Tombak Langit Dan Naga Bumi

Tombak Langit Dan Naga Bumi
Latihan dimulai


__ADS_3

Sepasang ayah dan anak itu masuk dan duduk di bersebelahan. Wanita tersbeut menatap arah pintu seperti sedang menunggu seseorang dengan wajah gelisah. Zhen Dong menyadari kegelisahan yang sesnag ibunya rasakan, tak tahan untuk tidak bertanya.


"Ibu ... ibu sedang menunggu siapa?" Zhen Dong mendekati ibunya, memegang kedua tangannya dengan lembut.


"Di mana pemuda itu?" tanya Wu Xia.


Zhen Ping menghela napas panjang ketika Zhen Dong dan Wu Xia menatapnya penuh tanda tanya. "Tian Sin sudah pergi meninggalkan kota Xiang."


Rona kebahagiaan di wajah Zhen Dong hilang seketika, senyumnya memudar dan wajahnya menunjukkan ekspresi dingin. "Tian Sin pergi? Bahkan dia tidak mengatakan apa pun padaku?"


Zhen Dong berdiri dan meraih tangan putrinya. "Dongdong ... tenanglah. Saat pertemuan musim gugur nanti Tian Sin pasti akan datang ke Gunung Hui, jika kau ingin bertemu dengannya, kau bisa ikut ayah."


"Ayah berjanji?" tanya Zhen Dong.


"Tentu saja. Kau bisa menemuinya, tetapi ayah tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu." Zhen Ping kemudian meminta istri dan anaknya untuk duduk dan mulai makan.


***


Pada saat musim semi berlangsung, bukan rahasia lagi jika siang terasa lebih panjang. Saat ini Wang Tian Sin kembali menemui Xin Dong di pondok kediamannya seperti yang diperintahkan gurunya pagi ini.

__ADS_1


Xin Dong telah menunggu kedatangan Wang Tian Sin di halaman belakang pondoknya dengan perasaan senang karena akan mewariskan salah satu ilmu yang dimilikinya pada Wang Tian Sin.


Saat Xin Dong mendengar langkah yang berjalan mendekati pondok, senyum hangat yang semula terulas kini sirna digantikan wajah dingin, paling dingin yang pernah Xin Dong tunjukkan.


Wang Tian Sin memberi salam pada gurunya saat tiba sebelum menyadari tatapan dingin dari gurunya. Entah mengapa Wang Tian Sin kini merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya.


"Guru .... Tian Sin memberi salam."


Xin Dong mengangguk sebelum berbalik ke pohon besar yang tumbuh di pondok belakang rumahnya. Di bawah pohon tersebut terdapat beberapa batu besar dan rantai serta setumpuk kain.


Wang Tian Sin mengikuti Xin Dong dari belakang dan berhenti saat gurunya menghentikan langkah.


Xin Dong mengulurkan tangannya, meminta Wang Tian Sin menyerahkan pedangnya karena kali ini senjata tersebut tak akan berguna. Dengan berat hati Wang Tian Sin menyerahkan pedang naga bumi ke tangan Xin Dong.


Xin Dong menerima pedang tersebut dengan senyuman sebelum menggantungnya di pinggang. Setelah itu, Xin Dong mengambil rantai berat dan mengalungkannya ke leher Wang Tian Sin. Beberapa rombi batu juga dipakaikan di tubuh pemuda tersebut hingga Wang Tian Sin merasa dirinya membawa beban tiga kali lebih berat dari bobot tubuhnya.


"Gunakan kemampuanmu dan ambil barang dari Lu Yuan di kaki gunung. Dalam seratus tarikan napas kau harus kembali ke tempat ini. Jika gagal kau harus mengulangi sampai berhasil." Xin Dong memberi perintah.


Wang Tian Sin mengangguk paham, "murid mengerti."

__ADS_1


Xin Dong membalas dengan anggukan lalu meminta Wang Tian Sin mulai bergerak.


Dengan segenap kemampuannya Wang Tian Sin mulai bergerak ke kaki gunung untuk menemui Lu Yuan. Beban berat di tubuhnya membuatnya cukup kesulitan.


Butuh empat puluh tarikan napas bagi Wang Tian Sin untuk sampai di kaki gunung dan mengambil sebuah batu seukuran anak sapi dari Lu Yuan. Saat Wang Tian Sin naik dengan susah payah, beberapa anggota partai istana pedang mengganggunya.


"Minggir kalian," ucap Wang Tian Sin dingin.


Beberapa pemuda yang mengganggunya hanya tertawa sebelum menepi setelah membuang waktu Wang Tian Sin selama sepuluh tarikan napas.


Walau hanya sepuluh tarikan napas, itu sangat berarti bagi Wang Tian Sin karena telat satu tarikan napas saja akan membuatnya mengulangi ini semua.


Gelak tawa dari kumpulan pemuda itu mereda saat Wang Tian Sin sudah jauh dari pandangan mereka.


Di sepanjang jalan, Wang Tian Sin mengumpat dalam hatinya karena seratus tarikan napas berlalu tetapi ia baru sampai di gerbang perguruan. Dan saat tarikan napas ke 125 baru Wang Tian Sin sampai di tempat Xin Dong berada.


"Ulangi."


Sebelum Wang Tian Sin mengatakan satu kata pun, Xin Dong memerintahkan untuk mengulanginya. Wang Tian Sin mengangguk dan kali ini menambah kecepatannya.

__ADS_1


__ADS_2