurkan keluarganya.


Qin Guan kembali mengingat saat Qin Huang menyelinap ke rumahnya ketika prajurit menangkap seluruh keluarganya untuk di eksekusi demi menenangkan kekaisaran Song. Demi menjalankan janjinya, Qin Huang menukar putra kandungnya dengan Qin Guan, membuat putra yang selalu ia kasihi mati menggantikan Qin Guan saat ini.


Dengan penuh kasih dan kedisiplinan, Qin Huang merawat Qin Guan hingga menjadi sosok seperti sekarang yang didambakan banyak orang. Layaknya seorang ayah, Qin Huang selalu membantu Qin Guan ketika dalam kesulitan.

__ADS_1


Qin Guan benar-benar hancur malam itu karena kehilangan keluarga untuk kedua kalinya. Wang Tian Sin melihat Qin Guan menyimpan api dendam hanya bisa diam.


Dendam bagaikan setitik arang dalam tumpukan skam, bisa membakar skam itu perlahan hingga tersisa seonggok abu, atau membuatnya menyala dan membara membuat semuanya hancur sia-sia. Yang jelas, memelihara dendam hanya sebuah jalan menuju kehancuran yang nyata.


Dendam memang membangkitkan motivasi alami dalam hidup inangnya, tetapi ketika dendam itu dibalas juga dengan darah, apa bisa membangkitan raga orang yang mati? Tidak! Itu hanya sebuah cara untuk memperpanjang rantai dendam dan memperluas lingkaran setan.


Wang Tian Sin tak tahan dengan Qin Guan yang terus berjalan dalam diam tanpa sepatah kata. "Gege ...."


"Aku sedang tidak ingin mendengar apa-apa." Qin Guan tahu jika Wang Tian Sin ingin menghiburnya, tetapi saat ini ketika luka masih menganga, sebuah hiburan tak ada artinya.


Maka dari itu, Wang Tian Sin hanya mengangguk dan terus berjalan di belakang Qin Guan, mengangkat tandu yang membawa tubuh Qin Huang.


Beberapa prajurit memohon agar bisa membawa tandu tersebut, tetapi tak ada jawaban yang keluar, hanya sebuah gelengan pelan yang membuat hati para prajurit seperti mendapat tamparan.


Qin Guan, panglima berjubah putih kota Qin, pemimpin 300.000 pasukan bertombak provinsi Qin, saat ini hancur hatinya dan menjadi sosok yang benar-benar lain. Kekaisaran pasti akan menyelidiki dalang dari pembunuhan ini, tetapi mereka yakin, pembunuh itu mati di tangan Qin Guan dalam waktu dekat.


"Guru ...."


Wang Tian Sin yang mengkhawatirkan Long Tian meminta Ning Lei menggantikan dirinya mengangkat tandu. Dengan penuh hormat Ning Lei menerimanya, sementara Wang Tian Sin melesat ke kediaman Qin Guan yang tak berpenjaga.


Begitu Wang Tian Sin melangkahkan kaki memasuki kediaman, pemuda itu disuguhi dengan mayat yang berserakan serta sebuah pertempuran dahsyat antara Long Tian dan beberapa orang lainnya.


"Guru!" teriak Wang Tian Sin.


Long Tian menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan pada Wang Tian Sin. "Pergi!"


Wang Tian Sin menggeleng dan merapat pada Long Tian. "Tidak mau."

__ADS_1


Seorang pria tua berambut putih tertawa lantang melihat kedatangan Wang Tian Sin. Wang Tian Sin memperkirakan jika pria tersebut satu generasi dengan Long Tian dan kepandaiannya tak akan jauh dari gurunya.


Wang Tian Sin segera memasang kuda-kuda, mengalirkan tenaga dalam ke tangan dan mengibas lengan jubahnya ke arah pintu gerbang membuatnya tertutup seketika.


"Hahaha ilmu yang bagus!" ucap Pria tua lawan Long Tian.


"Ambil tombak di ruanganku ...." bisik Long Tian. Pria itu mengetahui kemampuan bertarung Wang Tian Sin ketika menggunakan tombak atau tangan kosong akan sangat jauh berbeda. Wang Tian Sin mengangguk dan berlari.


Di luar gerbang, Qin Guan merasa aneh karena tiba-tiba gerbang ditutup dari dalam. Qin Guan berniat masuk untuk memeriksa, tetapi Ning Lei segera mencegahnya. "Tuan Muda, sepertinya terjadi pertempuran di sana. Tuan Muda Wang menutup pintu dengan paksa, kemungkinan besar dia tidak ingin melibatkan kita."


Qin Guan melirik Ning Lei tajam. Dia baru saja kehilangan sang ayah, ia tak mau jika harus kehilangan Wang Tian Sin saat itu juga.


"Ayah memintaku menjaga Xiao Tian. Jika dia mati sekarang bukankah aku kakak yang tidak berguna?" bantah Qin Guan.


Qin Guan meminta dua orang prajurit untuk menggantikannya dan Ning Lei mengangkat tandu, sementara Qin Guan melompat ke tembok kediaman.


Ning Lei langsung menarik Qin Guan, "Tuan Muda, jangan melakukan hal bodoh. Tuan Long ada di dalam, jika kita mendekat kemungkinan besar kita hanya akan menjadi beban."


Qin Guan menyadari kebodohannya. Jika dia memaksa masuk dan merepotkan Long Tian maka dirinya akan merasa tidak enak. "Kau benar. Siapkan tim pemanah. Jika ada yang kabur habisi di tempat."


Ning Lei mengangguk lalu memerintahkan selusin pemanahnya untuk bersiap di atas tembok kediaman Qin Guan. Sepertinya pertumpahan darah malam ini belum selesai dan terus berlanjut hingga tersisa pemenang terakhir.


Beberapa hari ini saya mengalami gangguan tidur, dalam sehari mungkin tidur 2-3 jam, susah sekali rasanya untuk menulis apalagi saat sakit gigi menyerang.


Saya minta maaf jika mengecewakan semuanya, setelah gigi saya membaik dan tuhan memberi saya kemudahan untuk menulis, saya akan coba up lebih.


Sekali lagi saya minta maaf,

__ADS_1


RANA SEMITHA


__ADS_2